Piala Dunia 2026: Panas Ekstrem Jadi Lawan Berat, Jadwal Malam Tak Cukup
Baca dalam 60 detik
- Sebanyak 14 dari 16 kota tuan rumah Piala Dunia 2026 berpotensi mengalami suhu ekstrem di atas ambang batas WBGT 28°C, mengancam kesehatan pemain dan penonton.
- FIFA hanya menyediakan jeda hidrasi tiga menit per babak dan baru mengambil tindakan pada WBGT 32°C, jauh di atas rekomendasi ahli yang menganggap 28°C sudah berbahaya.
- Tanpa perubahan kebijakan yang signifikan, turnamen ini bisa menjadi ujian adaptasi olahraga global terhadap perubahan iklim, dengan risiko cedera dan penurunan performa yang nyata.

Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko menghadapi ancaman serius: gelombang panas ekstrem yang tidak hanya menguras fisik pemain, tetapi juga membahayakan puluhan ribu penonton yang berdesakan di luar stadion. Meski FIFA telah menggeser jadwal pertandingan ke sore atau malam hari, para ilmuwan memperingatkan bahwa langkah itu masih jauh dari cukup.
Turnamen sepak bola terbesar sepanjang masa ini akan mempertemukan 48 tim nasional mulai 11 Juni 2026. Sebagian besar laga digelar di negara bagian yang dikenal memiliki suhu tinggi, seperti Texas, California, dan Florida. Risiko kebakaran hutan juga ikut membayangi beberapa lokasi. Bukti nyata dampak panas sudah terlihat pada Piala Dunia Antarklub FIFA 2025 yang menggunakan venue serupa. Pelatih Borussia Dortmund, Niko Kovač, menggambarkan kondisi di Cincinnati seperti “baru keluar dari sauna”, sementara gelandang Chelsea Enzo Fernández menyebutnya “sangat berbahaya” karena memperlambat segalanya.
Data historis menunjukkan bahwa panas ekstrem bukan sekadar masalah kenyamanan. Studi mengungkapkan bahwa pemain menempuh jarak lebih pendek, mengurangi sprint intensitas tinggi, dan lebih cepat lelah dalam suhu tinggi. Akibatnya, kesalahan dan cedera meningkat, bahkan pertandingan cenderung berakhir adu penalti karena tim kelelahan. Wasit asal Guatemala, Humberto Panjoj, bahkan pingsan saat memimpin laga Copa América 2024 di Kansas City akibat sengatan panas.
FIFA memang telah menggeser jadwal pertandingan di kota-kota terpanas dan stadion tanpa AC ke luar jam puncak panas. Namun, risiko tetap tinggi. Pertandingan pukul 17.00 dan 18.00 di Miami dan Kansas City memiliki probabilitas lebih dari 30% melampaui WBGT 28°C, dan bisa naik di atas 50% jika suhu lebih panas dari rata-rata. Final yang dijadwalkan pukul 15.00 di MetLife Stadium juga berisiko, dengan probabilitas 30% pada musim panas tipikal dan 55% pada musim panas ekstrem.
Yang lebih mengkhawatirkan, perkiraan itu mungkin terlalu konservatif. Gelombang panas ekstrem seperti yang melanda Amerika Utara pada 2021—yang memecahkan rekor hingga 4°C—bisa mendorong kota-kota yang relatif aman seperti Seattle, Toronto, dan Vancouver ke zona berbahaya. Sementara itu, kota-kota seperti Miami, Kansas City, dan Philadelphia akan mengalami panas malam yang berkepanjangan.
Bahkan stadion ber-AC pun tidak menyelesaikan masalah. Ratusan ribu penonton harus menghabiskan waktu berjam-jam di luar ruangan saat bepergian, mengantre, dan merayakan. Banyak dari mereka adalah penggemar yang lebih tua, kurang bugar, atau berasal dari iklim sejuk tanpa aklimatisasi. Konsumsi alkohol juga memperparah dehidrasi. Risiko kesehatan publik ini melampaui batas lapangan hijau.
Kebijakan panas FIFA saat ini dinilai sangat terbatas. Hanya ada jeda hidrasi tiga menit di pertengahan setiap babak, dan tindakan baru diambil saat WBGT mencapai 32°C—angka yang oleh para ahli dianggap sudah sangat berbahaya. Sebuah surat terbuka dari ilmuwan dan pakar medis mendesak FIFA untuk memperkuat perlindungan, termasuk menggandakan waktu istirahat menjadi enam menit, menurunkan ambang batas intervensi, dan menetapkan aturan yang lebih jelas untuk menunda atau membatalkan pertandingan.
FIFA sebenarnya memiliki wewenang untuk menunda laga jika WBGT melampaui 32°C, namun hingga kini belum pernah melakukannya. Langkah ini menjadi krusial mengingat tren pemanasan global yang semakin tidak terkendali. Untuk konteks Indonesia, meski tidak menjadi tuan rumah, turnamen ini menjadi pengingat betapa rentannya olahraga terhadap perubahan iklim. Federasi sepak bola nasional dan penyelenggara liga di Indonesia perlu mulai menyusun protokol panas, terutama untuk pertandingan di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya yang kerap mengalami suhu tinggi.
Ke depan, Piala Dunia 2026 bisa menjadi titik balik dalam adaptasi olahraga global terhadap iklim yang memanas. Seperti yang terjadi pada Qatar 2022 yang digelar di musim dingin, dan kemungkinan besar akan terulang untuk Arab Saudi 2034, pergeseran kalender turnamen mungkin menjadi keniscayaan. Namun, untuk saat ini, pertanyaan besarnya adalah: apakah FIFA akan mengambil tindakan nyata sebelum para pemain dan penggemar benar-benar menjadi korban panas bumi?


:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/6718602/original/081755600_1779534644-BL1_1011.jpg.jpeg)