Mengubah Esai dari Momok Menjadi Terapi: Cara Baru Melawan Stres Akademik dan Ketergantungan AI
Baca dalam 60 detik
- Dosen Nipissing University, Kanada, merancang mata kuliah yang menjadikan penulisan esai sebagai sarana meningkatkan kesejahteraan mental mahasiswa, bukan sekadar beban akademik.
- Tiga metode jurnal terbukti efektif: menulis tiga hal baik setiap hari, membayangkan versi terbaik diri, dan menambahkan unsur kreativitas seperti puisi atau komik.
- Pendekatan ini menawarkan alternatif bagi mahasiswa yang tergoda menggunakan AI untuk menyelesaikan tugas, karena esai reflektif tidak bisa didelegasikan ke mesin.

Menulis esai selama ini identik dengan tekanan dan kecemasan bagi banyak mahasiswa. Namun, sebuah inovasi pengajaran di Nipissing University, Kanada, justru membalikkan paradigma tersebut: tugas esai dikonversi menjadi alat untuk menjaga kesehatan mental. Langkah ini sekaligus menjadi tameng terhadap ketergantungan pada kecerdasan buatan (AI) yang kian marak di kalangan akademisi.
Inisiatif ini lahir dari keprihatinan terhadap tingginya angka depresi dan kecemasan di kalangan mahasiswa. Alih-alih menjadi sumber stres, aktivitas menulis—khususnya esai reflektif—diharapkan mampu menjadi medium penyembuhan. Sang pengajar, yang juga penulis artikel, merancang mata kuliah bahasa Inggris yang mengintegrasikan teknik menulis jurnal berbasis bukti ilmiah. Tujuannya sederhana: membuktikan bahwa menulis bisa lebih dari sekadar memenuhi tuntutan akademik.
Setidaknya ada tiga metode jurnal yang diadopsi dalam perkuliahan tersebut. Pertama, teknik "tiga hal baik" yang dipopulerkan psikolog Martin Seligman. Mahasiswa diminta menuliskan tiga peristiwa positif yang terjadi setiap hari dan peran mereka di dalamnya. Riset menunjukkan praktik ini mampu meningkatkan kebahagiaan dan menekan gejala depresi hingga enam bulan. Kedua, metode "versi terbaik diri" dari Laura A. King, di mana mahasiswa membayangkan masa depan ideal mereka. Cara ini memicu motivasi tanpa harus mengorek luka masa lalu. Ketiga, penulisan jurnal kreatif—mengubah keseharian menjadi komik, cerita fantasi, atau bahkan haiku tentang pasta gigi. Studi terhadap 600 remaja oleh Tamlin Conner membuktikan bahwa kreativitas dalam menulis jurnal secara langsung meningkatkan kesejahteraan keesokan harinya.
Yang menarik, para ilmuwan belum sepenuhnya memahami mekanisme di balik manfaat menulis bagi kesehatan mental. Namun, temuan dari mahasiswa yang mengikuti mata kuliah ini justru berpotensi membantu mengungkap misteri tersebut. Melalui esai, mereka merefleksikan proses, melaporkan hasil, dan merumuskan hipotesis sendiri. Ini membuka peluang riset partisipatif yang langka.
Inspirasi juga datang dari para sastrawan. L. M. Montgomery, penulis Anne of Green Gables, diketahui menggunakan buku harian untuk mengatasi tekanan mental yang dialaminya. "Saya merasa lebih baik setelah menumpahkan semuanya lewat tulisan. Cara ini hampir sama manjurnya dengan memaki, tetapi jauh lebih terhormat," tulisnya pada 1904. Di Indonesia, Soe Hok Gie pun menulis Catatan Seorang Demonstran sebagai sarana pencarian kedamaian batin di tengah gejolak politik. Kedua figur ini dijadikan mentor imajiner bagi mahasiswa untuk melihat bahwa menulis personal adalah praktik yang dalam dan kreatif.
Pendekatan lain yang digunakan adalah "Poetry Pharmacy" ala William Sieghart di Inggris. Puisi-puisi tertentu dikurasi dan "diresepkan" untuk kondisi psikologis seperti rasa tidak aman, penyesalan, atau kesepian. Mahasiswa diajak menemukan puisi yang relevan dengan pengalaman mereka, lalu menulis esai tentang proses tersebut. Mereka bahkan menempelkan puisi di cermin, menjadikannya wallpaper ponsel, atau membagikannya kepada teman. Metode ini mengembalikan kegembiraan dalam mempelajari sastra, yang sering hilang akibat pendekatan teknis seperti technique spotting.
Di tengah maraknya penggunaan AI generatif untuk menyelesaikan tugas, pendekatan ini menawarkan antitesis yang kuat. Esai yang menuntut refleksi diri, pengalaman pribadi, dan koneksi emosional dengan karya sastra tidak bisa diserahkan begitu saja kepada mesin. "Menulis tentang dunia batin sendiri, menemukan bukti nyata dari pengalaman pribadi, serta menggunakan sastra untuk menerangi jalan pertumbuhan personal merupakan tugas-tugas yang tidak bisa diserahkan begitu saja kepada AI," tulis pengajar dalam artikelnya. Dengan kata lain, esai yang bermakna justru menjadi benteng terakhir melawan dehumanisasi pendidikan.
Bagi Indonesia, di mana tekanan akademik dan isu kesehatan mental mahasiswa kian mengemuka, model pengajaran seperti ini patut dipertimbangkan. Kurikulum bahasa dan sastra Indonesia bisa mengadopsi teknik jurnal reflektif dan Poetry Pharmacy dengan menggunakan karya-karya lokal, seperti puisi Chairil Anwar atau catatan harian Pramoedya Ananta Toer. Pertanyaannya, akankah perguruan tinggi di Indonesia berani keluar dari zona nyaman dan menjadikan esai bukan lagi momok, melainkan obat?



