Bahaya Konsultasi AI: Pakar Peringatkan Dampak pada Psikologi Remaja
Baca dalam 60 detik
- Seorang remaja di Jepang melaporkan ayahnya ke pusat konseling anak setelah mengikuti saran ChatGPT, memicu kekhawatiran tentang penggunaan AI sebagai konselor.
- Survei pemerintah Jepang menunjukkan lebih dari separuh remaja putri menggunakan AI untuk curhat, padahal AI hanya dirancang tampak empati tanpa pemahaman konteks.
- Pakar keamanan informasi menekankan pentingnya interaksi manusia dan kemampuan berpikir kritis anak, bukan ketergantungan pada AI yang bisa menyesatkan.

Seorang gadis 18 tahun di Jepang melaporkan ayahnya sendiri ke pusat konseling anak setelah mengikuti saran dari ChatGPT, yang berujung pada penangkapan dan pengunduran diri manajer tim bisbol Yomiuri Giants, Shinnosuke Abe. Kasus ini membuka mata publik tentang bahaya penggunaan kecerdasan buatan (AI) sebagai pengganti konseling manusia, terutama di kalangan remaja yang rentan.
Menurut survei Komisi Konsumen Kantor Kabinet Jepang, semakin banyak anak muda yang beralih ke AI generatif untuk mencari nasihat. Lebih dari separuh responden perempuan berusia 10β19 tahun mengaku menggunakan AI untuk "mencari saran tentang kekhawatiran mereka". Profesor Isao Echizen dari Institut Informatika Nasional Jepang, pakar keamanan informasi, mengingatkan bahwa AI seperti ChatGPT hanya memberikan ilusi empati. "AI dirancang untuk tampak peduli, tetapi sebenarnya tidak memahami latar belakang emosional atau dinamika keluarga yang kompleks," ujarnya.
Dalam kasus Abe, sang anak memberikan perintah sederhana ke ChatGPT yang kemudian menyarankan untuk menghubungi pusat konseling anak. Echizen menilai bahwa jika sang anak berkonsultasi dengan anggota keluarga yang lebih memahami situasi, hasilnya mungkin berbeda. "Kekerasan memang tidak bisa dibenarkan, tetapi AI hanya memiliki akses terbatas pada informasi latar. Dengan instruksi sederhana, AI bisa menghasilkan respons yang terlalu langsung," jelasnya.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di Jepang. Di Indonesia, penggunaan AI seperti ChatGPT juga marak di kalangan pelajar, baik untuk tugas sekolah maupun curhat. Psikolog anak dan remaja, Nurul Aini, mengingatkan bahwa konseling dengan AI bisa berbahaya karena tidak mampu membaca isyarat nonverbal atau memberikan dukungan emosional yang tepat. "Remaja Indonesia yang kesulitan berkomunikasi dengan orang tua mungkin tergoda untuk curhat ke AI. Padahal, AI tidak bisa menggantikan pelukan atau nasihat yang kontekstual," katanya.
Echizen juga menyoroti risiko lain: anak-anak cenderung percaya begitu saja pada informasi dari AI. "Mereka kehilangan kemampuan berpikir kritis dan cenderung menerima semua yang dikatakan AI sebagai kebenaran," ujarnya. Ia menyarankan agar anak-anak sejak dini dibiasakan berinteraksi dengan manusia, bukan mesin, untuk mengembangkan wawasan dan empati. "Orang dewasa pun sering mengambil jalan pintas, apalagi anak-anak. Mereka perlu kemampuan untuk berpikir sendiri dan membedakan mana yang benar," tambahnya.
Pemerintah Jepang sendiri mulai mempertimbangkan regulasi penggunaan AI di kalangan anak di bawah umur. Sementara itu, di Indonesia, Kementerian Komunikasi dan Informatika tengah menyusun pedoman etika AI yang mencakup perlindungan anak. Pertanyaan besarnya: mampukah orang tua dan sekolah membendung gelombang ketergantungan pada AI sebelum terlambat?



