Studi Ungkap 8 Pengawet Makanan Umum Picu Hipertensi dan Penyakit Jantung
Baca dalam 60 detik
- Penelitian terhadap 112.395 partisipan menemukan kaitan antara konsumsi pengawet non-antioksidan dengan peningkatan risiko hipertensi dan penyakit kardiovaskular.
- Meski bersifat observasional, temuan ini mendorong badan regulasi seperti FDA dan EFSA untuk mengevaluasi ulang keamanan bahan tambahan pangan.
- Ahli gizi menyarankan pengurangan makanan ultraproses dan beralih ke bahan segar sebagai langkah awal menekan asupan pengawet.

Sebuah studi yang diterbitkan di European Heart Journal mengungkap bahwa delapan jenis pengawet makanan yang umum digunakan dalam produk olahan berpotensi meningkatkan tekanan darah dan risiko penyakit jantung. Temuan ini menjadi peringatan baru bagi konsumen di tengah maraknya konsumsi makanan ultraproses (UPF) secara global.
Penelitian yang menggunakan data dari proyek NutriNet-Santé di Prancis ini melibatkan lebih dari 112.000 partisipan dengan rata-rata usia 42,8 tahun. Selama hampir delapan tahun masa pemantauan, para ilmuwan mengidentifikasi 58 jenis pengawet yang dikonsumsi partisipan, namun hanya 17 di antaranya yang dikonsumsi oleh setidaknya 10% peserta. Fokus utama studi ini adalah pada pengawet non-antioksidan—bahan yang berfungsi membunuh mikroba—yang terbukti berkaitan dengan peningkatan insiden hipertensi dan penyakit jantung koroner.
Yang menarik, hubungan ini tetap signifikan meskipun para peneliti telah memperhitungkan berbagai faktor seperti usia, jenis kelamin, indeks massa tubuh, aktivitas fisik, kebiasaan merokok, serta asupan buah, sayur, alkohol, dan garam. Artinya, efek buruk pengawet tidak semata-mata disebabkan oleh pola makan yang buruk secara keseluruhan. “Tidak ada interaksi statistik antara kualitas diet atau konsumsi UPF dengan temuan ini,” tulis para penulis, menegaskan bahwa pengawet memiliki dampak independen terhadap kesehatan jantung.
Di antara pengawet yang paling sering dikonsumsi, kalium sorbat (E202) menjadi satu-satunya yang secara spesifik terkait dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular. Sementara itu, beberapa pengawet lain seperti natrium benzoat dan natrium nitrit juga menunjukkan kaitan dengan hipertensi. Para peneliti menekankan bahwa studi ini bersifat observasional sehingga belum bisa membuktikan hubungan sebab-akibat. Namun, mereka mendesak badan regulasi seperti FDA dan EFSA untuk mengevaluasi ulang keamanan bahan tambahan ini dengan mempertimbangkan keseimbangan antara manfaat pengawetan dan potensi risikonya terhadap kesehatan jantung.
Bagi Indonesia, temuan ini relevan mengingat tingginya konsumsi makanan olahan di perkotaan. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan prevalensi hipertensi di Indonesia mencapai 34,1% pada 2018, dan penyakit jantung masih menjadi penyebab kematian utama. Makanan seperti mi instan, saus kemasan, daging olahan, dan minuman bersoda—yang banyak mengandung pengawet—menjadi bagian dari keseharian masyarakat. Dr. Federica Amati, peneliti dari Imperial College London, menyarankan langkah sederhana: “Kurangi makanan ultraproses, ganti daging olahan dengan daging putih segar, dan pilih minuman tanpa pemanis atau fermentasi seperti kombucha.” Ia juga mengingatkan pentingnya membaca label kemasan untuk memilih produk dengan bahan tambahan minimal.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah regulator di Indonesia—seperti BPOM—akan merespons temuan ini dengan memperketat ambang batas penggunaan pengawet tertentu. Dengan bukti yang terus bertumpuk, mungkin sudah saatnya konsumen lebih kritis terhadap apa yang masuk ke piring mereka.



