Jepang Seragamkan Peringatan Bencana: Level 1-5 untuk Banjir, Longsor, dan Gelombang Pasang
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah Jepang mulai menerapkan sistem peringatan bencana terpadu dengan level risiko 1 hingga 5, menggantikan istilah yang sebelumnya berbeda antar jenis bencana.
- Level 4 dan 5 kini langsung merujuk pada tindakan evakuasi, seperti perintah evakuasi (level 4) dan jaminan keselamatan darurat (level 5), untuk mengurangi kebingungan warga.
- Longsor dipisahkan dari kategori hujan lebat dan mendapat peringatan khusus level 4, dengan standar baru yang diharapkan mengurangi peringatan palsu yang sering terjadi sebelumnya.

Mulai 28 Mei, Jepang resmi mengoperasikan sistem peringatan cuaca bencana yang diseragamkan untuk empat jenis ancaman: banjir sungai, hujan lebat, tanah longsor, dan gelombang pasang. Dengan sistem baru ini, pemerintah menggunakan istilah dan level risiko 1 hingga 5 yang sama untuk semua jenis bencana, menggantikan istilah yang sebelumnya berbeda dan sering membingungkan masyarakat.
Sebelumnya, peringatan bencana menggunakan ekspresi yang tidak seragam, sehingga warga sulit memahami tingkat bahaya dan kapan harus mengungsi. Kritik pun muncul karena informasi peringatan tidak terhubung jelas dengan perintah evakuasi dari pemerintah daerah. Sistem baru ini menjembatani kesenjangan tersebut dengan menyelaraskan level risiko dengan tindakan evakuasi yang direkomendasikan.
Dalam sistem baru, level 5 disebut "Peringatan Darurat", level 4 adalah "Peringatan Mendesak" (istilah baru), level 3 adalah "Peringatan", level 2 adalah "Advisori", dan level 1 adalah "Advisori Awal" yang dikeluarkan jika fenomena berbahaya diprakirakan terjadi dalam lima hari ke depan. Skala 1-5 ini langsung terkait dengan indikator evakuasi pemerintah daerah: level 5 berarti bahaya bagi jiwa dan membutuhkan tindakan penyelamatan segera, level 4 berarti perintah evakuasi, level 3 berarti evakuasi untuk lansia dan kelompok rentan.
Salah satu perubahan signifikan adalah pemisahan peringatan tanah longsor dari kategori hujan lebat. Sebelumnya, longsor termasuk dalam peringatan hujan lebat, sehingga informasi kurang spesifik. Kini, peringatan longsor level 4 akan dikeluarkan secara khusus. Standar penerbitan peringatan longsor juga diubah: peringatan level 3 hanya akan dikeluarkan jika kondisi diprakirakan mencapai level 4. Ini untuk mengurangi peringatan palsu yang sering terjadi di masa lalu, di mana peringatan level 3 menyebabkan lansia mengungsi dini namun kondisi tidak memburuk hingga perintah evakuasi dikeluarkan.
Menurut perwakilan Badan Meteorologi Jepang, "Ketika situasi mencapai level 5, mungkin sudah berbahaya bahkan untuk pergi ke tempat pengungsian. Kami ingin warga mengungsi segera pada level 3 atau 4." Pernyataan ini menekankan pentingnya tindakan dini sebelum bahaya mencapai puncak.
Naoya Sekiya, profesor spesialis informasi bencana dari Universitas Tokyo, mengingatkan bahwa meskipun level dan istilah telah diseragamkan, cara warga mengungsi tidak berubah. "Agar masyarakat dapat merespons dengan cara terbaik saat bencana, mereka perlu memahami risiko di sekitar rumah menggunakan peta bahaya dan memeriksa lokasi serta rute evakuasi. Dasar-dasar kesiapsiagaan semacam itu tidak berubah," ujarnya.
Bagi Indonesia, sistem peringatan bencana terpadu seperti ini relevan mengingat tingginya risiko bencana hidrometeorologi di tanah air. Saat ini, Indonesia masih menggunakan istilah peringatan dini yang bervariasi antar lembaga, seperti peringatan dini cuaca ekstrem dari BMKG dan status siaga dari BNPB. Adopsi sistem level risiko yang seragam dapat membantu masyarakat lebih cepat memahami tingkat ancaman dan mengambil tindakan evakuasi yang tepat. Namun, tantangan utama tetap pada sosialisasi dan pemahaman publik terhadap sistem tersebut, serta koordinasi antar lembaga terkait.
Ke depan, efektivitas sistem baru Jepang akan diuji saat musim hujan dan topan mendekat. Pertanyaan kuncinya: apakah penyederhanaan ini benar-benar mengurangi kebingungan dan meningkatkan kepatuhan evakuasi, atau justru menimbulkan tantangan baru dalam implementasi di lapangan?



