Rapor 11 Pemain Naturalisasi di BRI Super League 2025/2026: Thom Haye Bersinar, Rafael Struick Terpuruk
Baca dalam 60 detik
- Sebanyak 11 pemain naturalisasi meramaikan BRI Super League 2025/2026, dengan Persib Bandung menjadi juara setelah unggul head-to-head atas Borneo FC.
- Thom Haye dan Eliano Reijnders tampil konsisten dan menjadi kunci keberhasilan Persib, sementara Jordi Amat sukses beradaptasi di posisi baru bersama Persija Jakarta.
- Rafael Struick mencatatkan musim tanpa gol atau assist dalam 21 penampilan bersama Dewa United, menjadikannya pemain naturalisasi dengan performa paling mengecewakan.
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/7015200/original/088152800_1779788108-Rafa__thom__dan_jordi.jpg)
BRI Super League 2025/2026 telah usai dengan Persib Bandung keluar sebagai juara setelah persaingan ketat melawan Borneo FC Samarinda yang hanya kalah dalam rekor head-to-head. Di balik drama perebutan gelar, musim ini juga menjadi ajang pembuktian bagi para pemain naturalisasi yang memperkuat klub-klub Indonesia. Dari total 11 pemain yang berlaga, beberapa tampil gemilang, sementara lainnya justru mengecewakan.
Thom Haye menjadi bintang di lini tengah Persib. Gelandang berusia 29 tahun itu tampil konsisten sepanjang musim dan berhasil masuk dalam Best XI BRI Super League 2025/2026. Kontribusinya tidak hanya dalam distribusi bola, tetapi juga dalam menjaga keseimbangan tim. Rekan setimnya, Eliano Reijnders, juga layak mendapat sorotan. Pemain serbabisa itu mampu tampil optimal di berbagai posisi, baik sebagai bek sayap maupun gelandang, menunjukkan fleksibilitas yang menjadi aset berharga bagi Maung Bandung.
Jordi Amat, yang kini membela Persija Jakarta, juga menunjukkan adaptasi impresif. Meski berusia 33 tahun, ia mampu bermain apik sebagai gelandang bertahan, posisi yang relatif baru baginya. Pengalamannya di level internasional membantu Persija dalam mengatur ritme permainan. Sementara itu, Layvin Kurzawa, meski lebih sering menjadi sorotan karena aksinya saat pawai juara, juga memberikan kontribusi di lapangan dengan pengalaman Eropanya.
Namun, tidak semua pemain naturalisasi menuai kesuksesan. Rafael Struick menjadi contoh paling mencolok. Pemain berusia 23 tahun yang sebelumnya memperkuat Brisbane Roar itu gagal memberikan kontribusi berarti bagi Dewa United. Dalam 21 pertandingan, ia tidak mencatatkan satu gol atau assist pun. Catatan ini menjadikannya pemain naturalisasi dengan performa paling buruk musim ini. Minimnya kontribusi ofensif membuat posisinya di starting eleven sering dipertanyakan.
Di sisi lain, beberapa pemain seperti Dion Markx dan Jens Raven justru kesulitan mendapatkan menit bermain yang cukup. Mereka jarang diturunkan oleh pelatih klub masing-masing, sehingga belum bisa menunjukkan kemampuan maksimal. Hal ini menjadi catatan tersendiri bagi proses naturalisasi pemain ke depan, di mana kualitas dan kesiapan bermain harus menjadi pertimbangan utama.
Musim depan, tantangan bagi para pemain naturalisasi akan semakin besar. Persaingan di BRI Super League diprediksi semakin ketat, terutama dengan hadirnya pemain asing berkualitas. Pertanyaan yang muncul: mampukah Rafael Struick bangkit dari keterpurukan? Akankah Dion Markx dan Jens Raven mendapatkan kepercayaan lebih? Atau justru akan ada pemain naturalisasi baru yang bersinar? Jawabannya hanya akan terjawab di musim 2026/2027.



