Hun Many ke Megawati: Pancasila Kunci Persatuan Indonesia yang Kami Kagumi
Baca dalam 60 detik
- Deputi PM Kamboja Hun Many mengungkapkan kekaguman terhadap Pancasila yang dinilainya mampu menyatukan Indonesia yang majemuk.
- Kamboja ingin mempelajari pengalaman Indonesia dalam membentuk identitas dan karakter bangsa pasca perang saudara, terutama bagi generasi muda.
- Pertemuan ini membuka peluang kerja sama bilateral melalui program pertukaran pemuda, riset bersama, dan pengembangan model penanaman nilai kebangsaan seperti Paskibraka.

Deputi Perdana Menteri Kamboja Hun Many secara khusus menemui Ketua Dewan Pengarah BPIP Megawati Soekarnoputri di kediamannya di Jalan Teuku Umar, Jakarta, Senin (28/7), untuk menyatakan kekagumannya terhadap Pancasila sebagai ideologi yang mampu mempersatukan Indonesia di tengah keberagaman suku, agama, dan budaya.
Pertemuan yang berlangsung tertutup itu dihadiri oleh Dewan Pakar BPIP Bidang Strategi Hubungan Luar Negeri Darmansjah Djumala. Dalam keterangannya, ia mengatakan bahwa Hun Many secara khusus menyoroti komitmen bangsa Indonesia terhadap Pancasila sebagai perekat sosial yang telah teruji. โKamboja sangat menghargai peran Indonesia dalam menciptakan perdamaian bagi bangsa Kamboja yang pernah dilanda perang saudara,โ ujar Djumala mengutip pernyataan Hun Many.
Bagi Kamboja, Indonesia bukan sekadar tetangga regional. Negara yang pernah porak-poranda oleh konflik internal pada era 1970-an itu melihat Indonesia sebagai laboratorium hidup dalam membangun persatuan dari keberagaman. Hun Many disebutkan memiliki pemahaman mendalam tentang sejarah pembentukan bangsa Kamboja, dan kini tengah berupaya memperkuat identitas nasional serta karakter generasi mudanya agar persatuan tetap terjaga.
Maka, ia melihat Pancasila bukan semata doktrin negara, melainkan pengalaman konkret yang bisa dipelajari. Dalam pertemuan itu, Megawati menekankan bahwa Pancasila sejatinya bersifat universal dan dapat diadaptasi oleh bangsa lain sesuai konteks sosial-budaya masing-masing. Ia bahkan kerap diundang oleh pemimpin negara lain untuk berbagi praktik terbaik tentang bagaimana Indonesia bertahan sebagai satu kesatuan meskipun memiliki lebih dari 1.300 suku dan ratusan bahasa daerah.
Lebih jauh, Megawati juga menyinggung soal Konferensi Asia Afrika (KAA) yang pertama kali digelar di Bandung pada 1955. Ia menilai nilai-nilai KAA masih relevan dan mengusulkan penyelenggaraan KAA II untuk memperkuat kerja sama antarbangsa. Kamboja, sebagai salah satu peserta KAA 1955, dinilai memiliki peran strategis dalam merealisasikan gagasan itu.
Djumala menambahkan bahwa kedua negara membahas kemungkinan program pertukaran pemuda, joint research, dan konferensi akademik bertema persatuan dalam keberagaman. โKhusus terkait penanaman nilai kebangsaan, Indonesia dapat berbagi pengalaman melalui program Paskibraka dan pengangkatan alumninya sebagai Duta Pancasila,โ ungkapnya.
Bagi Indonesia, kedekatan dengan Kamboja di bidang ideologi dan kebangsaan bisa menjadi panggung diplomasi lunak yang memperkuat posisi Jakarta di kawasan. Apakah nantinya model Paskibraka akan diadopsi oleh Kamboja? Dan akankah gagasan KAA II mendapat momentum nyata? Semua tergantung pada sejauh mana kedua negara serius menindaklanjuti kerja sama ini.



