Prabowo Sebut 10 Lulusan Terbaik IPDN dari Keluarga Sederhana: Tes Seleksi Berjalan Objektif
Baca dalam 60 detik
- Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan bahwa sepuluh peraih predikat terbaik di angkatan IPDN 2026 berasal dari latar belakang ekonomi kurang mampu.
- Pernyataan tersebut menegaskan sistem penerimaan IPDN dinilai mampu mengedepankan prestasi tanpa diskriminasi status sosial.
- Keberhasilan ini memperkuat wacana penerapan meritokrasi di lingkungan birokrasi Indonesia untuk masa depan.

Presiden Prabowo Subianto secara langsung menyampaikan bahwa dari 1.204 pamong praja muda yang baru dilantik, sepuluh lulusan terbaik angkatan XXXIII tahun 2026 seluruhnya berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi yang sangat terbatas. Pengakuan itu ia sampaikan saat memberikan amanat di Kampus IPDN Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Rabu.
Menurut laporan yang diterima Kepala Negara dari Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, para lulusan puncak tersebut terdiri atas anak buruh harian, petani, hingga prajurit bintara. Mereka berhasil menembus persaingan ketat tanpa adanya privilese finansial. "Sebelum naik podium, saya mendapat laporan bahwa 10 lulusan terbaik dari angkatan ini semuanya berasal dari keluarga yang sangat sederhana," ujar Prabowo dalam sambutannya.
Kepala Negara memandang fakta ini sebagai sinyal keberhasilan sistem seleksi yang dijalankan Kementerian Dalam Negeri. Menurutnya, mekanisme penerimaan yang adil mampu menjaring putra-putri terbaik tanpa memandang asal-usul ekonomi. "Ini membuktikan bahwa seleksi IPDN berhasil. Kita inginkan seleksinya benar, putra-putri terbaik bangsa, anak siapa pun," tambahnya.
Prabowo turut menekankan bahwa fenomena ini mencerminkan realisasi cita-cita Negara Kesatuan Republik Indonesia dan nilai-nilai Pancasila, yaitu setiap warga negara memiliki kesempatan yang sama untuk maju berdasarkan prestasi. Ia menegaskan bahwa Indonesia harus dipimpin oleh SDM unggul yang lahir dari meritokrasi, bukan dari latar belakang keluarga. "Kalau anak buruh harian bisa lulus menjadi pamong praja, siapa tahu suatu saat dia akan menjadi pemimpin hebat. Ini membuktikan bahwa NKRI berhasil, bahwa Pancasila itu benar," ujarnya.
Ke depan, pencapaian ini menjadi tolok ukur bagi institusi pendidikan aparatur lainnya. Pertanyaannya, dapatkah sistem serupa diadopsi secara luas di seluruh sekolah kedinasan dan universitas negeri untuk menciptakan birokrasi yang lebih berimbang? Keberhasilan IPDN setidaknya membuka harapan baru bagi generasi muda dari keluarga prasejahtera.



