Harga Emas Stabil di Zona Tunggu Jelang Keputusan The Fed, Investor Incar Sinyal Suku Bunga
Baca dalam 60 detik
- Harga emas bertahan di level tinggi menjelang pengumuman kebijakan The Fed, dengan probabilitas 70% bank sentral AS menahan suku bunga.
- Ketegangan geopolitik antara AS dan Iran turut mendukung permintaan emas sebagai aset safe haven.
- Bank sentral global lain seperti BOE dan BOJ diperkirakan akan mempertahankan suku bunga, sementara pasar memperkirakan kenaikan suku bunga The Fed pada September.

Harga emas bergerak stabil di zona tunggu pada perdagangan Rabu (29/7) saat pelaku pasar memusatkan perhatian pada keputusan kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat (The Fed) yang akan diumumkan malam nanti. Investor berharap pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh memberikan petunjuk arah inflasi dan suku bunga ke depan.
Spot emas tercatat hampir tidak berubah di level 4.029,08 dolar AS per ons troi pada pukul 03.01 GMT, sementara kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus turun tipis 0,2 persen menjadi 4.028,10 dolar AS. Pasar memperkirakan probabilitas 70 persen The Fed akan menahan suku bunga pada pertemuan ini, dan 30 persen kemungkinan kenaikan 25 basis poin, berdasarkan alat FedWatch. Namun, pasar sudah memperhitungkan 76 persen kemungkinan kenaikan pada September.
Analis senior pasar OANDA, Kelvin Wong, menilai bahwa pembalikan sentimen bearish emas baru akan terjadi jika The Fed mengadopsi retorika yang kurang hawkish. "Emas sangat terkait dengan pertemuan FOMC hari ini. Skenario yang dapat membalikkan bias bearish adalah jika The Fed beralih ke sikap yang lebih lunak," ujarnya. Keputusan The Fed dijadwalkan pada pukul 18.00 GMT, disusul pernyataan Warsh pada 18.30 GMT.
Di sisi geopolitik, ketegangan antara AS dan Iran kembali memanas setelah militer AS mengklaim berhasil mencegat beberapa rudal balistik yang diluncurkan Iran pada Selasa (28/7). Iran kemudian mengaku menembakkan rudal ke pangkalan udara AS dan pusat komando militer di Yordania. Situasi ini turut mendorong permintaan emas sebagai aset safe haven, meskipun penguatan dolar AS membatasi kenaikan lebih lanjut.
Sementara itu, Bank of England (BOE) dan Bank of Japan (BOJ) diperkirakan akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan pekan ini, dengan kewaspadaan terhadap inflasi yang meningkat. Kebijakan bank sentral global yang longgar umumnya mendukung harga emas, tetapi kenaikan suku bunga justru meningkatkan biaya peluang memegang logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil.
Bagi Indonesia, pergerakan harga emas global memiliki dampak langsung pada pasar investasi domestik dan industri perhiasan. Emas kerap menjadi pilihan lindung nilai inflasi bagi investor ritel di tengah ketidakpastian nilai tukar rupiah. Jika The Fed menaikkan suku bunga lebih cepat dari perkiraan, tekanan terhadap rupiah bisa meningkat, yang berpotensi mendorong harga emas dalam negeri lebih tinggi. Sebaliknya, jika TheFed tetap dovish, emas berpotensi kembali menguat.
Commerzbank pada Selasa (28/7) merevisi turun proyeksi harga emas akhir tahun menjadi 4.500 dolar AS per ons troi, sementara perak diperkirakan mencapai 67 dolar AS per ons troi. Pada penutupan perdagangan sebelumnya, perak spot naik 0,9 persen ke 57,65 dolar AS, platinum bertambah 0,3 persen ke 1.600,40 dolar AS, dan paladium turun 0,7 persen ke 1.261 dolar AS.
Ke depan, keputusan The Fed pada malam ini akan menjadi penentu arah emas jangka pendek. Jika sikap hawkish dipertahankan, emas mungkin masih tertekan dalam beberapa pekan ke depan. Namun, eskalasi geopolitik atau data ekonomi AS yang lebih lemah bisa menjadi katalis pembalikan.



