Pembunuh Bayaran Asal Samoa Mengaku di Vietnam: Target Terkait Geng Sydney
Baca dalam 60 detik
- Seorang warga Samoa mengaku disewa untuk membunuh dua orang di Ho Chi Minh City, menewaskan Lorenzo Lemalu yang terkait dengan dunia kriminal Sydney.
- Polisi Vietnam menangkap kedua pelaku dalam 72 jam di perbatasan Kamboja, menunjukkan efektivitas penegakan hukum di negara tersebut.
- Kasus ini menjadi peringatan bagi jaringan kriminal internasional yang menjadikan Vietnam sebagai basis operasi.

Seorang pria Samoa yang ditangkap polisi Vietnam atas pembunuhan warga Australia di Ho Chi Minh City mengaku telah disewa untuk melakukan eksekusi terhadap rival. Pengakuan ini terungkap dalam konferensi pers yang disiarkan televisi, menandai langka dan tegasnya penegakan hukum Vietnam terhadap kejahatan bersenjata yang melibatkan warga asing.
Lorenzo Lemalu, 24 tahun, tewas ditembak di depan sebuah restoran pada Kamis pekan lalu. Rekaman CCTV memperlihatkan sosok berkerudung melepaskan tembakan saat Lemalu tersandung di jalan. Seorang pria lain juga diduga ikut menjadi sasaran. Insiden ini tergolong luar biasa di Vietnam, di mana kepemilikan senjata api sangat dibatasi dan kejahatan terorganisir jarang melibatkan pelaku asing.
Kurang dari 72 jam setelah penembakan, Kementerian Keamanan Publik Vietnam mengumumkan penangkapan dua tersangka asal Samoa: Steve Tafia dan Vaa Vaa. Keduanya ditemukan bersembunyi di kawasan perbatasan Vietnam-Kamboja. Dalam pengakuan yang dibacakan di hadapan kamera, Tafia yang dirantai mengatakan bahwa ia dan rekannya "disewa untuk datang ke Vietnam mencari dua korban... agar teman saya menggunakan pistol untuk membunuhnya."
Meskipun pengakuan itu tampak seperti skenario yang disiapkan, Tafia juga menyampaikan peringatan kepada para pelaku kejahatan yang berniat beroperasi di Vietnam. "Melarikan diri dari polisi Vietnam adalah mustahil, dan saya menerima tanggung jawab di hadapan hukum," ujarnya. Ia menambahkan, "Tinggalkan ide itu karena Anda akan segera ditangkap oleh polisi Vietnam." Pernyataan ini memperkuat citra Vietnam sebagai negara yang keras terhadap kejahatan lintas batas.
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi pengingat akan pentingnya kerja sama regional dalam memberantas jaringan kriminal internasional. Vietnam, seperti Indonesia, memiliki hukuman berat bagi pelanggar narkotika dan kejahatan terorganisir. Namun, kasus ini menunjukkan bahwa Vietnam mampu bergerak cepat dalam menangani kejahatan bersenjata yang melibatkan warga asing, sementara Indonesia masih bergulat dengan tantangan serupa di era digital. Pertanyaan yang muncul: apakah Indonesia siap menghadapi ancaman serupa, terutama dengan maraknya kejahatan siber dan transnasional?
Ke depan, kasus ini berpotensi membuka tabir jaringan kriminal yang menghubungkan Australia, Samoa, dan Vietnam. Polisi Vietnam kemungkinan akan mengekstradisi tersangka atau bekerja sama dengan otoritas Australia untuk mengungkap dalang di balik pembunuhan ini. Bagi para pelaku kejahatan yang berpikir Vietnam adalah tempat aman untuk beroperasi, pengakuan Tafia menjadi peringatan keras: tidak ada tempat bersembunyi di negara yang semakin ketat pengawasannya.



