Derek Hough Ungkap Masa Kecil Kelam: Digantung, Diancam Pistol oleh Perundung
Baca dalam 60 detik
- Penari profesional Derek Hough mengaku kerap menjadi sasaran perundungan brutal di masa kecil, termasuk digantung di pohon dan diancam dengan senjata api.
- Tindakan kekerasan itu dipicu oleh stereotip terhadap profesi penari yang dianggap lemah di lingkungan tempat tinggalnya di Sandy, Utah.
- Kepindahan ke London pada usia 12 tahun menjadi titik balik yang memberinya rasa aman dan arah hidup baru dalam karier tarinya.

Masa kecil Derek Hough, penari profesional yang namanya melambung lewat Dancing With The Stars, tidak semulus gerakan-gerakan memukau di atas panggung. Di balik sorotan lampu dan tepuk tangan, ia menyimpan luka batin yang dalam akibat perundungan brutal yang dialaminya semasa sekolah. Dalam sebuah wawancara di podcast The Bossticks, Hough mengungkapkan bahwa ia pernah digantung di pohon dengan posisi kaki terikat, bahkan diancam dengan pistol yang diarahkan ke kepalanya oleh sekelompok perundung.
Pria berusia 41 tahun itu tumbuh di Sandy, Utah, sebuah kawasan yang menurutnya tidak ramah terhadap anak laki-laki yang memilih jalur seni tari. “Menjadi penari tidak membantu. Saya sering dipukuli habis-habisan,” kenang Hough. Ia menceritakan insiden di mana seorang murid meninju wajahnya hingga berdarah, dan ketika ia membalas, justru dirinya yang dikeluarkan dari sekolah. Perundungan tidak berhenti di lingkungan sekolah; di lingkungan tempat tinggalnya, ia menjadi sasaran aksi yang lebih mengerikan: digantung di pohon, diikat, dan diludahi sementara senjata api diarahkan ke kepalanya.
Pengalaman traumatis itu membuat Hough hidup dalam ketakutan yang konstan. “Saya adalah anak yang ketakutan. Takut pada kegelapan, takut pada bayangan saya sendiri. Saya selalu dalam keadaan waspada dan cemas,” ungkapnya. Kondisi psikologis yang rapuh ini menunjukkan betapa dalamnya dampak perundungan terhadap kesehatan mental seorang anak, terutama ketika kekerasan fisik dan ancaman senjata menjadi bagian dari keseharian.
Namun, titik balik dalam hidup Hough datang ketika orang tuanya memutuskan untuk mengirimnya ke London pada usia 12 tahun. Di sana, ia belajar tari di bawah bimbingan Corky dan Shirley Ballas—yang kini menjadi kepala juri di Strictly Come Dancing. Keputusan itu, meskipun berat, justru memberinya rasa aman yang selama ini hilang. “Begitu saya di sana, saya merasa seperti berada di jalur yang benar. Saya merasa aman. Saya punya tujuan, punya visi. Saya tahu apa yang harus saya lakukan,” katanya.
Hough bersekolah di Italia Conti Academy of Theatre Arts dan awalnya hanya berencana tinggal tiga bulan, tetapi akhirnya menetap selama satu dekade. Adiknya, Julianne Hough, yang juga seorang penari dan penyanyi, kemudian menyusul dan menempuh pendidikan di sekolah yang sama. Kisah Hough menjadi pengingat bahwa lingkungan yang suportif dan kesempatan untuk mengejar passion dapat menjadi penyelamat bagi anak-anak yang terjebak dalam lingkaran perundungan.
Di Indonesia, kasus perundungan di sekolah masih menjadi masalah yang memprihatinkan. Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menunjukkan bahwa kasus perundungan di lingkungan pendidikan masih tinggi, dengan dampak psikologis yang serius pada korban. Kisah Derek Hough bisa menjadi refleksi bagi para orang tua dan pendidik untuk lebih peka terhadap tanda-tanda perundungan dan menyediakan ruang aman bagi anak-anak untuk berkembang. Pertanyaan yang tersisa: berapa banyak anak Indonesia yang memiliki akses ke ‘London’ versi mereka sendiri—sebuah tempat yang bisa mengubah trauma menjadi kekuatan?



