Istiqlal Ubah Skema Kurban: Daging Disalurkan Lewat Jaringan Binaan, Antrean Dihapus
Baca dalam 60 detik
- Masjid Istiqlal Jakarta tidak lagi membagikan daging kurban langsung ke masyarakat umum di lokasi untuk menghindari kerumunan.
- Seluruh daging kurban akan didistribusikan melalui masjid, musala, panti asuhan, dan pesantren binaan Istiqlal.
- Skema baru ini juga membuka ruang partisipasi non-Muslim, seperti dari Gereja Katedral dan Hotel Borobudur, sebagai bentuk solidaritas kemanusiaan.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7080743/original/099475400_1779861219-30480.jpg)
Masjid Istiqlal Jakarta memutuskan untuk menghentikan tradisi pembagian daging kurban secara langsung di area masjid pada Idul Adha 1447 Hijriah. Sebagai gantinya, seluruh daging akan disalurkan melalui jaringan lembaga keagamaan dan pendidikan yang berada di bawah binaan mereka. Langkah ini diambil untuk mencegah penumpukan massa yang kerap terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.
Menteri Agama sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar, menjelaskan bahwa panitia telah menyiapkan skema distribusi terpusat. "Kita akan mendistribusikan kepada masjid dan musala binaan Istiqlal. Panti asuhan, majelis taklim, perguruan tinggi Islam, pondok pesantren, hingga madrasah yang punya relasi dengan Istiqlal," ujarnya di kawasan Masjid Istiqlal, Rabu (27/5/2026). Dengan sistem ini, masyarakat tidak perlu lagi mengantre atau mengambil kupon di lokasi.
Perubahan skema ini tidak hanya menyangkut logistik, tetapi juga membuka dimensi baru dalam praktik kurban. Nasaruddin mengungkapkan bahwa sebagian hewan kurban tahun ini berasal dari komunitas non-Muslim, termasuk Gereja Katedral Jakarta dan Hotel Borobudur. Meskipun secara syariat sumbangan tersebut tidak dianggap sebagai ibadah kurban karena pemberinya tidak beragama Islam, pihak masjid menyambutnya sebagai wujud solidaritas kemanusiaan. "Apapun agamanya, kalau memang bisa ikut berbagi, bagaimana supaya masyarakat itu terbebas daripada krisis protein pada hari-hari Idul Kurban ini, itu sangat dianjurkan sekali," tegasnya.
Bagi masyarakat Indonesia, model distribusi ini menawarkan efisiensi dan pemerataan. Alih-alih hanya menjangkau warga di sekitar masjid, daging kurban kini bisa sampai ke pesantren dan madrasah di berbagai daerah binaan. Langkah ini juga mengurangi potensi kemacetan dan risiko keamanan akibat kerumunan. Ke depannya, sistem serupa bisa diadopsi oleh masjid-masjid besar lainnya di Tanah Air untuk meningkatkan efektivitas penyaluran.
Pertanyaan yang muncul kemudian: akankah partisipasi non-Muslim dalam kurban semakin meluas? Jika ya, bagaimana regulasi dan pemahaman syariat akan menyesuaikan? Yang jelas, Istiqlal telah memberi contoh bahwa semangat berbagi bisa melampaui batas-batas ritual formal.

