Voucher Buku Madani Jadi Andalan Baru Akses Literasi Pelajar Malaysia
Baca dalam 60 detik
- Menteri Pendidikan Malaysia menegaskan program voucher buku Madani akan terus menjadi prioritas utama kementerian dalam mendorong akses literasi.
- Perdana Menteri Anwar Ibrahim mengumumkan gelontoran voucher RM100 bagi pelajar menengah dan mahasiswa di Pameran Buku Internasional Kuala Lumpur.
- Pameran buku tahun ini menghadirkan Galeri Bacaan Pemimpin Nasional yang memamerkan kebiasaan membaca para pemimpin negara.
Pemerintah Malaysia kembali menegaskan komitmennya terhadap peningkatan literasi nasional melalui program voucher buku Madani yang dinilai menjadi instrumen strategis dalam memperluas akses masyarakat terhadap bahan bacaan. Menteri Pendidikan Fadhlina Sidek menyatakan bahwa inisiatif tersebut akan terus menjadi fokus utama kementerian di tengah upaya memperkuat budaya membaca di kalangan generasi muda.
Pernyataan itu disampaikan Fadhlina saat membuka Pameran Buku Internasional Kuala Lumpur (PBAKL) ke-43, yang berlangsung di World Trade Centre Kuala Lumpur hingga 7 Juni 2026. Dalam kesempatan tersebut, Perdana Menteri Anwar Ibrahim mengumumkan pemberian voucher buku senilai 100 ringgit bagi pelajar sekolah menengah dan mahasiswa di seluruh negeri. Langkah ini merupakan kelanjutan dari program serupa yang telah berjalan sebelumnya, menunjukkan konsistensi pemerintah dalam mendorong akses buku bagi kalangan pendidikan.
Fadhlina menambahkan bahwa Perdana Menteri dikenal luas sebagai advokat aksesibilitas buku dan inisiatif voucher buku. Menurutnya, Anwar juga memberikan teladan bagi generasi muda dengan menunjukkan pentingnya membaca, terutama bagi para pemimpin nasional. Hal ini sejalan dengan tema pameran tahun ini yang menekankan peran pemimpin dalam membangun budaya literasi.
Salah satu daya tarik baru dalam pameran tahun ini adalah Galeri Bacaan Pemimpin Nasional, yang menurut Fadhlina menawarkan wawasan unik tentang kebiasaan membaca para pemimpin negara. Galeri ini diharapkan dapat menginspirasi pengunjung, khususnya pelajar, untuk meneladani minat baca para tokoh nasional. Kehadiran galeri tersebut juga menandai upaya pemerintah untuk menghubungkan figur publik dengan gerakan literasi secara lebih konkret.
Acara peluncuran pameran dihadiri oleh sejumlah pejabat tinggi, termasuk Wakil Menteri Pendidikan Wong Kah Woh, Direktur Jenderal Pendidikan Datuk Mohd Azam Ahmad, Menteri Pendidikan Tinggi Datuk Seri Dr. Zambry Abd Kadir, dan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Prof. Datuk Dr. Azlinda Azman. Kehadiran mereka menunjukkan sinergi antarlembaga dalam mendukung program literasi nasional.
Bagi Indonesia, program voucher buku Malaysia ini dapat menjadi bahan perbandingan dalam upaya meningkatkan minat baca di dalam negeri. Meskipun Indonesia memiliki program serupa seperti Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang sebagian digunakan untuk pembelian buku, pendekatan voucher langsung kepada siswa dinilai lebih efektif dalam memberikan kebebasan memilih bahan bacaan. Ke depan, model seperti ini bisa diadopsi dengan penyesuaian pada konteks lokal, terutama mengingat tantangan distribusi buku di daerah terpencil.
PBAKL 2026 sendiri diharapkan mampu menarik lebih banyak pengunjung dibanding tahun-tahun sebelumnya, seiring dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya literasi di kalangan masyarakat. Pertanyaannya, apakah program voucher ini cukup untuk mengubah kebiasaan membaca jangka panjang, atau hanya menjadi stimulus sementara?

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3938374/original/017867600_1645165607-20220218-Waspada_Cuaca_Ekstrem_di_Jakarta-5.jpg)
