Rupiah Kian Terpuruk: Mendekati Rp17.800, Melemah di Tengah Pelemahan Dolar Global
Baca dalam 60 detik
- Rupiah ditutup melemah 0,25% ke Rp17.775 per dolar AS, menembus rekor terlemah dan mendekati level psikologis Rp17.800.
- Pelemahan terjadi meski indeks dolar AS (DXY) turun, mengindikasikan tekanan domestik lebih dominan daripada sentimen global.
- Harapan damai Iran dan potensi pembukaan Selat Hormuz menekan harga minyak, namun belum cukup mengangkat rupiah.

Nilai tukar rupiah kembali mencatatkan pelemahan signifikan terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Selasa (26/5/2026), menjelang libur panjang Idul Adha. Berdasarkan data Refinitiv, mata uang Garuda ditutup di level Rp17.775 per dolar AS, melemah 0,25% dari posisi sebelumnya. Level ini sekaligus menjadi titik terendah sepanjang sejarah rupiah, mendekati level psikologis Rp17.800 yang dinilai krusial oleh para pelaku pasar.
Sepanjang sesi perdagangan, rupiah bergerak dalam tekanan. Dibuka stagnan di Rp17.730, mata uang domestik langsung berbalik melemah dan sempat menyentuh Rp17.790 sebelum akhirnya ditutup sedikit lebih tinggi. Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan jual terhadap rupiah masih kuat, meskipun indeks dolar AS (DXY) justru terpantau melemah 0,16% ke posisi 99,087 pada pukul 15.00 WIB.
Fenomena rupiah yang melemah di tengah pelemahan dolar global menjadi sinyal bahwa faktor domestik lebih dominan dalam menentukan pergerakan nilai tukar. Sentimen risiko global yang membaik, terutama dari harapan damai di Timur Tengah, belum mampu mendorong penguatan rupiah secara berarti. Pasar masih menanti langkah konkret Bank Indonesia untuk menstabilkan mata uang, sementara investor asing cenderung wait and see.
Di sisi lain, perkembangan geopolitik memberikan angin segar bagi pasar global. Negosiator utama Iran dan menteri luar negerinya dikabarkan berada di Doha untuk membahas potensi pembukaan kembali Selat Hormuz bersama perdana menteri Qatar. Presiden AS Donald Trump menyebut pembicaraan berjalan baik, namun tetap memberikan peringatan akan adanya serangan baru jika negosiasi gagal. Komando Pusat AS juga telah melakukan serangan terbatas untuk melindungi pasukannya, menunjukkan situasi masih rapuh.
Meskipun peluang kesepakatan damai dalam waktu dekat dinilai rendah, ekspektasi pasar telah mendorong harga minyak mentah turun ke bawah US$100 per barel. Penurunan harga minyak ini meredakan tekanan inflasi global dan memperbaiki minat investor terhadap aset berisiko, termasuk mata uang emerging market. Namun, rupiah tampaknya belum sepenuhnya menikmati sentimen positif ini karena faktor domestik seperti defisit transaksi berjalan dan ketidakpastian kebijakan moneter masih membebani.
Ke depan, pergerakan rupiah akan sangat bergantung pada perkembangan negosiasi Iran-AS serta respons kebijakan Bank Indonesia. Jika kesepakatan damai terwujud, tekanan terhadap rupiah bisa mereda seiring turunnya harga minyak dan membaiknya sentimen risiko. Namun, jika negosiasi gagal dan ketegangan meningkat, rupiah berpotensi menembus level Rp17.800 dan melanjutkan pelemahan.


