Rupiah Tembus Rp 17.800, Ekonom Sebut Beban Ekonomi Terpusat di Nilai Tukar
Baca dalam 60 detik
- Rupiah dibuka di level Rp 17.800 per dolar AS pada perdagangan pertama pasca-libur Idul Adha, melanjutkan tren pelemahan.
- Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas menilai rupiah sedang dalam fase overshooting akibat tekanan global dan penyesuaian domestik yang lambat.
- Pelemahan kurs diperkirakan semakin menekan sektor manufaktur, properti, dan ritel yang bergantung pada impor dan pembiayaan.

Rupiah kembali terperosok ke level psikologis Rp 17.800 per dolar AS pada perdagangan Jumat (29/5/2026), hari pertama bursa setelah libur panjang Idul Adha. Pelemahan 0,14% ini menambah deretan tekanan bagi dunia usaha yang sudah bergulat dengan biaya impor mahal dan suku bunga tinggi.
Indeks dolar AS (DXY) yang menjadi acuan global justru bergerak stabil di kisaran 98,97, menandakan bahwa depresiasi rupiah lebih dipicu faktor domestik ketimbang penguatan greenback secara luas. Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menilai situasi ini merupakan fase overshooting—pelemahan yang melampaui justifikasi fundamental jangka panjang Indonesia.
Menurut Fakhrul, pasar saat ini tidak semata-mata bereaksi terhadap data ekonomi buruk, melainkan membaca arah kebijakan, kredibilitas respons pemerintah, dan kemampuan negara menjaga stabilitas di tengah perubahan global yang cepat. "Pasar keuangan tidak hanya membaca data hari ini. Pasar membaca arah kebijakan, kredibilitas respon, dan kemampuan negara menjaga stabilitas," ujarnya.
Fakhrul menjelaskan bahwa rupiah kini menjadi "shock absorber" utama perekonomian. Dalam kondisi normal, kenaikan harga energi global akan tersebar ke inflasi, fiskal, harga domestik, dan nilai tukar. Namun, karena penyesuaian domestik dilakukan sangat hati-hati demi menjaga daya beli masyarakat, tekanan akhirnya terpusat pada kurs. "Inflasi ditahan, harga energi ditahan, tetapi tekanan ekonominya tidak hilang. Tekanan itu pindah ke kurs," jelasnya.
Konsekuensinya, sektor riil menghadapi tekanan ganda: di satu sisi biaya impor bahan baku, energi, dan logistik membengkak akibat rupiah lemah; di sisi lain biaya pembiayaan ikut naik seiring tingginya suku bunga dan yield. Sektor yang paling rentan menurut Fakhrul adalah manufaktur, properti, konstruksi, dan ritel—industri dengan leverage tinggi dan ketergantungan besar pada impor.
"Kalau kondisi seperti ini terlalu lama, perusahaan tidak hanya menghadapi tekanan margin, tetapi juga mulai menahan ekspansi, mengurangi investasi, dan lebih defensif terhadap perekrutan tenaga kerja," ujar Fakhrul. Ia menyarankan dunia usaha untuk beralih ke strategi defensif: menjaga likuiditas, mengelola risiko valas, memperkuat efisiensi, dan menghindari utang berlebih.
Meski demikian, Fakhrul melihat fase overshooting juga membuka peluang bagi perusahaan dengan neraca keuangan yang sehat. "Setiap fase overshooting biasanya juga menciptakan peluang akumulasi aset bagi pelaku usaha yang siap," katanya. Pertanyaannya, berapa lama fase ini akan bertahan dan apakah kebijakan moneter serta fiskal mampu mengembalikan kepercayaan pasar sebelum tekanan semakin meluas ke sektor riil?


