Rupiah Tembus Rekor Terlemah, Sejumlah Bank Jual Dolar di Atas Rp18.000
Baca dalam 60 detik
- Rupiah dibuka melemah 0,14% ke Rp17.800/US$ pada Jumat (29/5/2026), melanjutkan tren negatif setelah libur Idul Adha.
- Level penutupan Rp17.775/US$ pada Selasa (26/5) menjadi rekor terlemah sepanjang sejarah, mendorong bank-bank nasional menaikkan kurs jual dolar.
- Beberapa bank seperti BCA dan Mandiri sudah menjual dolar AS di atas Rp18.000, menekan daya beli masyarakat dan meningkatkan beban impor.

Nilai tukar rupiah kembali terperosok ke titik terendah sepanjang masa, mendorong perbankan nasional untuk menyesuaikan harga jual dolar Amerika Serikat hingga menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS. Pada perdagangan Jumat (29/5/2026), rupiah dibuka melemah 0,14% ke posisi Rp17.800/US$, melanjutkan tekanan yang sudah berlangsung sebelum libur panjang Idul Adha.
Data Refinitiv menunjukkan bahwa pada Selasa (26/5/2026), rupiah ditutup di level Rp17.775/US$, terdepresiasi 0,25% dari hari sebelumnya. Angka ini menjadi rekor penutupan terlemah dalam sejarah mata uang Garuda terhadap greenback. Pelemahan ini terjadi di tengah sentimen global yang masih didominasi oleh penguatan dolar AS dan ketidakpastian arah suku bunga The Fed.
Kenaikan kurs jual dolar di bank-bank besar pun tak terhindarkan. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk., misalnya, sudah mematok harga jual dolar AS di Rp18.135 per dolar pada pukul 08.59 WIB. Sementara itu, PT Bank Central Asia Tbk. menawarkan kurs jual di kisaran Rp18.050 per dolar pada pukul 09.23 WIB. Bank-bank lain seperti BNI, BRI, dan bank asing seperti UOB Indonesia, CIMB Niaga, HSBC Indonesia, serta bank Jepang juga mencatatkan kenaikan serupa, dengan beberapa di antaranya sudah menembus batas Rp18.000.
Bagi pelaku pasar dan masyarakat Indonesia, kondisi ini membawa konsekuensi langsung. Harga barang-barang impor—mulai dari bahan baku industri hingga produk konsumen—berpotensi melonjak. Perusahaan yang memiliki utang dalam dolar AS juga akan merasakan beban lebih berat. Di sisi lain, eksportir bisa mendapatkan keuntungan dari nilai tukar yang lebih kompetitif, meskipun efek positif ini mungkin tertutup oleh ketidakpastian ekonomi global.
Ekonom menilai bahwa tekanan terhadap rupiah masih akan berlanjut dalam jangka pendek, terutama jika Bank Indonesia tidak segera mengambil langkah intervensi yang lebih agresif. "Kami memperkirakan rupiah masih akan bergerak di kisaran Rp17.800–Rp18.200 dalam sepekan ke depan, tergantung pada data ekonomi AS dan sikap The Fed," ujar seorang analis pasar uang yang enggan disebutkan namanya. Ia juga mengingatkan bahwa cadangan devisa Indonesia perlu dijaga untuk mengantisipasi gejolak lebih lanjut.
Pemerintah dan Bank Indonesia sendiri sudah beberapa kali melakukan intervensi di pasar valas dan obligasi, namun efektivitasnya masih terbatas di tengah dominasi dolar global. Pertanyaannya, seberapa jauh rupiah bisa terdepresiasi sebelum fundamental ekonomi domestik benar-benar terpengaruh? Dengan tren saat ini, batas psikologis Rp18.500 per dolar AS bukan lagi sekadar skenario terburuk.


