Cadangan Devisa Asia Mulai Terkuras, Bank Sentral Gelar Intervensi
Baca dalam 60 detik
- Konflik Timur Tengah dan penguatan dolar AS memicu penurunan cadangan devisa di sejumlah negara Asia, termasuk Indonesia dan Malaysia.
- Bank sentral di kawasan melakukan intervensi untuk menahan pelemahan mata uang, namun ketahanan devisa Asia diuji oleh tekanan global yang berkelanjutan.
- Kondisi ini berpotensi mempengaruhi stabilitas pasar keuangan Indonesia dan mendorong investor untuk mencermati kebijakan moneter ke depan.

Tekanan global kembali mengguncang pasar keuangan Asia, dengan cadangan devisa sejumlah negara di kawasan mulai terkuras di tengah lonjakan harga minyak dan perburuan dolar AS oleh investor. Kondisi ini memicu intervensi bank sentral dari Malaysia hingga Indonesia untuk menahan pelemahan mata uang domestik.
Konflik Timur Tengah yang memanas telah mendorong harga minyak mentah ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir, sementara penguatan dolar AS semakin memperburuk posisi mata uang Asia. Investor global, yang cenderung menghindari risiko, ramai-ramai memburu dolar sebagai aset safe haven, sehingga meningkatkan tekanan jual terhadap mata uang emerging market.
Bank Indonesia dan Bank Negara Malaysia dilaporkan telah menggelontorkan cadangan devisa untuk menstabilkan nilai tukar masing-masing mata uang. Langkah ini serupa dengan yang dilakukan beberapa bank sentral Asia lainnya, seperti Korea Selatan dan Thailand, yang juga mengalami tekanan serupa. Namun, efektivitas intervensi ini dipertanyakan mengingat besarnya arus modal keluar dari kawasan.
Bagi Indonesia, situasi ini menjadi ujian bagi ketahanan eksternal perekonomian. Meskipun cadangan devisa masih tergolong aman, laju penurunan yang cepat dapat memicu kekhawatiran di pasar. Analis memperkirakan bahwa tekanan terhadap rupiah akan berlanjut dalam jangka pendek, terutama jika harga minyak terus meningkat dan suku bunga AS tetap tinggi.
โIntervensi bank sentral hanya memberikan bantalan sementara. Yang dibutuhkan adalah fundamental ekonomi yang kuat, termasuk menjaga inflasi dan defisit transaksi berjalan,โ ujar seorang ekonom dari lembaga riset lokal, yang enggan disebut namanya. Ia menambahkan bahwa investor akan mencermati data neraca pembayaran Indonesia pada kuartal kedua 2026.
Pertanyaan kunci yang kini mengemuka adalah seberapa lama bank sentral Asia mampu mempertahankan cadangan devisa mereka. Jika tekanan global tidak mereda, beberapa negara mungkin terpaksa menyesuaikan kebijakan moneter, termasuk menaikkan suku bunga, yang berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi.



