Perang Harga Fosil Dinosaurus: Antara Seni, Sains, dan Masa Depan Museum
Baca dalam 60 detik
- Fosil dinosaurus utuh seperti Stegosaurus 'Apex' laku US$44,6 juta di lelang, didominasi kolektor pribadi bermodal besar.
- Para ilmuwan khawatir fosil yang masuk koleksi pribadi hilang dari akses riset, menghambat pemahaman evolusi dan sejarah alam.
- Kolaborasi antara kolektor dan museum, seperti pinjaman atau donasi, dinilai sebagai solusi jangka panjang untuk menjaga nilai ilmiah fosil.

Fosil dinosaurus utuh kini menjadi komoditas bernilai tinggi di pasar seni global. Pada Juli lalu, kerangka Stegosaurus berjuluk "Apex" terjual seharga US$44,6 juta (sekitar Rp690 miliar) melalui rumah lelang Sotheby's, menjadikannya fosil dinosaurus termahal sepanjang sejarah. Pembelinya, miliarder hedge fund Ken Griffin, meminjamkan spesimen berusia 150 juta tahun itu ke American Museum of Natural History untuk dipamerkan selama empat tahun sebelum diganti dengan replika.
Transaksi ini melampaui rekor sebelumnya yang dipegang "Stan", kerangka Tyrannosaurus Rex hampir utuh yang laku US$31,8 juta di Christie's pada 2020. Stan kini menjadi koleksi Abu Dhabi Museum of Natural History yang akan dibuka akhir tahun ini. Fenomena ini menandai pergeseran signifikan: fosil dinosaurus yang dulu hanya menjadi domain museum dan peneliti, kini diburu para kolektor pribadi dengan kantong tebal.
Dari sepuluh transaksi fosil dinosaurus terbesar dalam satu dekade terakhir, hampir seluruhnya dibeli oleh kolektor pribadi. Harga rata-rata fosil utuh berkisar antara US$3,7 juta hingga US$44,6 juta.
Cliff Hartono, pemilik Set in Stone Gallery di Singapura, menuturkan bahwa film Jurassic Park (1993) memicu gelombang minat terhadap fosil. "Orang ingin memiliki potongan sejarah itu di rumah mereka sendiri," ujarnya. Hartono sendiri beralih dari eksekutif keuangan menjadi pedagang fosil setelah sering mengunjungi Natural History Museum London. Sementara itu, pengusaha teknologi asal Filipina, Ralph Wunsch, menghabiskan β¬3,2 juta untuk membeli Allosaurus dan Diplodocus pada 2018, yang kini dipajang di rumahnya dan hanya bisa diakses keluarga serta teman.
Namun, perdagangan fosil tidak legal di semua negara. Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa mengizinkan transaksi jika melibatkan lahan pribadi. Sebaliknya, China, Mongolia, Brasil, dan Argentina melarang penggalian serta penjualan fosil tanpa izin. Praktik ilegal pun marak; contoh terkenal adalah aktor Nicolas Cage yang mengembalikan tengkorak Tyrannosaurus bataar curian ke pemerintah Mongolia setelah membelinya seharga US$276.000 di lelang.
Proses penggalian dan persiapan fosil sangat rumit. Dr. Tan Swee Hee dari Lee Kong Chian Natural History Museum menceritakan pengalamannya membeli tiga fosil sauropoda dari Wyoming seharga S$8 juta. Ekavasi, persiapan, dan pembuatan rangka untuk satu fosil memakan waktu dua tahun. Pengiriman laut dari Wyoming ke Singapura dilakukan secara terpisah dalam 54 peti, dengan perjalanan masing-masing sebulan. "Jika terjadi sesuatu pada satu kontainer, saya hanya kehilangan satu, bukan tiga sekaligus," jelasnya.
Ketegangan antara akademisi dan kolektor pribadi terus memanas. Dr. Tan mengkhawatirkan pemilik fosil bisa menjualnya kapan saja, dan pembeli berikutnya mungkin menyembunyikannya di gudang tanpa akses publik. "Setidaknya museum berkomitmen memelihara spesimen untuk generasi mendatang," tegasnya. Thomas Carr dari Carthage Institute of Paleontology bahkan menyatakan, "Saya akan sangat senang jika pasar ini berhenti besok." Menurutnya, fosil adalah data; ketika menjadi barang seni di rumah pribadi, ilmu pengetahuan kehilangan informasi berharga.
Namun, ada secercah harapan. Calvin Chu, kolektor fosil asal Singapura, mengusulkan agar kolektor mewariskan koleksinya ke museum. "Anak-anak kami mungkin tidak tertarik. Dengan rekam jejak kerja sama yang baik, kolektor bisa mendonasikan koleksinya ke museum pada akhir hayat," katanya. Ini bisa menjadi jalan tengah yang mengembalikan nilai ilmiah fosil ke tangan publik.



