Teori Baru soal Asal-Usul Logat Kiwi: Auckland sebagai Kawah Pembentuk Aksen
Baca dalam 60 detik
- Peneliti linguistik menggunakan rekaman sejarah warga Auckland awal abad 20 untuk melacak evolusi aksen Selandia Baru.
- Sebuah tesis tahun 1921 yang baru ditemukan kembali menduga bahwa aksen Kiwi paling cepat berkembang di Auckland.
- Jika terbukti, temuan ini bisa mengubah pandangan tentang pengaruh Maori dan Australia terhadap logat Selandia Baru.

Sebuah penelitian linguistik yang memanfaatkan rekaman sejarah warga Auckland yang lahir sekitar pergantian abad ke-20 membuka kembali perdebatan tentang asal-usul aksen khas Selandia Baru, yang dikenal dengan logat Kiwi. Rekaman-rekaman yang disimpan di arsip suara Auckland Libraries ini memungkinkan para peneliti untuk 'mendengarkan masa lalu' dan membandingkannya dengan pengucapan modern guna melacak perubahan lintas generasi.
Pertanyaan mendasar yang coba dijawab adalah bagaimana aksen unik dengan vokal yang 'ditelan' dan bunyi 'i' datar—yang sering diejek sebagai 'fush and chups'—terbentuk. Sejak kedatangan pemukim berbahasa Inggris pada pertengahan abad ke-19, berbagai aksen dari Inggris Selatan, Skotlandia, dan Irlandia bercampur di Aotearoa. Alih-alih mengadopsi satu cara bicara 'Ratu Inggris' yang benar, terjadi proses leveling yang melahirkan aksen baru yang berbeda dari Britania maupun Australia.
Namun, banyak detail yang masih menjadi misteri. Salah satunya adalah mengapa aksen Selandia Baru relatif seragam secara regional, kecuali bunyi 'r' bergulung di Southland. Selain itu, belum diketahui apakah aksen tersebut berkembang lebih cepat di kota-kota besar. Sejauh ini, sebagian besar riset sejarah menggunakan rekaman dari penutur yang lahir di kota kecil.
Tim peneliti melihat bahwa sejarah Auckland berbeda dari distrik awal lainnya. Kota ini selalu lebih kosmopolitan, dengan pendatang dari seluruh Britania Raya, bukan dari satu daerah dominan. Populasinya juga tumbuh stabil, tanpa ledakan atau stagnasi. Kondisi ini ideal bagi aksen untuk berkembang. Rekaman dari Auckland Libraries—yang berasal dari remaja dan dewasa muda pada masa Thompson menulis—menunjukkan ciri-ciri aksen Kiwi yang sudah dikenal, meski dengan sedikit nuansa Britania atau Australia.
Jika hipotesis ini benar, implikasinya luas. Selama ini, riset sering menganggap kemiripan aksen Australia dan Selandia Baru sebagai kebetulan, dan mengasumsikan pengaruh Maori terhadap pengucapan vokal sangat kecil. Asumsi itu didasarkan pada studi yang berfokus di Pulau Selatan, di mana kontak dengan Maori dan Australia lebih terbatas. Namun, Auckland sejak awal memiliki hubungan dagang erat dengan Australia dan Maori setempat. Dengan demikian, pengaruh tersebut perlu dievaluasi ulang.
"Jika Auckland memainkan peran integral dalam pembentukan aksen, maka pengaruh Australia dan Maori mungkin lebih signifikan dari yang diperkirakan sebelumnya," ujar peneliti.
Aksen Selandia Baru terus berevolusi, dan Auckland tetap menjadi pusat perubahan. Generasi muda Auckland masih mempertahankan vokal ikonik 'fush and chups', namun mulai menyesuaikan pengucapan seperti 'seven eggs' agar lebih mudah dipahami di kota yang semakin beragam secara linguistik. Pertanyaan besarnya kini: sejak kapan Auckland mulai membentuk cara bicara warga Selandia Baru? Jika Thompson benar, jawabannya mungkin lebih awal dari yang selama ini dibayangkan.


