Zelenskyy Desak AS Percepat Pengiriman Patriot: Stok Menipis Akibat Perang Iran
Baca dalam 60 detik
- Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mendesak AS segera mengirimkan rudal Patriot tambahan untuk melawan serangan rudal balistik Rusia, menyusul surat yang belum dijawab kepada Trump dan Kongres.
- Ketergantungan Ukraina pada bantuan asing kian mendesak karena perang Iran menguras stok AS, sementara Zelenskyy menawarkan keahlian drone Ukraina sebagai imbalan.
- Kesepakatan pembelian jet tempur Gripen dari Swedia dan kerja sama drone dengan Uni Eropa menandai upaya Ukraina memperkuat pertahanan udara jangka panjang.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy kembali menekan Amerika Serikat untuk mempercepat pengiriman rudal pertahanan udara Patriot, di tengah kekhawatiran bahwa stok amunisi AS menipis akibat perang di Iran. Dalam kunjungannya ke Swedia, Kamis (29/5), Zelenskyy mengaku belum menerima tanggapan atas surat yang ia kirimkan kepada Presiden Donald Trump dan Kongres AS pekan ini, namun ia menegaskan akan terus bersikeras.
"Saya yakin (AS) harus bertindak lebih cepat. Kami sangat gigih," ujar Zelenskyy kepada wartawan di Swedia. Ia memperingatkan bahwa pengiriman rudal ke Ukraina jauh dari cukup, sementara Rusia terus menggunakan rudal balistik jarak jauh untuk menghancurkan infrastruktur listrik dan menghantam kota-kota Ukraina. Kyiv sendiri bersiap menghadapi gelombang serangan baru, meskipun Kementerian Luar Negeri Ukraina memastikan semua misi diplomatik masih beroperasi normal.
Diplomasi internasional pun bergerak. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres dalam sidang darurat Dewan Keamanan PBB memperingatkan eskalasi yang tak terkendali. Ia mencatat jumlah warga sipil yang tewas dalam empat bulan pertama tahun ini lebih tinggi dibandingkan periode yang sama dalam tiga tahun terakhir. Guterres menyerukan gencatan senjata penuh dan tanpa syarat, serta de-eskalasi segera.
Dalam kunjungannya ke Swedia, Zelenskyy mengumumkan kesepakatan pembelian 20 jet tempur Gripen generasi terbaru dengan nilai 2,5 miliar euro. Swedia juga akan menghibahkan 16 unit Gripen model lama setelah transaksi rampung. Perdana Menteri Swedia Ulf Kristersson menyatakan jet-jet itu akan tiba mulai awal tahun depan untuk model lama, sementara model baru baru tersedia pada 2030. Swedia juga akan menyediakan persenjataan, perawatan, dan pelatihan. Zelenskyy menargetkan Ukraina pada akhirnya memiliki 150 unit Gripen.
Jet tempur ini dinilai krusial untuk menghadapi pesawat Rusia yang meluncurkan bom luncur (glide bomb) dahsyat. Namun, di luar persenjataan konvensional, Ukraina juga menawarkan keahlian perang drone yang telah terbukti efektif. Kristersson mengakui Swedia "sangat antusias" belajar dari pengalaman drone Ukraina. Zelenskyy bahkan mengklaim spesialis Ukraina telah membantu negara-negara Teluk dan pangkalan militer AS di Timur Tengah memperkuat pertahanan udara selama perang Iran.
Drone Ukraina yang berpatroli di garis depan sepanjang 1.250 kilometer dan menyerang jalur pasokan Rusia telah menahan laju pasukan Moskow yang lebih besar. Menurut Institute for the Study of War, kampanye serangan drone jarak menengah dan garis depan Ukraina berhasil membatasi kemampuan Rusia mengangkut personel serta memasok dan mempertahankan posisi garis depan. Ukraina juga telah menjalin perjanjian produksi drone bersama dengan negara-negara Uni Eropa yang khawatir ambisi militer Putin melampaui Ukraina.
Bagi Indonesia, konflik ini menjadi pengingat akan pentingnya kemandirian industri pertahanan. Ketergantungan Ukraina pada pasokan luar negeri—dari rudal Patriot hingga jet Gripen—menunjukkan kerentanan negara yang tidak memiliki basis produksi alutsista sendiri. Sementara itu, kerja sama drone Ukraina dengan negara-negara Eropa dan Timur Tengah membuka peluang bagi Indonesia untuk mengakselerasi pengembangan drone dalam negeri, mengingat teknologi ini terbukti menjadi game-changer di medan perang modern.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah sejauh mana AS akan merespons desakan Zelenskyy di tengah tekanan perang Iran yang menguras sumber daya. Jika pasokan Patriot terus tertunda, Ukraina mungkin harus mengandalkan lebih banyak pada solusi inovatif seperti drone dan jet tempur Swedia—sebuah strategi yang bisa menjadi cetak biru bagi negara-negara lain yang menghadapi agresi militer superior.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7521598/original/080834400_1780294430-IMG-20260601-WA0042.jpg)


