Wacana Pusat Perbaikan Hercules AS di Indonesia Uji Konsistensi Politik Bebas Aktif
Baca dalam 60 detik
- Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin mengungkapkan bahwa AS mengusulkan pendirian pusat perawatan pesawat Hercules C-130 di Bandara Kertajati.
- Langkah ini berpotensi menimbulkan persepsi bahwa Jakarta condong ke Washington, mengingat doktrin bebas aktif yang selama ini dijaga.
- Para pengamat menilai keputusan akhir akan menjadi indikator arah kebijakan luar negeri Indonesia di tengah rivalitas kekuatan global.

Pemerintah Indonesia tengah mempertimbangkan usulan Amerika Serikat untuk menjadikan Bandara Kertajati, Jawa Barat, sebagai pusat perawatan, perbaikan, dan overhaul (MRO) pesawat angkut militer C-130 Hercules. Langkah ini langsung memicu perdebatan mengenai konsistensi prinsip politik luar negeri bebas aktif yang selama puluhan tahun menjadi pedoman Jakarta dalam berdiplomasi.
Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin pada 19 Mei lalu mengungkapkan bahwa gagasan tersebut disampaikan langsung oleh Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth. Menurut Sjafrie, kerja sama MRO ini akan mencakup perawatan rutin hingga perbaikan besar pesawat Hercules yang dioperasikan oleh militer AS di kawasan Indo-Pasifik. Keberadaan fasilitas ini dinilai dapat meningkatkan kapasitas perawatan penerbangan Indonesia sekaligus mempererat hubungan pertahanan bilateral.
Namun, sejumlah analis hubungan internasional menyoroti risiko politik dari penerimaan tawaran tersebut. Mereka menilai bahwa dengan menyediakan basis perawatan bagi pesawat militer AS, Indonesia secara tidak langsung dapat dianggap memihak Amerika Serikat dalam konflik bersenjata. Padahal, doktrin bebas aktif yang dianut sejak era Presiden Soeharto justru menekankan netralitas dan non-blok, terutama saat terjadi ketegangan antarnegara besar.
Pemerintah Indonesia sendiri belum memberikan keputusan final. Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Budi Gunawan menyatakan bahwa setiap kerja sama pertahanan akan selalu mempertimbangkan kepentingan nasional dan tidak akan melanggar konstitusi. Ia menambahkan bahwa Indonesia tetap berkomitmen menjalin hubungan baik dengan semua negara tanpa harus terikat pada satu blok kekuatan.
Di sisi lain, tawaran ini muncul di tengah meningkatnya rivalitas AS-China di kawasan. Beberapa negara tetangga seperti Filipina dan Vietnam justru semakin mendekat ke Washington, sementara Indonesia selama ini berusaha menjaga keseimbangan. Keputusan mengenai pusat MRO Hercules akan menjadi ujian nyata sejauh mana Jakarta mampu mempertahankan posisi non-blok di tengah tekanan geopolitik yang semakin kompleks.
Ke depan, langkah Indonesia dalam menyikapi usulan ini akan diamati oleh banyak pihak. Jika diterima, Jakarta harus mampu mengelola persepsi publik dan mitra internasional agar kerja sama tersebut tidak ditafsirkan sebagai perubahan haluan strategis. Sebaliknya, jika ditolak, Indonesia perlu menyiapkan argumen yang kuat agar hubungan pertahanan dengan AS tetap berjalan baik tanpa harus mengorbankan prinsip bebas aktif.


