Dari Pragmatisme ke Trofi: Perjalanan 7 Musim Mikel Arteta Bawa Arsenal Juara Premier League 2025/2026
Baca dalam 60 detik
- Arsenal mengunci gelar Premier League setelah Manchester City bermain imbang 1-1 dengan Bournemouth, memastikan keunggulan 4 poin yang tak terkejar.
- Mikel Arteta mengubah gaya bermain Arsenal dari ofensif menjadi pragmatis pada musim 2025/2026, mengandalkan pertahanan solid dan efektivitas set piece.
- Keberhasilan ini mengakhiri puasa gelar liga selama 22 tahun, sekaligus membungkam kritik yang sempat menuntut pemecatan Arteta setelah tiga musim runner-up.

Arsenal akhirnya memutus puasa gelar Premier League selama 22 tahun setelah memastikan diri sebagai juara musim 2025/2026. Kepastian itu didapat setelah rival terdekat, Manchester City, hanya mampu bermain imbang 1-1 melawan Bournemouth pada pekan ke-37. Dengan keunggulan empat poin dan satu laga tersisa, posisi Arsenal di puncak klasemen tak lagi tergoyahkan.
Keberhasilan ini tidak lepas dari transformasi taktik yang dijalankan Mikel Arteta sejak ia menangani Arsenal pada Desember 2019. Pelatih asal Spanyol itu mewarisi tim yang tengah terpuruk di peringkat ke-11 dengan catatan defisit gol. Namun, melalui pendekatan bertahap, Arteta membangun ulang skuad dari fondasi pertahanan hingga akhirnya menemukan formula pragmatis yang membuahkan hasil.
Pada awal karier kepelatihannya, Arteta mendapat banyak keraguan. Paul Merson menyebut penunjukannya sebagai "perjudian besar", sementara kerabat Pierre-Emerick Aubameyang menilai ia dan Ljungberg sama-sama minim pengalaman. Namun, manajemen Arsenal tetap percaya pada visi Arteta yang pernah menjadi asisten Pep Guardiola di Manchester City. Keyakinan itu perlahan terbukti ketika Arsenal menunjukkan peningkatan konsisten, dari finis kedelapan di dua musim pertama, naik ke posisi kelima, lalu menjadi penantang gelar pada 2022/2023.
Meski tiga musim beruntun (2022/2023, 2023/2024, 2024/2025) Arsenal harus puas sebagai runner-up—masing-masing di bawah Manchester City dan Liverpool—Arteta tidak kehilangan dukungan penuh dari klub. Ia justru melakukan perombakan besar-besaran. Dari 11 pemain starter di laga debutnya, hanya Bukayo Saka yang tersisa pada musim juara ini. Rekrutan seperti Gabriel Jesus, Declan Rice, dan David Raya menjadi pilar penting dalam skema barunya.
Musim 2025/2026 menjadi puncak metamorfosis. Arsenal tidak lagi mengandalkan penguasaan bola dan serangan masif seperti musim-musim sebelumnya. Mereka beralih ke pendekatan pragmatis: efektivitas serangan dan soliditas pertahanan. Meski hanya mencetak 69 gol—lebih sedikit dari Manchester City (76 gol)—lini belakang yang dikawal William Saliba dan Gabriel Magalhães hanya kebobolan 7 gol lebih sedikit dari City. Statistik expected goals against (xGA) menunjukkan dominasi Arsenal: dalam 18 dari 37 pertandingan, mereka mampu membatasi peluang lawan di bawah 0,5 xG. Sebagai perbandingan, City hanya melakukannya dua kali.
Faktor kunci lainnya adalah efisiensi set piece. Arteta merekrut pelatih spesialis Nicolas Jover dari Manchester City dan menambahkan Thomas Gronnemark untuk mengoptimalkan bola mati. Hasilnya, Arsenal mencetak 18 gol dari sepak pojok—rekor baru Premier League—dan total 24 gol dari situasi set piece (tanpa penalti), atau hampir 40 persen dari seluruh gol mereka musim ini.
"Kita harus mulai menciptakan sejarah sendiri di sini. Ada hal lebih yang akan datang. Kita harus melakukannya bersama," tegas Arteta di akhir musim 2024/2025, seperti dikutip dari berbagai sumber.
Keberhasilan ini juga menjadi jawaban atas desakan pemecatan yang sempat muncul di media sosial setelah Arsenal tersingkir dari semifinal Liga Champions dan gagal meraih gelar pada 2024/2025. Manajemen klub memilih bertahan pada Arteta, dan keputusan itu kini terbukti tepat. Dengan fondasi yang kokoh dan filosofi yang terus berkembang, Arsenal tidak hanya mengakhiri penantian panjang, tetapi juga membangun fondasi untuk kesuksesan berkelanjutan.



