Skandal Kekerasan Berujung Pembubaran Permanen: Miyagino Stable, Kandang Legenda Sumo Hakuho, Resmi Ditutup
Baca dalam 60 detik
- Asosiasi Sumo Jepang (JSA) memutuskan pembubaran permanen Miyagino Stable, menyusul skandal penganiayaan yang terungkap pada 2024.
- Seluruh pegulat dan staf telah dipindahkan ke Isegahama Stable, yang kini menjadi kandang terbesar dengan 32 pegulat, termasuk delapan sekitori.
- Pembubaran ini menandai akhir era bagi Hakuho, peraih rekor 45 gelar makuuchi, yang mundur dari JSA tahun lalu.

Asosiasi Sumo Jepang (JSA) resmi membubarkan Miyagino Stable secara permanen, Kamis (29/5/2025), setelah lebih dari dua tahun kandang itu ditutup akibat skandal kekerasan fisik yang dilakukan salah satu pegulatnya terhadap junior. Keputusan ini diambil dalam rapat dewan JSA karena tidak ada pihak yang berniat menghidupkan kembali stable yang pernah menjadi markas legenda sumo, Hakuho, tersebut.
Miyagino Stable, yang dipimpin oleh mantan yokozuna Hakuho—pemegang rekor 45 gelar juara di divisi makuuchi—telah ditutup sejak April 2024. Penutupan itu dipicu oleh terungkapnya kasus penganiayaan di mana seorang pegulat senior menyiksa rekan-rekan setimnya yang lebih muda. Insiden ini mencoreng reputasi stable yang selama ini dikenal sebagai salah satu kandang paling sukses dalam sejarah sumo.
Setelah skandal tersebut, Hakuho—yang bernama asli Mönkhbatyn Davaajargal dan berasal dari Mongolia—memutuskan untuk memindahkan seluruh pegulatnya ke Isegahama Stable. Ia sendiri mengundurkan diri dari JSA pada Juni tahun lalu. Kini, dengan tidak adanya upaya revitalisasi, JSA menetapkan bahwa Miyagino Stable tidak akan pernah beroperasi lagi.
Dampak dari pembubaran ini langsung terasa pada peta persaingan sumo profesional. Isegahama Stable, yang dipimpin oleh mantan yokozuna Terunofuji, kini menjadi kandang terbesar dengan 32 pegulat. Dari jumlah tersebut, delapan di antaranya berstatus sekitori—pegulat yang berlaga di dua divisi tertinggi, makuuchi dan juryo—per Turnamen Musim Panas yang baru saja berakhir. Konsolidasi ini menjadikan Isegahama sebagai kekuatan dominan dalam dunia sumo, baik dari segi kuantitas maupun kualitas.
Bagi penggemar sumo di Indonesia, berita ini mungkin terasa jauh, namun mencerminkan betapa ketatnya standar etika di olahraga tradisional Jepang. Skandal kekerasan yang berujung pada pembubaran stable menunjukkan bahwa JSA tidak mentolerir pelanggaran, sekalipun dilakukan oleh pegulat dari kandang legendaris. Hal ini bisa menjadi pelajaran bagi pengelola olahraga di Indonesia untuk lebih serius dalam menangani kasus perundungan dan kekerasan di lingkungan atlet.
Stablemaster Isegahama, dalam pernyataannya, menekankan semangat kebersamaan. "Kami sejak awal sudah berdiskusi untuk bekerja sebagai satu stable, dan kami ingin terus berusaha sebaik mungkin seperti sebelumnya," ujarnya. Pernyataan ini mencerminkan upaya untuk menyatukan dua kelompok pegulat yang sebelumnya berasal dari stable berbeda, sebuah tantangan tersendiri dalam budaya sumo yang sangat hierarkis.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Isegahama Stable mampu mempertahankan harmoni di tengah membesarnya jumlah anggota. Dengan tambahan pegulat dari Miyagino, persaingan internal untuk naik pangkat akan semakin ketat. Namun, jika berhasil dikelola, stable ini berpotensi melahirkan generasi baru yokozuna yang akan mewarnai dunia sumo dalam satu dekade ke depan.



