Antusiasme Penonton Tour de France Pecah Rekor, Tadej Pogacar Kunci Gelar Kelima
Baca dalam 60 detik
- Tadej Pogacar menyamai rekor lima gelar Tour de France dan dinobatkan sebagai pembalap terhebat sepanjang masa berkat pencapaian di berbagai disiplin balap.
- Lonjakan penonton hingga 500.000 orang di Paris dan Alpe d'Huez menandai kebangkitan popularitas balap sepeda, menimbulkan pertanyaan tentang kapasitas penyelenggaraan.
- Tes doping malam hari yang dilakukan ITA memicu perdebatan tentang mikro-dosis, sementara manajer tim Jonathan Vaughters mendukung pengawasan ketat demi kredibilitas olahraga.

Lebih dari 180.000 penonton memadati Montmartre pada Minggu (27/7) untuk menyaksikan akhir spektakuler Tour de France, menjadikan Paris sebagai saksi kebangkitan popularitas balap sepeda yang belum pernah terjadi dalam satu dekade terakhir.
Angka ini hanyalah sebagian dari total 500.000 orang yang berjejer di sepanjang rute di ibu kota Prancis. Fenomena serupa terjadi di Alpe d'Huez pada Jumat sebelumnya, dengan setengah juta penonton berkemah sejak berhari-hari sebelum pebalap melintas. Kerumunan masif ini menggambarkan minat publik yang meroket, terutama terhadap dua nama: Tadej Pogacar dan Mathieu van der Poel.
Pogacar, pebalap Slovenia berusia 27 tahun dari UAE-Team Emirates-XRG, sukses mengunci gelar kelima Tour de France berkat performa dominan di semua medan—waktu, tanjakan, dan sprint. Ia kini sejajar dengan legenda seperti Eddy Merckx, Bernard Hinault, dan Miguel Indurain. Yang membuatnya unggul, menurut banyak pengamat, adalah sikap rendah hati dan kesediaannya membimbing rekan setim muda, sekalipun sebagian besar timnya terserang penyakit di paruh kedua balapan.
Namun, euforia itu tidak lepas dari bayang-bayang masa lalu. International Testing Agency (ITA) melakukan tes doping dadakan pada malam hari, termasuk kepada Pogacar dan pemuncak klasemen sementara Jonas Vingegaard, yang kemudian mengalami kecelakaan. Manajer tim EF Education-Easypost, Jonathan Vaughters—yang pernah menggunakan doping saat masih aktif—menyebut tes malam sebagai solusi atas keraguan publik. “Jika 24 jam penuh diperkenalkan pada 2001, kita tidak akan melewati skandal Lance Armstrong,” ujarnya, seraya menekankan bahwa mikro-dosis dapat dihindari dengan pengawasan ketat.
Di Indonesia, fenomena ini menyoroti potensi besar olahraga sepeda. Menurut data British Cycling, jumlah pesepeda di Inggris mencapai 30,2 juta orang, tertinggi sejak 2020. Sementara itu, di Indonesia, komunitas pesepeda juga tumbuh pesat pascapandemi, dengan ajang seperti Tour de Banyuwangi dan Tour de Singkarak yang menarik wisatawan. Ketua Umum Ikatan Sport Sepeda Indonesia (ISSI) menilai bahwa manajemen penonton yang sukses di Tour de France bisa menjadi contoh untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan event domestik.
Namun, masih ada pekerjaan rumah: sejak 2013, tak satu pun pebalap asal Inggris yang mampu merebut mahkota Tour de France. Meski demikian, antusiasme tetap tinggi, apalagi Inggris akan menjadi tuan rumah enam etape pada 2026. Apakah peningkatan investasi seperti yang dilakukan Ineos akan membuahkan hasil? Atau akankah era Pogacar masih berlangsung dalam waktu lama?



