Kembar Roper Cetak Sejarah Wales: Dua Perunggu dalam Hitungan Jam
Baca dalam 60 detik
- Abigail dan Emily Roper menjadi kembar identik pertama yang meraih medali perunggu di cabang senam Commonwealth Games 2026 Glasgow.
- Abigail unggul di nomor vault sementara Emily bangkit dari kekecewaan finis keempat untuk merebut perunggu di uneven bars.
- Prestasi ini menambah koleksi Wales menjadi enam medali di Glasgow dan menjadi inspirasi bagi atlet muda, termasuk di Indonesia.

Dua saudara kembar identik asal Wales, Abigail dan Emily Roper, menorehkan sejarah di Commonwealth Games Glasgow dengan masing-masing menyabet medali perunggu dalam cabang senam artistik dalam selang waktu kurang dari dua jam. Abigail mengamankan posisi ketiga di nomor vault, tepat satu peringkat di atas Emily, yang kemudian membalas dengan finis ketiga di nomor uneven bars pada sore hari yang sama.
Pencapaian langka ini menjadikan mereka sebagai atlet kembar pertama yang berhasil membawa pulang medali dari ajang multicabang sebesar Commonwealth Games. Bagi Wales, dua perunggu ini menambah pundi medali yang telah terkumpul menjadi enam, semuanya dari nomor perunggu kecuali satu perak. Di arena kompetisi, Australia dan Kanada mendominasi dengan Kate McDonald meraih emas vault dan Ellie Black perak.
Bagi Abigail, ini adalah final besar pertamanya. "Saya tidak bisa mengungkapkan dengan kata-kata betapa gilanya ini. Saya masuk final tanpa ekspektasi, hanya bersyukur bisa sampai di sini. Membawa pulang medali perunggu sungguh di luar nalar," ujarnya dalam wawancara usai pertandingan. Sementara itu, Emily harus mengatasi rasa kecewa setelah finish keempat di vault. Ia mengaku butuh waktu singkat untuk mengatur ulang emosi sebelum tampil di palang bertingkat. "Saya bangga pada Abigail, dan saya tahu apa yang bisa saya lakukan. Saya hanya perlu fokus pada diri sendiri."
Kisah kembar Roper menyoroti pentingnya ketahanan mental dalam olahraga, terutama ketika dua saudara kandung berkompetisi di level tertinggi. Emily mengakui bahwa transisi cepat dari vault ke bars menuntut resiliensi tinggi. "Waktunya tidak lama, jadi saya harus cepat mengumpulkan emosi lagi. Dan hasilnya membayar semua kerja keras," tambahnya. Di Indonesia, kisah seperti ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi pembinaan atlet muda, terutama dalam mengelola tekanan psikologis saat berkompetisi bersama anggota keluarga atau rekan satu tim.
Prestasi Roper bersaudara juga membuka diskusi tentang dukungan keluarga dan sistem pelatihan yang mampu menghasilkan atlet kembar berprestasi. Di dalam negeri, beberapa cabang olahraga seperti bulu tangkis dan angkat besi telah mencatatkan prestasi dari atlet bersaudara, namun belum ada yang mencapai level kembar identik di ajang sebesar Commonwealth Games. Senam sendiri masih menjadi olahraga yang perlu dikembangkan lebih luas di Indonesia, dengan potensi lahirnya atlet-atlet muda yang gigih seperti Abigail dan Emily.
Ke depan, tantangan bagi kedua atlet ini adalah mempertahankan konsistensi menjelang Commonwealth Games berikutnya dan mungkin Olimpiade. Apakah kembar Roper mampu mengulang atau bahkan melampaui prestasi mereka di Glasgow? Jawabannya akan tergantung pada bagaimana mereka beradaptasi dengan tekanan ekspektasi yang kini lebih besar.



