Rekor Nasional 200 Meter Terlambat Delapan Hari: Pelari Tercepat Wales Terganjal Aturan Seleksi
Baca dalam 60 detik
- Hannah Brier memecahkan rekor nasional 200 meter Wales yang bertahan 44 tahun, tetapi waktunya tidak diakui untuk Kualifikasi Commonwealth Games karena terlambat delapan hari dari batas akhir seleksi.
- Aturan seleksi Team Wales yang menetapkan batas awal musim menuai kritik dari atlet dan federasi atletik, karena berbeda dengan jadwal lebih longgar di Skotlandia dan Inggris.
- Insiden ini membuka diskusi tentang keseragaman kebijakan seleksi di Inggris Raya dan dampaknya terhadap peluang atlet yang mencapai puncak performa di luar periode yang ditentukan.

Pelari putri tercepat Wales, Hannah Brier, harus menerima kenyataan pahit: rekor nasional 200 meter yang baru saja dipecahkannya tidak cukup untuk mengantarkannya ke Commonwealth Games 2026 di Glasgow. Waktu 22,79 detik yang ia catat di London pada Senin lalu—yang seharusnya cukup untuk meraih medali perunggu di edisi sebelumnya—dinyatakan tidak memenuhi syarat karena terlambat delapan hari dari batas akhir seleksi yang ditetapkan Team Wales pada 17 Mei.
Brier, yang juga memegang rekor 100 meter Wales, memecahkan rekor 200 meter milik Michelle Scutt yang telah bertahan sejak 1982. Namun, pencapaian itu menjadi ironis karena aturan seleksi mewajibkan atlet tidak hanya menyamai, tetapi melampaui standar B yang ditetapkan. Padahal, Brier sebelumnya sudah mencatat waktu 23,07 detik—tepat di ambang batas—namun belum dianggap cukup. "Sungguh gila bahwa atlet Wales harus mengeluarkan performa terbaik di bulan April atau Mei, sementara kejuaraan baru berlangsung pada Agustus," ujarnya kepada BBC Sport Wales.
Ketidakadilan yang dirasakan Brier semakin terasa ketika membandingkan batas waktu seleksi antar negara bagian Inggris Raya. Team Wales menetapkan tenggat tiga minggu lebih awal dari Skotlandia dan empat minggu lebih awal dari Inggris. James Williams, CEO Welsh Athletics, mengungkapkan bahwa pihaknya sudah menyuarakan kekhawatiran sejak Maret lalu. "Kami sudah memperingatkan bahwa tenggat nominasi sangat awal untuk musim trek dan lapangan. Jika batas waktunya seragam di seluruh Inggris, diskusinya akan berbeda," tegasnya.
Di sisi lain, Ketua Team Wales Gareth Davies membela kebijakan tersebut dengan menyatakan bahwa proses seleksi sudah dipublikasikan secara transparan. "Kami tidak berkomentar soal kasus individu. Proses nominasi sudah selesai dan akan diumumkan pekan depan," katanya. Sikap ini menuai kritik karena dianggap kaku, terutama ketika atlet seperti Brier menunjukkan performa puncak di luar jendela waktu yang ditentukan.
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi pengingat pentingnya fleksibilitas dalam sistem seleksi atlet. Di tanah air, polemik serupa kerap muncul ketika atlet yang mencapai prestasi di luar periode kualifikasi harus terpinggirkan. Pengalaman Brier bisa menjadi bahan evaluasi bagi Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) dan induk cabang olahraga untuk merumuskan kebijakan yang lebih adaptif terhadap siklus performa atlet, terutama menjelang ajang multi-event seperti SEA Games atau Asian Games.
Meskipun gagal di Commonwealth Games, Brier masih memiliki peluang di Kejuaraan Eropa di Birmingham pada musim panas ini. Namun, ia harus lebih dulu lolos dari British Athletics Championships pada 20-21 Juni, bersaing dengan nama-nama besar seperti Dina Asher-Smith dan Daryll Neita. "Ada sedikit sindrom imposter, tapi tantangan saya adalah berdiri di garis start dan percaya bahwa saya pantas berada di sana," ujarnya. Pertanyaannya, apakah sistem seleksi yang kaku akan terus menghambat atlet yang mencapai puncak performa di waktu yang "salah"?



