Ancaman Kepunahan Bahasa Daerah Makin Nyata, Pemerintah Gencarkan Revitalisasi dan Digitalisasi
Baca dalam 60 detik
- Hasil kajian vitalitas menunjukkan lima bahasa daerah di Indonesia sudah kehilangan penutur asli sejak 2016, terutama di wilayah timur.
- Badan Bahasa mengintegrasikan pembelajaran bahasa daerah di kelas awal dan festival nasional untuk membangkitkan minat generasi muda.
- Transformasi digital melalui kamus daring dan pengembangan korpus bahasa daerah menjadi fondasi kecerdasan artifisial berbasis Nusantara.
_Tahun_2026_IRFAN_(292)_wmcomp.jpg)
Jakarta โ Ancaman kepunahan bahasa daerah di Indonesia kian mengkhawatirkan, terutama di kawasan timur yang memiliki kekayaan linguistik tinggi namun jumlah penutur terbatas. Pemerintah melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) Kemendikdasmen memperkuat langkah revitalisasi dengan pendekatan pendidikan, dokumentasi digital, dan pemanfaatan kecerdasan artifisial.
Kepala Badan Bahasa, Hafidz Muksin, mengungkapkan bahwa kajian vitalitas bahasa daerah mengindikasikan risiko kepunahan yang serius. โDi wilayah timur, jumlah bahasa daerah sangat banyak, tetapi penuturnya sedikit. Dari kajian tahun 2016, tercatat sudah ada lima bahasa daerah yang tidak lagi memiliki penutur asli karena tidak diwariskan kepada generasi muda,โ ujarnya dalam Festival Tunas Bahasa Ibu Nasional (FTBIN) 2026, Senin (25/5/2026).
Fenomena ini tidak terbatas di Indonesia timur. Di berbagai daerah lain, jumlah penutur bahasa daerah juga terus menyusut, sehingga diperlukan intervensi sistematis. Hafidz menekankan bahwa pelestarian tidak boleh berhenti pada dokumentasi semata, melainkan harus melibatkan pembelajaran aktif di ruang publik dan pendidikan formal.
Data Kunci: Dari 718 bahasa daerah di Indonesia, baru beberapa bahasa besar yang memiliki sumber tertulis dan mulai dibangun korpus digitalnya. Sebagian besar masih berupa bahasa lisan yang rentan punah.
Badan Bahasa mendorong revitalisasi melalui pembelajaran bahasa daerah di kelas awal serta penguatan ruang ekspresi generasi muda lewat FTBIN. โKetika generasi muda tumbuh senang dan tidak malu menggunakan bahasa daerah, maka bahasa itu akan tetap lestari,โ kata Hafidz. Selain itu, transformasi digital kebahasaan dipercepat agar bahasa daerah mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Kamus-kamus bahasa daerah yang telah disusun kini dapat diakses secara digital dan menjadi sumber data untuk pengembangan kecerdasan artifisial berbasis Nusantara.
Beberapa daerah seperti Sulawesi Selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Kalimantan Selatan telah menunjukkan kemajuan melalui kamus digital dan platform daring. Kemitraan dengan akademisi, komunitas, dan penyelenggara pendidikan akan terus diperluas agar bahasa daerah tidak tertinggal dalam ekosistem digital.
Sementara itu, Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau menempatkan pelestarian bahasa sebagai bagian dari strategi sejarah dan kebudayaan daerah. Gubernur Ansar Ahmad menegaskan bahwa Pulau Penyengat memiliki posisi penting dalam sejarah bahasa Indonesia sebagai pusat perkembangan bahasa Melayu. โPulau Penyengat pernah memberikan kontribusi besar dalam melahirkan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan,โ ujarnya. Sejak abad ke-19, kawasan itu menjadi pusat literasi dan percetakan yang terhubung dengan Singapura, serta dikenal sebagai Bustanul Katibin atau perkampungan para penulis. Dari sana lahir karya Raja Ali Haji, termasuk Gurindam Dua Belas, yang meletakkan dasar tata bahasa Melayu modern.
Ansar menambahkan bahwa warisan tersebut kini diperkuat melalui pembangunan monumen dan kawasan sejarah kebahasaan di Kepulauan Riau, yang tidak hanya menjadi destinasi wisata tetapi juga ruang pembelajaran budaya. โAnak-anak perlu mengenal naskah lama dan sastra klasik karena di sana ada nilai-nilai karakter dan peradaban,โ katanya. Pengakuan internasional terhadap Raja Ali Haji pun terlihat dari patungnya yang dipasang bersama tokoh sastra dunia di Turkmenistan.
Di sisi lain, Badan Bahasa terus memperluas pengembangan korpus digital bahasa daerah sebagai basis penguatan AI. Hafidz menjelaskan bahwa dalam dua tahun terakhir pemerintah mulai membangun korpus besar, namun sebagian besar bahasa daerah masih berupa bahasa lisan. โDari 718 bahasa daerah, saat ini baru beberapa bahasa besar yang memiliki sumber tertulis dan mulai dibangun korpusnya,โ jelasnya. Korpus tersebut akan menjadi bahan dasar pengembangan aplikasi digital dan optimalisasi AI berbasis bahasa daerah, memastikan bahasa daerah tidak hanya bertahan di ruang budaya tetapi juga hadir dalam lanskap teknologi masa depan.
FTBIN 2026 menegaskan bahwa pelestarian bahasa bukan sekadar menjaga masa lalu, melainkan menyiapkan identitas bangsa agar tetap hidup di tengah transformasi digital global.



