Dara-laut Sayap Hitam: Burung yang Mampu Terbang Bertahun-tahun Tanpa Mendarat, Ini Rahasianya
Baca dalam 60 detik
- Dara-laut Sayap Hitam (Onychoprion fuscatus) dapat terbang terus-menerus hingga 5 tahun tanpa menyentuh daratan atau air.
- Bulu yang tidak kedap air membuat burung ini tidak bisa mengapung, sehingga harus tetap di udara dan hanya sesekali beristirahat di benda terapung.
- Kemampuan ini didukung oleh tulang ringan, sayap efisien, serta dugaan pola tidur unihemispheric yang memungkinkan satu belahan otak tetap aktif saat terbang.

Dara-laut Sayap Hitam (Onychoprion fuscatus) adalah salah satu burung laut paling ekstrem di dunia. Spesies ini mampu menghabiskan waktu hingga lima tahun berturut-turut di udara tanpa pernah mendarat, baik di darat maupun di permukaan air. Fenomena ini menjadikannya subjek studi penting bagi para ahli biologi yang ingin memahami batas fisiologis hewan, terutama dalam hal efisiensi energi dan adaptasi tidur.
Setelah meninggalkan sarang untuk pertama kalinya, burung muda tidak kembali ke daratan selama 2 hingga 5 tahun. Penelitian dari Cornell Lab of Ornithology mencatat bahwa individu muda tetap mengudara di atas lautan terbuka selama periode tersebut. Hal ini berbeda dengan burung migran lain yang secara berkala membutuhkan daratan untuk beristirahat. Alasan utama mereka tidak bisa beristirahat di air adalah karena bulu Dara-laut Sayap Hitam tidak memiliki lapisan kedap air yang memadai, sehingga jika tubuhnya basah, terbang kembali menjadi sangat sulit. Sesekali mereka memanfaatkan benda terapung seperti puing kayu atau punggung penyu untuk beristirahat, tetapi itu jarang terjadi.
Populasi global Dara-laut Sayap Hitam diperkirakan 60β80 juta ekor. Burung ini dapat terbang hingga 50.000 km dalam satu musim non-biak. Individu tertua tercatat berusia 35 tahun 9 bulan.
Burung ini baru mulai berkembang biak pada usia 4 hingga 10 tahun, sehingga seluruh masa mudanya dihabiskan di udara. Jangkauan terbangnya sangat luas: individu yang bersarang di Pulau Ascension (Atlantik Selatan) tercatat terbang hingga 2.900 km dari sarangnya, sementara yang bersarang di Bird Island, Seychelles, mencapai 8.700 km. Dalam satu musim non-biak, seekor Dara-laut Sayap Hitam dapat menempuh jarak sekitar 50.000 kilometer, hampir seluruhnya tanpa menyentuh daratan.
Beberapa adaptasi fisik mendukung kemampuan ini. Tulangnya berongga dan ringan, mengurangi beban tubuh. Bentuk tubuh ramping dengan sayap panjang dan runcing mengurangi hambatan udara dan memungkinkan pemanfaatan angin laut secara efisien. Dalam mencari makan, burung ini tidak menyelam, melainkan menyambar ikan kecil dan cumi-cumi dari permukaan air saat terbang rendah, atau menangkap ikan terbang di udara. Mereka juga sering mengikuti gerombolan ikan predator besar seperti tuna yang mendorong mangsa ke permukaan.
Soal tidur, para peneliti menduga Dara-laut Sayap Hitam menggunakan mekanisme unihemispheric sleep, yaitu mengistirahatkan satu belahan otak sementara belahan lainnya tetap aktif mengendalikan penerbangan. Mekanisme serupa telah terbukti pada burung Frigat Besar (Fregata minor), yang dapat tidur dalam semburan singkat saat tetap mengudara. Adaptasi ini memungkinkan burung untuk tetap terbang tanpa henti selama bertahun-tahun.
Kemampuan luar biasa Dara-laut Sayap Hitam tidak hanya menarik dari segi biologi, tetapi juga memberikan wawasan tentang bagaimana organisme dapat beradaptasi dengan lingkungan ekstrem. Studi lebih lanjut mengenai pola tidur dan metabolisme energi mereka berpotensi menginspirasi teknologi penerbangan dan manajemen energi pada sistem buatan manusia.



