Bundesliga Legends Network: 18 Ikon Sepak Bola Jerman yang Mendunia
Baca dalam 60 detik
- Bundesliga meresmikan jaringan 18 legenda yang bertugas sebagai duta global, menghadirkan pengalaman langsung bagi penggemar di berbagai belahan dunia.
- Para mantan bintang seperti Matthäus, Klinsmann, dan Pizarro tidak hanya mengukir rekor di Jerman, tetapi juga membuka jalan bagi pemain dari Asia, Afrika, dan Amerika.
- Inisiatif ini memperkuat posisi Bundesliga sebagai liga dengan daya tarik internasional, sekaligus menjaga koneksi emosional dengan basis penggemar yang tersebar luas.

Bundesliga resmi memperkenalkan Bundesliga Legends Network, sebuah inisiatif yang menaungi 18 mantan pemain ikonik yang kini berperan sebagai duta global. Mereka tidak hanya menjadi wajah promosi liga, tetapi juga menyediakan analisis eksklusif bagi penyiar internasional serta terlibat dalam program seperti Bundesliga Experiences dan Meisterschale Trophy Tours. Langkah ini dirancang untuk memperkuat ikatan dengan penggemar di luar Jerman yang memiliki antusiasme setara dengan suporter lokal.
Jaringan ini mencakup nama-nama besar seperti Lothar Matthäus, Jürgen Klinsmann, Philipp Lahm, dan Claudio Pizarro, yang masing-masing memiliki kontribusi luar biasa selama karier mereka. Matthäus, misalnya, adalah peraih Ballon d'Or terakhir dari Jerman dan pernah disebut Diego Maradona sebagai rival terbaiknya. Sementara itu, Klinsmann—top skor Bundesliga 1987/88—sukses sebagai pelatih timnas Jerman dan Amerika Serikat. Lahm, kapten juara dunia 2014, menghabiskan seluruh kariernya di Bayern Munich dengan delapan gelar Bundesliga dan satu trofi Liga Champions.
Selain deretan pemain Jerman, jaringan ini juga menampilkan pionir dari berbagai benua. Bum-Kun Cha dari Korea Selatan dianggap sebagai pemain terbaik Asia sepanjang masa, dengan 98 gol di Bundesliga dan julukan 'Cha Boom'. Dari Jepang, Yasuhiko Okudera menjadi pemain pertama dari Asia yang tampil di liga top Eropa pada 1977, membuka jalan bagi Makoto Hasebe yang kini memegang rekor penampilan terbanyak pemain Asia di Eropa (lebih dari 375 laga). Sementara itu, Jay-Jay Okocha dari Nigeria mencuri perhatian dengan gol spektakuler ke gawang Oliver Kahn yang dinobatkan sebagai gol terbaik Jerman 1993.
Kehadiran legenda dari Amerika Latin juga tak kalah gemilang. Claudio Pizarro dari Peru adalah pencetak gol terbanyak kedua abad ke-21 di Bundesliga dan enam kali juara liga bersama Bayern Munich. Ze Roberto, gelandang serba bisa asal Brasil, mengoleksi empat gelar Bundesliga dan dua Copa America. Sementara itu, Pavel Pardo dari Meksiko menjadi bagian dari tim Stuttgart yang merebut gelar Bundesliga 2006/07, memperkuat jejak pemain Meksiko di Eropa.
Dari kawasan Afrika dan Oseania, Anthony Baffoe—mantan bek Ghana—menjadi salah satu pemain Afrika pertama di Bundesliga, sementara Wynton Rufer dari Selandia Baru dinobatkan sebagai Pemain Oseania Abad Ini berkat kontribusinya di Werder Bremen. Chen Yang dan Jiayi Shao mewakili China sebagai pelopor yang membuktikan bahwa pemain Asia mampu bersaing di level tertinggi Jerman.
Dengan adanya Bundesliga Legends Network, liga tidak hanya merayakan warisan para pemain, tetapi juga memperluas jangkauan pemasaran dan pengalaman penggemar secara global. Inisiatif ini diharapkan terus memperkuat posisi Bundesliga sebagai salah satu liga paling inklusif dan berpengaruh di dunia.



