Rihito Yamamoto: Gelandang Jepang Anyar Freiburg dengan Ambisi Piala Dunia 2030
Baca dalam 60 detik
- Freiburg merekrut gelandang bertahan Jepang Rihito Yamamoto dari Sint-Truiden setelah musim gemilang di Belgia.
- Yamamoto, yang tampil di Olimpiade Paris 2024, diharapkan mengikuti jejak sukses rekan senegaranya Ritsu Doan dan Yuito Suzuki di Bundesliga.
- Dengan gaya bermain mirip Angelo Stiller, ia menargetkan tempat di skuad Jepang untuk Piala Dunia 2030.

Freiburg kembali memperkuat lini tengahnya dengan mendatangkan gelandang asal Jepang, Rihito Yamamoto, dari Sint-Truiden pada bursa transfer musim panas ini. Pemain berusia 24 tahun itu diharapkan menjadi suksesor Ritsu Doan dan Yuito Suzuki sebagai pemain Jepang yang bersinar di klub yang bermarkas di Schwarzwald tersebut.
Lahir di Sagamihara, Prefektur Kanagawa, Yamamoto memulai karier profesionalnya di Tokyo Verdy di J2 League, mencatat lebih dari 90 penampilan sebelum pindah ke Gamba Osaka di J1 League pada 2022. Setelah itu, ia merantau ke Eropa bergabung dengan Sint-Truiden di Liga Pro Belgia—awalnya dengan status pinjaman pada 2023/24, lalu dipermanenkan. Musim lalu, ia tampil gemilang dengan lima gol dan enam assist dalam 38 pertandingan, membawa Sint-Truiden finis di posisi ketiga yang sensasional.
Yamamoto bukanlah nama asing di level internasional. Ia telah memperkuat sembilan kelompok umur berbeda di tim nasional Jepang, termasuk tampil di Olimpiade Paris 2024. Dalam turnamen tersebut, ia mencetak dua gol—masing-masing ke gawang Paraguay dan Mali—serta menjadi kapten saat melawan Israel. Kemampuan adaptasinya yang cepat dan pengalaman di panggung global menjadi modal berharga untuk Bundesliga.
Direktur olahraga Freiburg, Klemens Hartenbach, memuji perkembangan pesat Yamamoto. "Rihito membuat kemajuan luar biasa musim lalu. Dia gelandang serbabisa. Salah satu kekuatan terbesarnya adalah banyaknya kualitas berbeda yang ia miliki. Ia bisa memberikan dampak nyata baik dengan maupun tanpa bola. Langkah selanjutnya adalah beradaptasi dan terus mengembangkan detail permainannya—dan kami siap membantunya," ujar Hartenbach.
Gaya bermain Yamamoto kerap dibandingkan dengan gelandang VfB Stuttgart, Angelo Stiller. Ia memiliki jangkauan operan yang luas, kemampuan membawa bola, serta ketangguhan saat bertahan. Fleksibilitasnya memungkinkan ia bermain sebagai gelandang bertahan murni atau box-to-box, memberikan opsi taktis bagi pelatih Julian Schuster.
Menariknya, Yamamoto menjadi pemain Jepang kelima yang memperkuat Freiburg setelah Kisho Yano (2010/11), Kosuke Kinoshita (tanpa penampilan tim utama), serta Ritsu Doan dan Yuito Suzuki yang baru-baru ini sukses. Di Sint-Truiden, ia hanyalah satu dari 29 pemain Jepang yang tampil dalam satu dekade terakhir di bawah kepemilikan Jepang—menunjukkan betapa kuatnya jejaring sepak bola Negeri Sakura di klub Belgia tersebut.
Ambisi Yamamoto tidak berhenti di Bundesliga. "Saya mengambil langkah ini untuk menguji diri di salah satu liga terbaik dunia, Bundesliga, dan semoga menjadi bagian dari skuad Jepang di Piala Dunia 2030," katanya. Target itu realistis mengingat usianya yang masih 24 tahun dan potensi berkembang di lingkungan kompetitif Jerman.
Bagi Freiburg, rekrutan ini melanjutkan tradisi klub dalam mengembangkan talenta Jepang. Dengan pengalaman, kematangan, dan ambisi besar, Yamamoto bisa menjadi aset jangka panjang yang berharga—baik untuk klub maupun untuk masa depan sepak bola Jepang di panggung dunia.



