Newcastle Genjot Strategi Muda, Buru Duo Gelandang Monaco di Bursa Transfer
Baca dalam 60 detik
- Newcastle United mengincar dua gelandang muda Monaco, Aladji Bamba dan Lamine Camara, sebagai bagian dari perombakan skuad berbasis pemain muda.
- Perekrutan ini dilakukan untuk mengantisipasi kepergian Bruno Guimaraes ke Arsenal dan setelah menjual Sandro Tonali ke Tottenham senilai ยฃ100 juta.
- Jika kedua transfer terealisasi, Newcastle akan memiliki lini tengah baru dengan kombinasi agresivitas Bamba dan kelengkapan Camara.

Newcastle United tengah serius merombak komposisi skuadnya dengan mengalihkan fokus pada pembelian pemain muda. Setelah merekrut gelandang Monaco berusia 20 tahun, Aladji Bamba, dengan biaya mencapai ยฃ35,5 juta, klub raksasa Liga Inggris itu kini melakukan pendekatan formal untuk mendatangkan rekan setim Bamba, Lamine Camara, yang dihargai sekitar ยฃ43 juta.
Langkah ini merupakan bagian dari strategi baru yang dijalankan oleh pemilik Newcastle, Dana Investasi Publik Arab Saudi (PIF). Menyadari kesalahan di masa lalu yang terlalu bergantung pada pemain senior, PIF kini memilih jalur regenerasi dengan merekrut talenta muda berbakat. Harapannya, dalam beberapa tahun ke depan Newcastle bisa kembali bersaing di papan atas Premier League secara berkelanjutan.
Bamba, yang hanya tampil sepuluh kali sebagai starter di Ligue 1 musim lalu, tetap dianggap sebagai prospek menjanjikan. Penulis Newcastle, Bradley Robson, menjulukinya sebagai "monster perebut bola" setelah melihat statistiknya yang impresif: 70 persen dribel sukses, rata-rata 4,6 duel dimenangkan, dan 1,8 tekel per laga. Namun, kepergian sang kapten Bruno Guimaraes yang sedang diincar Arsenal membuat manajemen harus bergerak cepat. Arsenal dikabarkan akan melayangkan tawaran segar senilai ยฃ70 juta untuk pemain asal Brasil itu. Sebelumnya, Newcastle sudah melepas Sandro Tonali ke Tottenham dengan rekor ยฃ100 juta.
Camara, gelandang timnas Senegal, dipandang sebagai pemain yang sudah lebih matang dibanding Bamba. Menurut analis dan pramuka Como, Ben Mattinson, Camara "memiliki mesin luar biasa yang mampu menjangkau area luas". Ia bukan hanya pekerja keras di lini tengah, tetapi juga kreatif. Musim lalu di Ligue 1, ia menciptakan delapan peluang emas dan masuk dalam persentil teratas untuk umpan silang (6%), peluang diciptakan (11%), dan umpan jauh (14%) per 90 menit. Kombinasi ketangguhan defensif dan kemampuan mengatur aliran bola membuatnya dijuluki sebagai "gelandang lengkap".
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, pergerakan Newcastle ini menjadi tontonan menarik karena Premier League selalu menjadi liga yang paling banyak diikuti di Tanah Air. Strategi merekrut pemain muda potensial seperti Bamba dan Camara bisa menjadi inspirasi bagi klub-klub Liga 1 yang mulai berinvestasi pada bakat-bakat belia. Jika sukses, Newcastle akan menjadi contoh bagaimana perombakan skuad berbasis usia bisa berjalan efektif di tengah tekanan persaingan.
Namun, risiko tetap ada. Mengandalkan dua pemain muda yang minim pengalaman di Premier League untuk menggantikan peran Guimaraes dan Tonali bukanlah jaminan. Newcastle juga masih harus bersaing dengan klub-klub lain yang mengincar jasa Camara, meski Aston Villa dikabarkan sudah mengalihkan target. Pertanyaannya, akankah keberanian PIF dalam meremajakan skuad membuahkan hasil di musim-musim mendatang? Atau justru menjadi bumerang karena kehilangan keseimbangan tim?



