El Clasico Jadi Panggung Pembuktian Jude Bellingham: Bisakah Tuchel Abaikan Pemain Sekelas Ini?
Baca dalam 60 detik
- Jude Bellingham mencetak satu gol dan satu assist dalam kemenangan 2-1 Real Madrid atas Barcelona di El Clasico, sekaligus menegaskan perannya sebagai pemain kunci di momen-momen besar.
- Penampilan gemilangnya kontras dengan keputusan Thomas Tuchel yang tidak memanggilnya ke skuad Inggris, memicu perdebatan tentang apakah timnas bisa mengabaikan pemain dengan kontribusi sebesar itu.
- Dengan Piala Dunia mendatang, performa Bellingham menjadi pengingat bahwa kualitas dan mentalitas juaranya sangat dibutuhkan Inggris untuk bersaing di level tertinggi.

Real Madrid akhirnya membayar lunas kekalahan memalukan musim lalu dengan kemenangan 2-1 atas Barcelona dalam lanjutan La Liga, Minggu (23/4) dini hari WIB. Di balik kemenangan yang membawa Los Blancos unggul lima poin di puncak klasemen, sosok Jude Bellingham kembali menjadi pusat perhatian. Gelandang asal Inggris itu tidak hanya mencetak gol penentu, tetapi juga memberikan assist spektakuler untuk gol pertama Kylian Mbappe.
Bellingham, yang musim lalu sudah dua kali menjadi pahlawan dengan gol kemenangan melawan Barcelona, kembali menunjukkan naluri pembunuhnya. Assistnya untuk Mbappe lahir dari kombinasi kekuatan, keterampilan, dan visi yang langka. Ia mampu menahan tekanan, menciptakan ruang, lalu melepaskan umpan terobosan presisi yang langsung diselesaikan Mbappe dengan tenang. Golnya sendiri adalah contoh sempurna pergerakan tanpa bola dan penyelesaian akhir yang dingin.
Namun, yang membuat Bellingham istimewa bukan hanya momen-momen gemilangnya. Ia juga memenangkan penalti (meski gagal dieksekusi Mbappe) dan memiliki satu gol yang dianulir karena offside. Dalam laga yang penuh drama—termasuk penalti gagal, dua gol dianulir, kartu merah, dan keributan di akhir pertandingan—Bellingham tetap menjadi aktor utama. Ia tidak sekadar bermain, melainkan mengatur ritme pertandingan dengan gestur dan energi yang menular ke rekan setim serta penonton.
Di luar lapangan, penampilan Bellingham ini menjadi tamparan keras bagi pelatih timnas Inggris, Thomas Tuchel. Sejak awal musim, Tuchel memilih untuk tidak memanggil Bellingham dengan alasan ingin mengelola temperamen dan perilakunya di lapangan. Dalam wawancara sebelumnya, Tuchel mengakui bahwa Bellingham memiliki "api" yang bisa mengintimidasi, tetapi ia ingin api itu diarahkan kepada lawan, bukan kepada rekan setim atau ofisial.
Bellingham tampaknya menerima kritik itu dengan cara yang produktif. Di El Clasico, ia terlibat adu mulut dengan Pedri, pemain Barcelona yang akhirnya diusir wasit. Ia juga terlihat mengejek Lamine Yamal dengan gestur "cry-baby" setelah pemain muda Barcelona itu dikabarkan meremehkan Madrid sebelum pertandingan. Unggahan Bellingham di media sosial bertuliskan "Talk is cheap" jelas merupakan respons terhadap komentar Yamal.
Yang lebih penting, Bellingham juga menunjukkan sisi disiplin taktis. Setelah Xabi Alonso meminta timnya lebih terkendali di babak kedua, Bellingham bekerja keras membantu pertahanan, menekan lawan, dan menjaga keseimbangan tim. Ia baru ditarik keluar pada menit ke-89, mendapat standing ovation dari publik Bernabeu. Ini membuktikan bahwa ia bisa menjadi pemain impact sekaligus pekerja keras di lini tengah.
Keputusan Tuchel untuk tidak menyertakan Bellingham di skuad Inggris mulai dipertanyakan, terutama dengan Piala Dunia yang akan digelar akhir tahun ini. Banyak pihak menilai Inggris kehilangan pemain pembeda yang bisa mengubah jalannya pertandingan besar. Tuchel sendiri pernah berkata, "Jude memiliki sesuatu yang istimewa. Dia membawa ketajaman yang kami sambut dan butuhkan jika ingin meraih hal-hal besar." Di Madrid, klub yang terbiasa meraih hal-hal besar, mereka sudah paham betul nilai Bellingham.
Jika Inggris serius ingin bersaing di Piala Dunia, memanggil Bellingham seharusnya bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Pemain seperti Bellingham tidak tumbuh setiap hari, dan mengabaikannya hanya karena masalah temperamen adalah risiko yang tidak perlu diambil. Seperti yang ditunjukkan di El Clasico, Bellingham adalah pembeda—dan timnas Inggris membutuhkan sebanyak mungkin pembeda untuk bisa bicara banyak di turnamen mendatang.



