Studi Ungkap Perubahan Kepribadian Akibat Pandemi: Neurotisisme Menurun, Namun Sementara
Baca dalam 60 detik
- Penelitian PLOS One menemukan penurunan neurotisisme pada fase awal pandemi COVID-19, tetapi kembali normal pada 2021–2022.
- Sebaliknya, sifat kepribadian seperti kesadaran, keramahan, keterbukaan, dan ekstroversi justru menurun pada fase adaptasi, terutama pada dewasa muda.
- Perubahan ini berpotensi mengganggu perkembangan kepribadian normal pada usia muda dan meningkatkan risiko masalah kesehatan mental.

Pandemi COVID-19 tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga memicu perubahan signifikan pada kepribadian manusia. Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan di PLOS One mengungkap bahwa sifat neurotisisme menurun pada fase awal pandemi tahun 2020, namun peningkatan tersebut tidak bertahan lama. Sebaliknya, empat sifat kepribadian utama lainnya justru mengalami penurunan pada fase adaptasi tahun 2021–2022, terutama pada kelompok usia muda.
Penelitian yang menggunakan data dari Understanding America Study (UAS) ini melibatkan lebih dari 7.100 partisipan yang mewakili populasi nasional AS. Para peneliti membagi periode pandemi menjadi fase akut (Maret–Desember 2020) dan fase adaptasi (Januari 2021–Februari 2022). Hasilnya menunjukkan bahwa penurunan neurotisisme pada fase akut bersifat sementara dan kembali ke tingkat sebelum pandemi pada fase adaptasi. Sementara itu, sifat kesadaran (conscientiousness), keramahan (agreeableness), keterbukaan (openness), dan ekstroversi (extraversion) justru menurun secara signifikan pada fase adaptasi dibandingkan sebelum pandemi.
Menurut Dr. Angelina Sutin, penulis utama studi dari Florida State University, perubahan sifat kepribadian pada dewasa muda sangat penting karena sifat seperti neurotisisme dan kesadaran berkaitan erat dengan kesuksesan pendidikan, karier, hubungan sosial, serta kesehatan mental dan fisik. Meskipun perubahan yang terdeteksi relatif kecil, dampak kumulatifnya bisa signifikan jika perubahan tersebut menetap.
Para peneliti menduga bahwa kerentanan dewasa muda terkait dengan proses pematangan kepribadian yang masih berlangsung pada usia tersebut. Sumber stres yang berbeda, seperti tekanan pekerjaan atau sekolah, juga dapat menjadi faktor. Selain itu, kelompok etnis Hispanik/Latino menunjukkan penurunan ekstroversi, kesadaran, dan keterbukaan yang lebih besar dibandingkan kelompok non-Hispanik, kemungkinan terkait dengan risiko paparan COVID-19 yang lebih tinggi karena pekerjaan di luar rumah.
“Perubahan ini mirip dengan yang biasanya terjadi selama satu dekade masa dewasa. Kami belum tahu apakah perubahan ini bersifat sementara atau permanen,” ujar Dr. Sutin.
Dr. Brent Roberts, profesor psikologi dari University of Illinois, menambahkan bahwa studi ini bersifat observasional tanpa kelompok kontrol, sehingga tidak dapat menyimpulkan bahwa pandemi adalah penyebab tunggal. Ia menekankan bahwa perubahan sosial, politik, dan ekonomi selama periode tersebut juga dapat memengaruhi perkembangan kepribadian, terutama pada dewasa muda. Selain itu, pengalaman langsung terinfeksi COVID-19 atau long COVID belum diuji sebagai variabel penjelas.
Meski demikian, temuan ini memberikan wawasan berharga tentang bagaimana peristiwa global berskala besar dapat memengaruhi struktur kepribadian yang selama ini dianggap stabil. Ke depannya, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memantau apakah perubahan ini bersifat jangka panjang dan bagaimana dampaknya terhadap kesehatan populasi, khususnya generasi muda yang paling terdampak.



