Mengenal Lebih Dekat Stroke: Mitos, Fakta, dan Langkah Penanganan yang Tepat
Baca dalam 60 detik
- Stroke bukan penyakit jantung, melainkan gangguan pembuluh darah otak akibat sumbatan atau pecahnya arteri.
- Penanganan cepat dalam 3 jam pertama sangat krusial untuk meminimalkan kecacatan permanen.
- Stroke juga bisa menyerang usia muda, dengan faktor risiko utama seperti hipertensi, diabetes, dan merokok.

Stroke menempati peringkat kedua penyebab kematian tertinggi di dunia, dengan lebih dari 795.000 kasus baru setiap tahunnya di Amerika Serikat saja. Meski demikian, masih banyak miskonsepsi yang beredar di masyarakat mengenai kondisi ini. Untuk mengklarifikasi berbagai mitos tersebut, LyndHub merangkum penjelasan dari Dr. Rafael Alexander Ortiz, kepala Neuro-Endovascular Surgery dan Interventional Neuro-Radiology di Lenox Hill Hospital.
Banyak orang keliru menganggap stroke sebagai masalah jantung. Padahal, stroke adalah gangguan pada otak yang dipicu oleh tersumbatnya atau pecahnya pembuluh darah di area tersebut. "Stroke bukanlah penyakit jantung, melainkan penyakit otak," tegas Dr. Ortiz. Faktor risiko utama meliputi hipertensi, merokok, kolesterol tinggi, obesitas, diabetes, trauma kepala atau leher, serta aritmia jantung. Kabar baiknya, sebagian besar faktor ini dapat dimodifikasi melalui gaya hidup sehat, seperti olahraga teratur dan pola makan bergizi seimbang.
Salah satu mitos paling berbahaya adalah anggapan bahwa stroke tidak bisa diobati. Faktanya, penanganan darurat seperti pemberian obat penghancur bekuan darah, trombektomi mekanis minimal invasif, atau operasi dapat membalikkan gejala stroke pada banyak pasien, asalkan mereka tiba di rumah sakit dalam hitungan menit hingga jam sejak gejala muncul. Penelitian menunjukkan bahwa pasien yang mendapatkan pertolongan dalam 3 jam pertama memiliki risiko kecacatan yang jauh lebih rendah tiga bulan kemudian. Oleh karena itu, mengenali gejala awal menjadi sangat penting. Gejala umum stroke dapat diingat dengan akronim F.A.S.T.: Face drooping (wajah tidak simetris), Arm weakness (kelemahan lengan), Speech difficulty (bicara pelo), dan Time to call emergency (segera hubungi layanan darurat).
Stroke juga tidak selalu menunjukkan gejala. Studi mengungkapkan bahwa dari lebih 11 juta kasus stroke pada 1998, hampir 11 juta di antaranya adalah "silent stroke" atau stroke tanpa gejala. Kondisi ini baru terdeteksi melalui MRI sebagai bercak putih akibat jaringan parut. Meski tanpa gejala, silent stroke meningkatkan risiko stroke bergejala di masa depan, penurunan kognitif, dan demensia. Istilah "ministroke" juga sering disalahartikan sebagai stroke ringan yang tidak berbahaya. Dr. Ortiz menegaskan, "Transient ischemic attack (TIA) bukanlah stroke kecil, melainkan peringatan bahwa stroke besar bisa terjadi. Setiap gejala stroke, baik sementara maupun menetap, memerlukan evaluasi darurat."
Dampak jangka panjang stroke sangat bervariasi tergantung pada lokasi dan luas jaringan otak yang rusak. Kerusakan di otak kiri akan memengaruhi sisi kanan tubuh, dan sebaliknya. Lebih dari separuh penyintas stroke usia 65 tahun ke atas mengalami penurunan mobilitas. Namun, pemulihan masih mungkin terjadi, terutama dalam jendela kritis 2β3 bulan pertama setelah serangan. Rehabilitasi motorik intensif pada periode ini memberikan hasil optimal, meskipun perbaikan masih bisa berlanjut meski lebih lambat setelah enam bulan.
Memahami fakta di balik stroke adalah langkah awal untuk mencegah dan menanganinya dengan tepat. Dengan mengenali gejala, mengendalikan faktor risiko, dan bertindak cepat, angka kematian serta kecacatan akibat stroke dapat ditekan secara signifikan.



