Klaim Colossal Biosciences soal Telur Buatan: Inovasi Besar atau Sekadar Hype?
Baca dalam 60 detik
- Colossal Biosciences mengklaim berhasil menetaskan ayam dari telur buatan tanpa oksigen tambahan, namun klaim tersebut belum didukung data atau publikasi ilmiah.
- Teknologi ini berpotensi membantu konservasi spesies terancam punah melalui penetasan telur yang rusak atau rekayasa genetika, tetapi masih menghadapi tantangan skala dan etika.
- Para ahli mengingatkan bahwa teknologi ini bukan solusi tunggal; upaya konservasi tradisional seperti pengendalian predator tetap menjadi prioritas utama.

Perusahaan bioteknologi asal Texas, Colossal Biosciences, baru-baru ini mengumumkan keberhasilan menetaskan anak ayam dari telur buatan yang sepenuhnya menggantikan cangkang alami. Klaim ini, jika terbukti benar, bisa menjadi terobosan besar dalam ilmu pengetahuan dan konservasi. Namun, hingga saat ini belum ada data atau publikasi ilmiah yang dapat diverifikasi secara independen, sehingga banyak pihak masih menunggu bukti lebih lanjut.
Teknologi telur buatan sebenarnya bukan hal baru. Sejak 1980-an, para peneliti telah berhasil menumbuhkan embrio unggas di luar cangkang alami dan bahkan menetaskannya hingga dewasa. Sistem ini digunakan untuk mempelajari perkembangan embrio, pertumbuhan tumor, serta menciptakan ayam hasil rekayasa genetika untuk pengembangan obat dan vaksin. Namun, kendala utama yang selama ini dihadapi adalah kebutuhan oksigen murni yang harus dialirkan langsung ke embrio, yang justru bisa menurunkan viabilitas anak ayam.
Colossal mengklaim telah mengatasi masalah tersebut dengan mengganti cangkang keras dan membran alami dengan setengah cangkang terbuka berbentuk kisi serta membran transparan berbasis silikon. Inovasi ini memungkinkan oksigen dari udara berdifusi secara bebas ke embrio tanpa perlu suplai oksigen tambahan. Perusahaan berencana memindahkan embrio dan kuning telur yang telah dibuahi dari telur asli ke telur buatan, lalu menginkubasinya. Proses perkembangan embrio dapat diamati langsung melalui membran transparan.
Colossal menargetkan penggunaan teknologi ini untuk "menghidupkan kembali" burung yang punah seperti moa raksasa dan dodo. Rencananya, genom emu akan dimodifikasi secara genetik agar menyerupai moa, lalu embrio hasil rekayasa ditetaskan dalam telur buatan. Pendekatan serupa juga diterapkan untuk mengubah merpati Nicobar menjadi dodo. Namun, para ilmuwan mengingatkan bahwa perkembangan embrio burung sangat kompleks dan spesifik spesies; belum diketahui apakah telur buatan dapat menghasilkan individu yang sehat.
Di sisi lain, teknologi ini membuka peluang besar bagi konservasi spesies yang terancam punah. Telur yang rusak akibat induk yang tidak berpengalaman, kecelakaan, atau cuaca buruk bisa diselamatkan dengan memindahkannya ke telur buatan. Ketika dikombinasikan dengan rekayasa genom, telur buatan dapat membantu mengembalikan keragaman genetik yang hilang atau membuat burung kebal terhadap penyakit. Namun, untuk spesies yang sangat langka dengan jumlah telur sedikit, diperlukan pengembangan burung transgenik agar dapat menghasilkan cukup embrio.
Meski potensinya besar, sejumlah persoalan etika dan praktis masih mengemuka. Penggunaan teknologi ini dalam konservasi, terutama jika melibatkan rekayasa genetika dan burung transgenik, memerlukan keterlibatan transparan dengan komunitas adat sebagai penjaga spesies. Di Selandia Baru, misalnya, masyarakat MΔori dan publik menentang rencana Colossal untuk "menghidupkan kembali" moa demi ekowisata. Selain itu, ada kekhawatiran bahwa teknologi ini akan diprivatisasi sehingga tidak dapat diakses oleh organisasi konservasi publik.
Colossal telah mengumpulkan dana besar dari investor swasta untuk mengembangkan teknologi ini. Dana tersebut, menurut perusahaan, merupakan tambahan yang tidak akan tersedia untuk konservasi konvensional. Namun, para ahli menekankan bahwa telur buatan bukanlah peluru ajaib. Dalam jangka pendek, upaya menyelamatkan spesies dari kepunahan masih bergantung pada pengendalian predator dan restorasi habitat. Teknologi ini mungkin hanya menjadi alat bantu, bukan solusi utama.



