Diet Nabati Berkualitas Tinggi Lindungi Otak dari Alzheimer, Bahkan Jika Dimulai pada Usia Lanjut
Baca dalam 60 detik
- Studi terhadap 93.000 orang dewasa menunjukkan bahwa kualitas diet nabati sangat memengaruhi risiko terkena Alzheimer dan demensia.
- Mengonsumsi makanan nabati sehat seperti sayuran dan biji-bijian menurunkan risiko demensia, sementara mengonsumsi makanan nabati olahan tinggi gula dan garam justru meningkatkan risiko.
- Kabar baiknya, beralih dari diet nabati tidak sehat ke yang lebih sehat mampu menurunkan risiko demensia hingga 11%, dan perubahan ini terbukti efektif meski baru dimulai pada usia di atas 60 tahun.

Sebuah studi berskala besar yang diterbitkan dalam jurnal Neurology mengungkapkan bahwa diet nabati (plant-based diet) dapat membantu menurunkan risiko penyakit Alzheimer dan demensia, asalkan diet tersebut terdiri dari makanan berkualitas tinggi. Sebaliknya, diet nabati yang tidak sehat justru dapat meningkatkan risiko tersebut.
Fakta Kunci Penelitian Diet Nabati dan Alzheimer:
- Skala Penelitian: Melibatkan hampir 93.000 orang dewasa dari berbagai kelompok etnis dengan usia rata-rata 59 tahun, yang dipantau selama kurang lebih 11 tahun.
- Dampak Kualitas Diet: Peserta dengan pola makan nabati paling sehat (biji-bijian utuh, sayuran, kacang-kacangan) mengalami penurunan risiko demensia sebesar 7%. Sebaliknya, mereka yang banyak mengonsumsi makanan nabati tidak sehat (makanan olahan, gorengan, tinggi gula/garam) mengalami peningkatan risiko sebesar 6%.
- Tidak Ada Kata Terlambat: Mengubah pola makan dari tidak sehat menjadi sehat pada usia di atas 60 tahun terbukti mampu menurunkan risiko demensia hingga 11%.
Penelitian ini dipimpin oleh Dr. Song-Yi Park dari Pusat Kanker Universitas Hawaii. Menurutnya, meskipun makanan nabati secara umum telah lama dikaitkan dengan manfaat kesehatan, kualitas spesifik dari makanan tersebut ternyata membawa efek yang sangat berlawanan terhadap risiko masalah kognitif.
"Fakta bahwa kami menemukan hubungan demensia terkuat dari perubahan pada makanan nabati yang tidak sehat... tampaknya membantu untuk memahami perubahan apa yang bisa kita mulai. Dan pola hubungan ini serupa pada orang yang berusia lebih muda atau lebih tua dari 60 tahun, yang menunjukkan bahwa tidak ada kata terlambat untuk membuat perubahan pada usia yang lebih tua," jelas Dr. Song-Yi Park.
Dampak Perubahan Diet Seiring Waktu
Para peneliti juga meneliti subkelompok peserta selama periode 10 tahun secara spesifik untuk melihat bagaimana perubahan kebiasaan makan mereka memengaruhi risiko demensia di kemudian hari.
| Perubahan Pola Makan (Periode 10 Tahun) | Dampak pada Risiko Demensia |
|---|---|
| Beralih ke Diet Nabati yang Lebih Sehat (meninggalkan makanan nabati olahan/tidak sehat) | Menurunkan risiko demensia sebesar 11%. |
| Beralih ke Diet Nabati Tidak Sehat (meningkatkan konsumsi makanan ultra-proses, gorengan, manis, dsb.) | Meningkatkan risiko demensia secara drastis hingga 25%. |
Para ahli medis dan ahli gizi menyarankan agar masyarakat memprioritaskan makanan nabati utuh yang diproses secara minimal, memperhatikan asupan warna dan variasi sayuran di setiap porsi makan, serta menyertakan lemak sehat (seperti minyak zaitun ekstra perawan, kenari, atau biji rami) untuk mengoptimalkan fungsi otak dan perlindungan kognitif.



