Obat Alzheimer Leqembi Tahan Perkembangan Penyakit pada 75% Pasien dalam Studi Nyata
Baca dalam 60 detik
- Studi LEADER terhadap 432 pasien Alzheimer awal menunjukkan 75,9% tetap stabil setelah 17 bulan terapi Leqembi, dengan 6,6% mengalami perbaikan stadium.
- Tingkat kepatuhan terapi mencapai 87%, menandakan penerimaan pasien terhadap pengobatan di luar uji klinis terkontrol.
- Temuan ini memperkuat potensi Leqembi dalam praktik rutin, meski tanpa kelompok kontrol, sehingga belum bisa disimpulkan sebagai bukti definitif.

Lebih dari tiga perempat pasien Alzheimer tahap awal yang menjalani terapi Leqembi (lecanemab) berhasil mempertahankan stadium penyakitnya setelah rata-rata 17 bulan pengobatan, menurut data studi dunia nyata yang dipresentasikan dalam Alzheimer’s Association International Conference (AAIC) 2026.
Studi observasional retrospektif bernama LEADER ini mengevaluasi efektivitas lecanemab dalam praktik klinis rutin di berbagai pusat layanan kesehatan Amerika Serikat. Dari 432 partisipan yang telah menerima setidaknya tujuh kali infus, 75,9% menunjukkan kondisi stabil, sementara 6,6% lainnya mengalami perbaikan satu stadium — dari demensia ringan menjadi gangguan kognitif ringan (MCI). Secara keseluruhan, hampir 83% pasien tidak mengalami perburukan stadium.
“Temuan ini menggembirakan, namun stabilitas yang dimaksud adalah tetap dalam stadium klinis yang sama, bukan berarti tidak ada penurunan kognitif atau fungsional sama sekali,” ujar Dung Trinh, MD, internis di MemorialCare Medical Group yang tidak terlibat dalam studi. Ia menekankan bahwa hasil ini merupakan sinyal dunia nyata yang positif, bukan jaminan manfaat individual.
Leqembi, yang dikembangkan oleh Eisai dan Biogen, merupakan antibodi monoklonal yang menargetkan plak beta-amiloid di otak. Obat ini telah mendapat persetujuan FDA untuk pasien Alzheimer awal dengan MCI atau demensia ringan yang disertai akumulasi amiloid. Pada Juli 2026, FDA juga menyetujui formulasi suntik subkutan mingguan yang dapat diberikan di rumah.
Yang membedakan studi LEADER dari uji klinis sebelumnya seperti CLARITY AD adalah sifatnya yang mencerminkan praktik sehari-hari. Pasien dalam studi ini lebih beragam secara demografis dan memiliki kondisi kesehatan penyerta yang kerap dieksklusi dalam uji acak terkontrol. Meski demikian, Trinh mengingatkan bahwa tanpa kelompok pembanding, tidak mungkin memastikan seberapa besar efek langsung obat terhadap stabilitas yang diamati.
“Uji acak terkontrol tetap menjadi bukti terkuat untuk menentukan efikasi, sementara studi dunia nyata membantu klinisi memahami implementasi dan pengalaman pasien di luar lingkungan percobaan,” jelas Trinh. Ia menambahkan bahwa LEADER melengkapi, bukan menggantikan, bukti dari CLARITY AD.
Bagi Indonesia, temuan ini membuka diskusi tentang kesiapan sistem kesehatan dalam mengadopsi terapi modifikasi penyakit Alzheimer. Saat ini, akses terhadap obat anti-amiloid masih sangat terbatas di Tanah Air, dan diagnosis dini melalui pencitraan amiloid atau biomarker darah belum menjadi standar. Jika Leqembi suatu saat masuk ke pasar Indonesia, diperlukan infrastruktur diagnostik, pemantauan MRI, dan koordinasi perawatan yang matang — sebagaimana ditekankan oleh Trinh.
“Keputusan terapi harus individual, mempertimbangkan konfirmasi patologi amiloid, risiko ARIA, status APOE ε4, dan dukungan pengasuh,” pungkasnya. Studi LEADER diharapkan terus diikuti untuk mengevaluasi hasil jangka panjang, termasuk strategi dosis pemeliharaan dan formulasi subkutan yang sedang dikembangkan. Pertanyaan besarnya: akankah sistem kesehatan Indonesia siap ketika terapi ini tersedia?



