Tes Darah Alzheimer Mampu Deteksi Risiko Hingga 10 Tahun Sebelum Gejala Muncul
Baca dalam 60 detik
- Penanda biologis p-tau217 dalam darah dapat memprediksi gangguan kognitif pada lansia tanpa gejala hingga satu dekade ke depan.
- Studi gabungan dari enam kohort menunjukkan risiko 38% dalam 5 tahun dan 78% dalam 10 tahun pada individu dengan kadar p-tau217 sangat tinggi.
- Meski menjanjikan, tes ini belum direkomendasikan untuk skrining rutin; aplikasi utamanya saat ini untuk riset dan uji klinis pencegahan.

Sebuah studi terbaru mengungkapkan bahwa tes darah sederhana mampu memperkirakan risiko seseorang terkena Alzheimer hingga sepuluh tahun sebelum gejala kognitif pertama muncul, membuka peluang baru dalam deteksi dini penyakit neurodegeneratif yang selama ini sulit diantisipasi.
Penelitian yang dipresentasikan dalam Konferensi Internasional Asosiasi Alzheimer dan dipublikasikan di jurnal JAMA ini menganalisis data dari 2.684 lansia yang masih sehat secara kognitif di Amerika Utara, Jepang, dan Australia. Para peserta menjalani pengukuran kadar protein phosphorylated tau 217 (p-tau217) dalam darah serta pemindaian PET otak saat awal studi, lalu dievaluasi fungsi kognitifnya setiap tahun selama beberapa tahun. Hasilnya, sebanyak 478 partisipan mengalami penurunan kognitif selama masa pemantauan.
Individu dengan kadar p-tau217 tertinggi saat awal studi memiliki probabilitas 38% mengalami gangguan kognitif dalam lima tahun, dan risiko itu melonjak hingga 78% dalam sepuluh tahun. Menariknya, kemampuan prediktif ini tetap signifikan meskipun faktor risiko lain seperti plak beta-amiloid dan varian genetik APOE4 telah diperhitungkan. โIni menunjukkan bahwa p-tau217 menangkap aspek biologi Alzheimer yang tidak sepenuhnya dijelaskan oleh plak amiloid saja,โ ujar Rachel Buckley, peneliti utama dari Mass General Brigham Neuroscience Institute.
Meski hasilnya menggembirakan, para peneliti menekankan bahwa tes ini belum siap digunakan untuk skrining rutin pada populasi sehat tanpa gejala. Saat ini belum ada terapi pencegahan yang terbukti efektif bagi individu yang teridentifikasi berisiko tinggi hanya berdasarkan tes darah. โKami tidak merekomendasikan penerapan tes darah di klinik untuk lansia tanpa gejala kognitif,โ tegas Buckley. Namun, ia optimistis peran biomarker ini akan berubah jika uji klinis terapi anti-amiloid menunjukkan hasil positif pada kelompok tanpa gejala.
Dalam konteks Indonesia, temuan ini memiliki implikasi penting mengingat prevalensi demensia diperkirakan terus meningkat seiring bertambahnya usia harapan hidup. Kementerian Kesehatan mencatat lebih dari 1,2 juta orang di Indonesia hidup dengan demensia, dan angka ini diproyeksikan naik dua kali lipat pada 2030. Sayangnya, akses terhadap pemindaian PET dan analisis cairan serebrospinal masih sangat terbatas dan mahal. Tes darah berbasis p-tau217 yang lebih murah dan mudah dilakukan bisa menjadi solusi skrining awal, terutama jika nantinya dikombinasikan dengan program deteksi dini di puskesmas dan rumah sakit daerah.
Ke depan, para ahli membayangkan plasma p-tau217 dapat menjadi bagian dari pemeriksaan tahunan rutin bagi lansia, serupa dengan pemeriksaan HbA1c untuk diabetes atau kolesterol untuk risiko kardiovaskular. โKami berharap suatu hari nanti, tes ini bisa memberi tahu seseorang seberapa besar risikonya mengalami gangguan kognitif dalam 10 tahun ke depan, sehingga intervensi pencegahan bisa dimulai lebih awal,โ ujar Buckley. Namun, untuk mewujudkannya, diperlukan validasi lebih lanjut pada populasi yang lebih beragam, termasuk di negara berkembang seperti Indonesia, serta integrasi dengan faktor komorbid seperti penyakit ginjal dan kardiovaskular.
Pertanyaan yang masih menggantung: akankah sistem kesehatan Indonesia siap mengadopsi teknologi biomarker ini ketika waktunya tiba, atau justru akan tertinggal seperti halnya akses terapi Alzheimer yang masih sangat terbatas?



