Jeritan dari Oktagon: Debat Gaji Petarung UFC Memanas Usai Gelaran UFC London
Baca dalam 60 detik
- Isu gaji petarung UFC kembali meledak setelah terungkapnya nilai kontrak fantastis di dunia tinju yang jauh melampaui pendapatan atlet MMA papan atas sekalipun.
- Para petarung seperti Nathaniel Wood dan Michael Page menyuarakan kekecewaan mereka karena merasa beban kerja dan risiko nyawa di MMA tidak dihargai secara finansial oleh promotor.
- Dana White membela diri dengan mengklaim bahwa pendapatan atlet akan terus meningkat berkat kesepakatan hak siar baru bernilai miliaran poundsterling, namun para atlet mulai mencari jalan keluar dengan menandatangani kontrak penasihat komersial di luar ekosistem UFC.

Kemenangan gemilang para petarung di UFC London ternyata menyisakan sisi kelam yang menyayat hati. Isu ketimpangan gaji antara atlet MMA dan petinju profesional kembali mencuat ke permukaan, memicu perdebatan mengenai kesejahteraan para petarung yang mempertaruhkan nyawa di dalam sangkar.
Melansir laporan BBC Sport pada Minggu (22/3/2026), kemarahan para atlet dipicu oleh kabar petinju Conor Benn yang mendapatkan kontrak satu pertarungan senilai £11 juta (sekitar Rp220 miliar) dari Zuffa Boxing—perusahaan yang juga dimiliki bos UFC, Dana White. Kontras yang tajam terlihat karena UFC hanya mengalokasikan sekitar 20% dari pendapatan mereka untuk gaji petarung, sementara dalam dunia tinju, atlet bisa menerima hingga 60% dari total pendapatan acara.
Kritik serupa datang dari Michael 'Venom' Page yang melakukan aksi protes melalui lagu jalan masuk (walkout) Michael Jackson berjudul "They Don't Care About Us". Page menegaskan bahwa meski MMA adalah olahraga dengan pertumbuhan tercepat, kesejahteraan atletnya tidak ikut tumbuh sebanding dengan risiko nyawa yang mereka hadapi. Hal ini memaksa bintang besar seperti juara kelas berat Tom Aspinall untuk mencari penghasilan tambahan melalui kesepakatan komersial dengan promotor tinju Eddie Hearn guna memaksimalkan kekayaan di luar kontrak UFC.
- Perbandingan Drastis: Alokasi pendapatan untuk atlet di UFC (20%) jauh di bawah standar tinju profesional (60%).
- Pembelaan Dana White: Menegaskan bahwa gaji petarung terus naik sejak 2001 dan akan "baik-baik saja" seiring kontrak siaran baru senilai £5,7 miliar dengan Paramount.
- Strategi Atlet: Petarung kini dipaksa membangun "personal branding" dan mencari sponsor luar secara mandiri agar tidak sepenuhnya bergantung pada bayaran per laga dari promotor.
Keresahan ini semakin nyata dirasakan oleh petarung kartu bawah (undercard) yang seringkali memberikan aksi terbaik namun menerima bayaran yang sangat minim. Berikut adalah ringkasan poin perdebatan gaji atlet MMA saat ini:
| Aspek Perbandingan | UFC (MMA) | Tinju Profesional |
|---|---|---|
| Pembagian Pendapatan | ± 20% untuk Atlet | ± 60% untuk Atlet |
| Kebebasan Kontrak | Eksklusif (Dilarang ikut promosi lain) | Lebih Fleksibel / Independen |
| Risiko Fisik | Sangat Tinggi (Multi-disiplin) | Tinggi (Fokus pukulan kepala/tubuh) |



