Studi Ungkap Perempuan Autis Hadapi Menopause Lebih Berat, Ini Penjelasannya
Baca dalam 60 detik
- Penelitian baru di jurnal Autism in Adulthood menemukan perempuan dengan autisme melaporkan gejala menopause yang lebih parah, terutama gejala psikologis, dibandingkan perempuan neurotipikal.
- Rasa kurang mampu mengendalikan gejala dan pemahaman yang rendah tentang perubahan tubuh menjadi penyebab utama memburuknya pengalaman menopause pada kelompok autis.
- Pendekatan personal seperti pencatatan gejala, rutinitas yang dapat diprediksi, dan lingkungan ramah sensorik dinilai dapat membantu meringankan transisi menopause.

Perempuan dengan autisme ternyata menghadapi transisi menopause yang lebih berat dibandingkan mereka yang tidak memiliki kondisi neurodevelopmental tersebut. Temuan ini berasal dari studi terbaru yang diterbitkan di jurnal Autism in Adulthood, yang menyoroti bagaimana cara pandang dan pemahaman seseorang terhadap menopause memengaruhi tingkat keparahan gejala yang dialami.
Penelitian melibatkan 901 partisipan berusia 40 hingga 60 tahun, terdiri dari 476 individu autis (baik terdiagnosis formal maupun mengidentifikasi diri) dan 425 individu neurotipikal. Selama lima minggu, mereka mengisi kuesioner online setiap pekan untuk melacak gejala menopause, kondisi kesehatan mental, dan kualitas hidup. Para peneliti juga mengontrol faktor usia, pendidikan, pekerjaan, dan perilaku kesehatan.
Hasilnya konsisten: kelompok autis melaporkan gejala menopause yang lebih parah, terutama gejala psikologis seperti perubahan suasana hati dan distress emosional, baik selama perimenopause maupun pascamenopause. Mereka juga menunjukkan tingkat depresi dan kecemasan yang lebih tinggi serta kualitas hidup yang lebih rendah.
Mengapa hal ini terjadi? Para peneliti menemukan bahwa perempuan autis merasa kurang mampu mengendalikan gejala menopause dan memiliki pemahaman yang lebih kabur tentang apa yang terjadi pada tubuh mereka. Konsep ini disebut sebagai "representasi menopause" โ keyakinan dan persepsi individu terhadap proses menopause. Lemahnya rasa kontrol dan koherensi pemahaman ini secara statistik memediasi hubungan antara autisme dan keparahan gejala.
Faktor-faktor khas autisme turut memperburuk situasi. Kesulitan menghadapi perubahan, sensitivitas sensorik yang tinggi, serta tantangan dalam mengenali sinyal internal tubuh (interoception) membuat perempuan autis merasa kebingungan dan kehilangan kendali saat menopause. Studi sebelumnya juga mengungkap bahwa kelompok ini sering merasa tidak siap menghadapi menopause, sehingga pengalaman tersebut menjadi lebih menantang.
"Dengan mencatat perubahan pola tidur, suasana hati, sensitivitas sensorik, dan tingkat energi, Anda dapat mengenali pola. Setelah itu, diskusikan temuan tersebut dengan penyedia layanan kesehatan untuk mendapatkan perawatan yang lebih tepat," ujar Linda Dolin, MD, Direktur Medis The Sylvia Brafman Mental Health Center, yang terlibat dalam penelitian.
Dolin menambahkan bahwa rencana perawatan menopause sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan individu. "Menciptakan rutinitas yang dapat diprediksi dan menggunakan lingkungan ramah sensorik, dikombinasikan dengan dukungan medis atau kesehatan mental, dapat sangat meringankan transisi menopause," katanya.
Senada dengan itu, Shannon Franklin, PsyD, psikolog berlisensi di Element Q Healing, menekankan pentingnya mencari penyedia layanan yang memahami menopause sekaligus autisme. "Perempuan perlu memiliki kesempatan untuk menjelaskan apa yang memengaruhi kesejahteraan mereka dan bertanya tentang pilihan pengobatan. Mereka tidak ingin sekadar beradaptasi dengan semua perubahan; mereka ingin belajar mengelolanya dengan cara mereka sendiri," ujarnya.
Meski studi ini dilakukan di luar Indonesia, implikasinya relevan bagi layanan kesehatan di Tanah Air. Kesadaran akan autisme pada perempuan dewasa masih rendah, dan akses terhadap layanan kesehatan mental yang sensitif gender serta neurodiversitas belum merata. Diperlukan edukasi bagi tenaga kesehatan agar mampu mengenali kebutuhan khusus perempuan autis dalam menghadapi menopause, sehingga mereka tidak hanya terfokus pada gejala fisik, tetapi juga aspek psikologis dan sensorik.
Ke depan, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengembangkan intervensi yang tepat sasaran, misalnya program dukungan sebaya atau panduan mandiri berbasis digital yang ramah autisme. Pertanyaannya, apakah sistem kesehatan kita siap memberikan perhatian yang setara bagi kelompok rentan ini?



