Terapi Hormon Pengganti dan Migrain: Kaitan yang Perlu Dipahami Perempuan Pascamenopause
Baca dalam 60 detik
- Tinjauan sistematis terhadap 23.702 perempuan pascamenopause menemukan bahwa pengguna terapi hormon mengalami serangan migrain 1,16 kali lebih sering per bulan dan durasi serangan rata-rata 0,95 hari lebih lama.
- Estrogen disebut sebagai pemicu migrain yang kuat, sehingga penambahan hormon eksogen dapat mempertahankan sensitivitas yang seharusnya mereda setelah menopause.
- Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa temuan ini tidak boleh menjadi alasan untuk menghindari terapi hormon; keputusan harus didiskusikan dengan dokter.

Sebuah tinjauan sistematis yang dipresentasikan pada Pertemuan Tahunan The Menopause Society 2026 mengungkap bahwa perempuan pascamenopause yang menjalani terapi hormon (HT) cenderung mengalami migrain lebih sering dan lebih lama. Temuan ini menyoroti perlunya pemahaman lebih dalam mengenai interaksi antara fluktuasi hormon dan nyeri kepala pada kelompok usia tersebut.
Studi yang menganalisis data dari 23.702 perempuan pascamenopause pengguna HT dalam lima penelitian menemukan bahwa prevalensi migrain mencapai 19% di antara populasi tersebut. Para peneliti mengidentifikasi adanya kaitan antara konsumsi HT dan peningkatan frekuensi serangan migrain, serta perpanjangan durasi episode. Secara spesifik, serangan migrain terjadi 1,16 kali lebih sering setiap bulan, dan setiap episode rata-rata berlangsung 0,95 hari lebih lama dibandingkan tanpa HT. Meski demikian, tidak ada perbedaan signifikan dalam jumlah obat pereda nyeri yang dikonsumsi atau tingkat keparahan nyeri yang dilaporkan.
Dr. Kecia Gaither, spesialis kebidanan dan ginekologi bersertifikat ganda serta profesor di Weill Cornell Medicine, menilai hasil ini tidak mengejutkan. Menurutnya, estrogen merupakan pemicu migrain yang kuat. Setelah menopause, migrain sering mereda ketika kadar estrogen stabil di level rendah. Namun, penambahan estrogen kembali melalui terapi dapat mempertahankan sensitivitas hormon yang seharusnya sudah menurun. "Temuan penting di sini adalah tentang beban, bukan intensitas. Perempuan yang menjalani HRT rata-rata mengalami satu serangan tambahan dan satu hari migrain ekstra per bulan. Nyeri mereka tidak lebih buruk dan mereka tidak membutuhkan lebih banyak obat pereda nyeri. Perbedaan ini nyata dan dapat didiskusikan dengan dokter, tetapi tergolong modest dan bukan alasan untuk menghindari HRT," ujar Gaither seperti dikutip Medical News Today.
Direktur medis The Menopause Society, Dr. Stephanie Faubion, dalam siaran pers menyatakan bahwa perempuan dengan migrain mungkin lebih cenderung mencari pengobatan untuk gejala menopause. Gaither menjelaskan bahwa migrain dan gejala menopause cenderung saling memperburuk. Hot flashes dan keringat malam mengganggu tidur, sementara kurang tidur dan perubahan suasana hati adalah pemicu migrain yang sudah dikenal. "Perempuan dengan migrain sensitif hormon mungkin juga mengalami perimenopause yang lebih berat, dan mereka yang sudah rutin berkonsultasi untuk migrain lebih mungkin memiliki gejala menopause yang terdeteksi dan ditangani. Ini menciptakan bias seleksi. Perempuan yang memulai terapi hormon mungkin sudah memiliki migrain yang lebih buruk sebelumnya," tambahnya.
Meskipun demikian, penelitian ini tidak membuktikan hubungan sebab-akibat antara HT dan serangan migrain. Gaither menekankan bahwa para penulis sendiri menyatakan perlunya uji klinis lebih lanjut. Ia juga menyoroti beberapa keterbatasan penelitian, termasuk desain observasional dan kurangnya data tentang jenis, dosis, serta rute pemberian hormon. "Penelitian lebih lanjut diperlukan sebelum mempertimbangkan pengobatan alternatif bagi mereka yang mengalami migrain dan sedang atau berencana menggunakan HT selama atau setelah menopause," jelasnya.
"Jika seorang perempuan mengalami aura baru dengan migrain, atau perubahan aura (berlangsung lebih lama atau muncul berbeda), ia harus berhenti dan mencari perhatian medis darurat, terutama jika terjadi kehilangan penglihatan, kelemahan, mati rasa, atau kesulitan berbicara. Jika tidak, bicarakan dengan penyedia layanan kesehatan sebelum menghentikan obat," pesan Gaither.
Bagi perempuan dengan riwayat migrain, penting untuk memberi tahu profesional medis sebelum memulai HT, karena beberapa jenis terapi hormon mungkin lebih sesuai. Gaither juga menyarankan untuk memantau gejala dan mendiskusikan pilihan pengobatan dengan dokter. "Perubahan pada pengobatan apa pun harus selalu dikonsultasikan dengan dokter," tegasnya.
Konteks Indonesia: Meskipun data spesifik untuk populasi Indonesia belum tersedia, temuan ini relevan bagi perempuan Indonesia yang memasuki masa menopause dan mempertimbangkan terapi hormon. Dengan meningkatnya kesadaran akan kesehatan menopause, diskusi mengenai risiko dan manfaat HT perlu mempertimbangkan faktor individu seperti riwayat migrain. Dokter di Indonesia diharapkan dapat memberikan panduan berbasis bukti yang disesuaikan dengan karakteristik pasien.
Ke depan, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memahami mekanisme pasti di balik hubungan HT dan migrain, serta mengidentifikasi subkelompok perempuan yang mungkin paling rentan. Sementara itu, perempuan pascamenopause yang menjalani HT dan mengalami perubahan pola migrain disarankan untuk segera berkonsultasi dengan dokter guna memastikan penanganan yang tepat.



