Studi Besar di China: 6–8 Cangkir Teh Sehari Turunkan Risiko Penyakit Vaskular 11%
Baca dalam 60 detik
- Analisis terhadap 485.934 peserta China Kadoorie Biobank menemukan korelasi antara kebiasaan minum teh dan penurunan risiko penyakit pembuluh darah hingga 11%.
- Teh hitam menunjukkan asosiasi terkuat, sementara teh hijau tetap bermanfaat; namun suhu 'mendidih' justru meningkatkan risiko 16%.
- Para ahli menekankan temuan ini bersifat observasional dan tidak menggantikan gaya hidup sehat seperti berhenti merokok dan olahraga teratur.

Minum teh secara rutin—terutama jenis hitam—dikaitkan dengan risiko penyakit pembuluh darah yang lebih rendah, menurut studi kohort besar yang dipublikasikan di Journal of Internal Medicine. Penelitian yang melibatkan hampir setengah juta partisipan dari China Kadoorie Biobank ini menemukan bahwa mereka yang mengonsumsi teh setidaknya tiga hari seminggu memiliki risiko relatif 11% lebih rendah terkena penyakit vaskular dibandingkan bukan peminum teh.
Studi yang dipimpin peneliti dari China ini menganalisis data 485.934 orang dewasa tanpa riwayat penyakit kardiovaskular saat awal pendaftaran. Selama rata-rata 9,05 tahun pemantauan, tercatat 14.863 kasus penyakit vaskular insiden. Para peneliti mendefinisikan peminum teh rutin sebagai mereka yang minum teh minimal tiga hari per minggu, dan menemukan bahwa kelompok dengan asupan sekitar 6–8 cangkir per hari menunjukkan risiko terendah. Teh dengan kekuatan sedang (tidak terlalu pekat atau encer) juga dikaitkan dengan risiko paling rendah.
Menariknya, jenis teh memengaruhi besaran manfaat. Teh hitam menunjukkan asosiasi paling kuat, dengan penurunan risiko relatif setidaknya 35% dibandingkan bukan peminum teh. Teh hijau juga memberikan manfaat, meski tidak sebesar teh hitam. Namun, para peneliti mengingatkan bahwa perbedaan ini bisa dipengaruhi oleh faktor gaya hidup, metode penyeduhan, dan karakteristik peserta.
"Saya tidak terlalu terkejut dengan temuan ini. Teh mengandung antioksidan dan polifenol yang dapat membantu mengurangi peradangan, memperbaiki fungsi pembuluh darah, dan menurunkan stres oksidatif—semuanya berkontribusi terhadap penyakit kardiovaskular," ujar Dr. Christopher Yi, ahli bedah vaskular bersertifikat dari MemorialCare Orange Coast Medical Center, yang tidak terlibat dalam studi.
Meski demikian, Yi menekankan bahwa angka 11% tersebut bermakna secara klinis mengingat prevalensi penyakit kardiovaskular yang tinggi. "Namun studi ini menunjukkan asosiasi, bukan bukti bahwa minum teh secara langsung mencegah penyakit vaskular," tambahnya. Ia juga menyoroti keterbatasan studi, seperti pengukuran asupan teh yang hanya sekali, ukuran cangkir yang tidak distandarkan, dan ketidakmampuan membuktikan hubungan sebab-akibat.
Temuan lain yang mengejutkan adalah efek suhu teh. Partisipan yang mengonsumsi teh dengan suhu "mendidih" (berdasarkan persepsi subjektif) memiliki risiko 16% lebih tinggi dibandingkan bukan peminum teh. "Ini temuan menarik karena kita biasanya mengaitkan teh dengan manfaat kardiovaskular. Peningkatan risiko akibat teh sangat panas mungkin melibatkan cedera termal dan peradangan, meski mekanismenya belum jelas," kata Yi. Ia menyarankan untuk membiarkan teh sedikit mendingin sebelum diminum sebagai tindakan pencegahan yang wajar.
Studi ini juga menegaskan bahwa manfaat teh tidak berdiri sendiri. Kombinasi minum teh rutin dengan tidak merokok dan aktivitas fisik tinggi menghasilkan penurunan risiko penyakit vaskular paling besar. "Saya pikir ini salah satu temuan terpenting karena menegaskan bahwa kesehatan kardiovaskular bergantung pada berbagai faktor gaya hidup, bukan satu kebiasaan tertentu," ujar Yi. "Menghindari rokok dan menjaga aktivitas fisik adalah cara paling efektif mengurangi risiko penyakit kardiovaskular. Konsumsi teh mungkin memberikan manfaat tambahan, tetapi harus melengkapi, bukan menggantikan, langkah pencegahan yang sudah mapan."
Bagi masyarakat Indonesia, temuan ini relevan mengingat tingginya konsumsi teh, terutama teh manis dalam kemasan atau warung makan. Namun, perlu dicatat bahwa studi ini menggunakan teh tanpa pemanis tambahan. Menambahkan gula berlebihan justru dapat menghilangkan manfaat kesehatan dan meningkatkan risiko obesitas serta diabetes—faktor risiko utama penyakit jantung. Selain itu, kebiasaan minum teh panas ala Indonesia (seperti teh tubruk atau teh tarik) perlu diperhatikan suhunya agar tidak terlalu panas.
Ke depan, pertanyaan yang tersisa adalah apakah manfaat teh ini bertahan pada populasi non-Asia, mengingat studi dilakukan di China dengan pola konsumsi teh yang khas. Hingga ada uji klinis lebih lanjut, teh tetap dapat menjadi bagian dari gaya hidup sehat jantung, asalkan tidak menggantikan pengelolaan faktor risiko yang sudah terbukti seperti tekanan darah tinggi, kolesterol, dan gula darah.



