Menkes Budi Peringatkan Bahaya PM2.5 di Palangka Raya: Masker Dobel Tak Cukup
Baca dalam 60 detik
- Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyoroti kualitas udara Palangka Raya yang memburuk akibat kabut asap dan konsentrasi PM2.5 yang sangat tinggi.
- Ia menegaskan pemakaian masker ganda tidak efektif jika tidak menutup rapat wajah, sehingga risiko paparan partikel halus tetap besar.
- Warga diminta waspada terhadap gejala pernapasan dan segera mencari bantuan medis jika mengalami batuk berat atau sesak napas.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengeluarkan peringatan serius terkait memburuknya kualitas udara di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, yang diselimuti kabut asap tebal dengan kadar partikel halus PM2.5 sangat tinggi. Pernyataan itu disampaikan melalui akun Instagram resminya pada Minggu (25/10), menandakan bahwa kondisi udara di wilayah tersebut telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan bagi kesehatan publik.
Dalam unggahannya, Budi menekankan bahwa partikel PM2.5 berukuran sangat kecil sehingga mampu menembus saluran pernapasan hingga ke paru-paru. Paparan partikel ini meningkatkan risiko gangguan pernapasan dan berbagai masalah kesehatan lainnya. Ia pun mengingatkan masyarakat untuk tidak menganggap remeh ancaman tersebut.
"Kondisi udara di Palangka Raya saat ini sedang tidak baik-baik saja. Kabut asapnya sangat tebal dengan tingkat polusi PM2.5 yang sangat tinggi. Partikel ini sangat kecil dan berbahaya," ujar Budi.
Lebih lanjut, Budi menyoroti kesalahpahaman umum tentang penggunaan masker. Menurutnya, memakai masker rangkap dua tidak akan memberikan perlindungan optimal jika pinggirannya tidak menempel rapat pada wajah. Masker harus terpasang erat sehingga tidak ada celah di sekitar hidung maupun pipi. "Sekadar mendobel masker saja tidak akan efektif dan bahkan salah kaprah kalau pinggirannya tidak rapat," tegasnya.
Imbauan Budi juga mencakup langkah preventif bagi warga yang mulai merasakan gejala. Ia meminta siapa pun yang mengalami batuk berat atau sesak napas untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat. Langkah ini penting untuk mencegah komplikasi lebih lanjut, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit pernapasan kronis.
Kualitas udara yang buruk di Palangka Raya bukan kali ini saja terjadi. Kabut asap akibat kebakaran lahan dan hutan kerap menjadi masalah tahunan di Kalimantan, terutama pada musim kemarau. Namun, pernyataan Menteri Kesehatan melalui media sosial pribadi menunjukkan bahwa situasi kali ini mendapat perhatian serius dari pemerintah pusat. Hal ini juga menjadi pengingat bahwa penanganan polusi udara memerlukan upaya lintas sektor, tidak hanya imbauan kesehatan.
Bagi masyarakat, pesan Budi menjadi alarm untuk lebih disiplin dalam melindungi diri. Selain memastikan masker terpasang dengan benar, warga disarankan mengurangi aktivitas luar ruangan saat kualitas udara memburuk, menggunakan penyaring udara di dalam ruangan, dan menjaga hidrasi. Pemerintah daerah diharapkan segera mengambil langkah konkret, seperti memantau kualitas udara secara berkala dan menyediakan ruang udara bersih bagi kelompok rentan.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah peringatan ini akan diikuti dengan tindakan sistematis untuk mengatasi akar masalah kabut asap. Tanpa penanganan serius terhadap sumber polusi, imbauan kesehatan hanya akan menjadi solusi sementara. Masyarakat berhak mendapatkan udara yang layak, dan sudah saatnya upaya preventif tidak berhenti pada kampanye media sosial.


