Studi Global: Perempuan Alami Nyeri Lebih Berat di Seluruh Tubuh, Bukan Sekadar Persepsi
Baca dalam 60 detik
- Analisis terhadap lebih dari 6 juta responden dari 118 negara menegaskan perempuan melaporkan nyeri lebih tinggi di 11 titik tubuh dibandingkan laki-laki.
- Puncak kenaikan nyeri terjadi sebelum usia 55 tahun, tepat di fase produktif dan reproduktif perempuan, sementara nyeri berat memuncak sekitar usia 50.
- Temuan ini memperkuat bukti adanya kesenjangan gender dalam penanganan nyeri yang selama ini sering diabaikan dan kurang diteliti.

Sebuah studi global berskala besar yang diterbitkan di jurnal Nature Medicine mengungkap bahwa perempuan melaporkan tingkat nyeri yang lebih tinggi dibandingkan laki-laki di hampir semua bagian tubuh. Riset ini menganalisis data lebih dari 6 juta orang dari 118 negara selama periode 1990 hingga 2025, mencakup responden usia lima tahun hingga di atas 100 tahun, dan menjadi salah satu upaya harmonisasi data epidemiologi nyeri terbesar yang pernah dilakukan.
Temuan utama riset ini bukan sekadar konfirmasi atas keluhan yang selama ini dianggap subjektif. Perempuan tercatat mengalami nyeri lebih berat di 11 lokasi tubuh, mulai dari kepala, wajah, leher atau bahu, kaki atau pergelangan kaki, tangan atau pergelangan tangan, siku, dada, punggung, perut, pinggul, hingga lutut. Selisih paling mencolok muncul pada nyeri kepala, nyeri wajah, dan nyeri perut.
Yang membuat studi ini layak dicermati adalah pola usia yang terungkap. Kenaikan nyeri paling tajam terjadi sebelum seseorang menginjak usia 55 tahun, lalu mencapai puncaknya pada usia 75 tahun ke atas. Nyeri punggung, pinggul, dan lutut terus meningkat sepanjang hidup. Para penulis menyimpulkan bahwa sebagian besar beban nyeri seumur hidup justru berkembang pada masa dewasa produktif, bukan semata-mata sebagai konsekuensi penuaan.
Studi ini juga menyoroti perbedaan lintas wilayah yang cukup lebar. Kawasan dengan Indeks Pembangunan Manusia rendah mencatat prevalensi nyeri tubuh yang jauh lebih tinggi pada usia lanjut, bahkan hampir dua kali lipat untuk nyeri punggung bawah. Di Oseania, 6,6% nyeri dikaitkan dengan merokok, sementara di Afrika Sub-Sahara hanya 2,5% dan di Eropa Timur 8,5%. Obesitas menyumbang 11,2% beban nyeri secara global, dengan angka tertinggi di Amerika Utara mencapai 14,6% dan terendah di Asia Tengah dan Selatan sebesar 2,7%.
Para peneliti menekankan bahwa estimasi yang ada selama ini bertumpu pada diagnosis klinis, sehingga kelompok dengan akses layanan kesehatan terbatas berisiko tidak terwakili. Pendekatan berbasis laporan mandiri yang mereka gunakan dinilai lebih inklusif dan dapat menjadi dasar pemantauan serta pencegahan yang lebih setara. Mereka juga mencatat keterbatasan riset, termasuk perbedaan metode pengukuran nyeri, cakupan wilayah yang tidak merata, serta desain potong lintang yang tidak mengikuti individu yang sama dari waktu ke waktu.
Profesor Andrew Horne, Direktur Centre for Reproductive Health di University of Edinburgh, menilai riset ini sebagai studi penting yang membuktikan kesenjangan nyeri gender bersifat nyata, konsisten, dan mendunia. Menurutnya, nyeri perempuan masih terlalu sering diabaikan, kurang diteliti, dan kurang ditangani. Ia menekankan perlunya analisis rutin data berdasarkan jenis kelamin, pendanaan riset yang memadai untuk akar biologis dan sosial, serta pengembangan terapi yang lebih personal bagi perempuan.
Senada dengan itu, Profesor Rebeccah Slater dari University of Oxford menyebut adanya paradoks yang mengganggu: perempuan mengalami lebih banyak nyeri, tetapi keluhan mereka justru lebih sering diabaikan, terlambat didiagnosis, atau tidak ditangani dengan tuntas. Ia menilai konsistensi temuan lintas populasi global memperkuat urgensi perubahan pendekatan klinis.
Bagi Indonesia, implikasi temuan ini tidak bisa diabaikan. Dengan populasi perempuan usia produktif yang besar dan beban ganda sebagai pekerja sekaligus pengasuh, pola nyeri yang memuncak sebelum usia 55 tahun berpotensi menekan produktivitas dan kualitas hidup. Sistem layanan kesehatan primer perlu mulai membiasakan pencatatan nyeri berdasarkan jenis kelamin dan kelompok usia, bukan sekadar mengandalkan diagnosis yang bergantung pada akses fasilitas kesehatan.
Pertanyaan yang tersisa adalah sejauh mana temuan ini akan mengubah praktik klinis di negara-negara dengan sumber daya terbatas. Tanpa perbaikan dalam cara tenaga medis mendengarkan dan mencatat keluhan nyeri perempuan, data global sekuat apa pun berisiko hanya menjadi arsip akademik tanpa dampak nyata di ruang periksa.



