Suplemen Oksaloasetat Tunjukkan Harapan Atasi Kabut Otak Pascaterapi Kanker Payudara
Baca dalam 60 detik
- Uji klinis fase 2 skala kecil menemukan suplemen oksaloasetat memperbaiki fungsi kognitif dan mengurangi kelelahan pada penyintas kanker payudara dalam 8 minggu.
- Skor kognitif peserta naik dari rata-rata 29,1 (terganggu) menjadi 55,5 (normal), tetapi studi tanpa kelompok pembanding sehingga efektivitas belum terbukti.
- Peneliti merencanakan uji placebo-controlled dengan 120 peserta untuk memastikan khasiat dan keamanan jangka panjang sebelum merekomendasikan suplemen ini.

Sebuah studi kecil di Amerika Serikat memberikan sinyal positif bagi penyintas kanker payudara yang bergulat dengan kabut otak dan kelelahan berkepanjangan pascaterapi. Suplemen bernama oksaloasetat dilaporkan mampu meredakan gejala tersebut hanya dalam delapan minggu, meski para ahli mengingatkan bahwa bukti masih tahap awal.
Penelitian yang dipimpin Patricia Ganz, profesor di UCLA Fielding School of Public Health, melibatkan 18 perempuan penyintas kanker payudara stadium awal yang didiagnosis satu hingga lima tahun sebelumnya. Semua peserta mengeluhkan gangguan kognitif signifikan yang bertahan setelah perawatan. Rata-rata usia mereka 50 tahun, sebagian besar pernah menjalani kemoterapi, dan 90% masih menerima terapi hormon.
Selama delapan minggu, peserta mengonsumsi 500 miligram oksaloasetat dalam bentuk kapsul dua kali sehari. Dua orang mengundurkan diri karena efek samping gastrointestinal ringan, menyisakan 16 peserta yang menyelesaikan studi. Hasilnya, skor kognitif mereka melonjak dari rata-rata 29,1 (kategori terganggu) menjadi 55,5 (kategori normal) pada akhir penelitian. Para peneliti juga mencatat penurunan signifikan pada kelelahan dan insomnia, serta perbaikan fungsi fisik.
Ganz mengaku awalnya skeptis. "Saya sama sekali tidak yakin dengan manfaat oksaloasetat, tetapi temuan yang konsisten pada semua pasien sangat menggembirakan, terutama perbaikan paralel pada kelelahan, insomnia, dan fungsi fisik yang mendukung adanya respons biologis penting," ujarnya kepada Medical News Today. Sejumlah peserta bahkan memilih melanjutkan konsumsi obat setelah studi berakhir, sebagian hingga lebih dari setahun.
Mekanisme di baliknya diduga berkaitan dengan regulasi glutamat. Kemoterapi dan radioterapi memicu respons neuroinflamasi yang meningkatkan produksi glutamat berlebihan, berujung pada efek neurotoksik yang menyebabkan gejala kognitif dan kelelahan. Oksaloasetat, yang berperan sentral dalam produksi energi sel, diyakini membantu membersihkan glutamat dan meningkatkan fungsi mitokondria.
"Ini adalah studi yang sangat kecil, hanya 18 perempuan, dan tanpa kelompok pembanding kami tidak bisa memastikan apakah suplemen oksaloasetat yang bertanggung jawab atas perbaikan tersebut," kata Kotryna Temcinaite, peneliti senior di Breast Cancer Now, Inggris.
Keterbatasan itu menjadi catatan penting. Temcinaite juga mengingatkan bahwa suplemen tidak tunduk pada regulasi dan pengujian keamanan seketat obat konvensional, serta berpotensi berinteraksi dengan terapi kanker. "Jika seseorang mempertimbangkan mengonsumsi suplemen selama atau setelah pengobatan kanker payudara, diskusikan dulu dengan tim medisnya," tegasnya.
Meski demikian, Ganz optimistis dan sedang menyiapkan uji fase 2 acak dengan kontrol plasebo yang membutuhkan 120 peserta. Uji ini akan menguji dua dosis oksaloasetat versus plasebo, dengan semua peserta berhak menerima obat setelah periode buta. Ia memperkirakan hasilnya keluar dalam dua tahun. "Optimisme jarang meredakan penderitaan atau menyembuhkan kanker, jadi kami perlu melakukan uji untuk mendapatkan bukti. Tidak ada alasan oksaloasetat tidak bermanfaat bagi pasien kanker lain yang mengalami kelelahan dan keluhan kognitif setelah pengobatan," ujarnya.
Bagi Indonesia, temuan ini relevan mengingat beban kanker payudara yang tinggi. Menurut data Globocan 2020, kanker payudara menjadi kanker paling umum pada perempuan Indonesia dengan lebih dari 65.000 kasus baru per tahun. Kualitas hidup penyintas sering terabaikan, padahal kabut otak dan kelelahan dapat menghambat produktivitas. Jika efektivitas oksaloasetat terbukti, suplemen ini berpotensi menjadi terapi pendukung yang terjangkau. Namun, hingga bukti kuat tersedia, penyintas disarankan tetap mengandalkan strategi non-farmakologis seperti aktivitas fisik teratur, pola makan seimbang, dan manajemen istirahat.
Pertanyaan besarnya: akankah uji placebo-controlled yang lebih besar mengonfirmasi manfaat ini, atau justru sebaliknya? Sambil menunggu, kewaspadaan terhadap klaim suplemen tanpa dasar bukti tetap menjadi kunci.



