Bolotana, Desa Baru 'Blue Zone' di Sardinia: 13,8% Perempuan Capai Usia 100 Tahun
Baca dalam 60 detik
- Studi terbaru mengidentifikasi Bolotana, desa pegunungan di Sardinia, sebagai kantong longevity baru dengan proporsi perempuan berusia 100 tahun tertinggi kedua di dunia setelah Hong Kong.
- Fenomena ini menantang pemahaman lama tentang blue zone yang sebelumnya didominasi laki-laki, dan menyoroti peran relasi sosial serta gaya hidup tradisional.
- Temuan ini berimplikasi pada kebijakan kesehatan lansia di Indonesia yang menghadapi bonus demografi dan peningkatan usia harapan hidup.

Sebuah desa kecil di pegunungan Sardinia, Bolotana, mencatatkan proporsi perempuan yang mencapai usia 100 tahun tertinggi kedua di dunia setelah Hong Kong. Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Frontiers in Aging menemukan bahwa 13,8% perempuan di desa tersebut yang berhasil mencapai usia 70 tahun akan hidup hingga satu abad. Angka ini jauh melampaui rata-rata nasional Italia yang hanya 3,5%.
Bolotana, yang terletak sekitar 110 kilometer dari zona biru (blue zone) Sardinia yang pertama kali diidentifikasi pada 1999, kini diusulkan sebagai kandidat zona biru baru. Studi yang dipimpin oleh Giovanni Mario Pes dari Universitas Sassari bersama peneliti dari University of Alabama at Birmingham menganalisis catatan kelahiran antara 1900 dan 1925. Dari 38 orang yang tercatat hidup lebih dari 100 tahun, tingkat longevity-nya 57% lebih tinggi dibanding rata-rata Italia.
Yang membedakan Bolotana dari zona biru lain adalah dominasi perempuan. Jika zona biru Sardinia sebelumnya dikenal karena keseimbangan unik antara laki-laki dan perempuan berusia panjang, di desa ini longevity perempuan justru menonjol. "Yang luar biasa adalah longevity perempuan di Bolotana tiga kali lebih tinggi dibanding sebagian besar perempuan Barat," ujar Pes seperti dikutip The Guardian.
Pes, yang juga salah satu pencetus konsep blue zone, menekankan bahwa temuan ini memperluas pemahaman tentang longevity. "Untuk pertama kalinya dalam lebih dari 25 tahun, kami menemukan tempat longevity di luar zona biru konvensional," ujarnya. Meski demikian, ia enggan berspekulasi tentang rahasia umur panjang warga desa, dan menyatakan studi ini "terbatas pada menunjukkan keberadaan fenomena."
Namun, setelah berinteraksi dengan para centenarian, Pes mencatat satu kesamaan: hubungan sosial yang sangat erat dan nyata sepanjang hidup mereka. Ia mencontohkan Giovanna Marras, 101 tahun, yang tinggal bersama saudarinya. "Mereka hidup bersama, memasak bersama, dan berbicara satu sama lain dengan mudah. Tidak ada tanda-tanda penurunan kognitif," tuturnya.
Wali Kota Bolotana, Francesco Manconi, menawarkan teori lain. Ia menyebut kombinasi pola makan bersih, lingkungan alam yang belum tercemar, dan aktivitas fisik. "Orang tua selalu berjalan kaki banyak, bisa sampai 20 km sehari. Dan sebagian besar adalah perempuan," katanya kepada Corriere della Sera. Ia juga menambahkan bahwa warga tetap menikmati kue tradisional seperti seada dan mustazzolus.
"Yang penting adalah untuk pertama kalinya dalam lebih dari 25 tahun, kami menemukan tempat longevity di luar zona biru konvensional. Di sini, longevity perempuan justru dominan." โ Giovanni Mario Pes, peneliti utama
Fenomena Bolotana juga menyoroti tren global: jumlah centenarian di Italia telah meningkat dua kali lipat sejak 2009. Hingga November 2025, terdapat 23.548 penduduk Italia berusia 100 tahun atau lebih, naik 2.000 dari tahun sebelumnya. Perempuan mendominasi kelompok usia 105 tahun ke atas (semi-supercentenarian) dan 110 tahun ke atas (supercentenarian).
Bagi Indonesia, temuan ini relevan mengingat populasi lansia yang terus bertambah. Badan Pusat Statistik mencatat sekitar 10% penduduk Indonesia akan berusia di atas 60 tahun pada 2030. Pelajaran dari Bolotana โ pentingnya interaksi sosial, pola makan, dan aktivitas fisik โ dapat menjadi masukan bagi kebijakan kesehatan lansia dan pengembangan komunitas ramah usia. Namun, faktor genetik dan lingkungan spesifik tetap menjadi variabel yang sulit direplikasi.
Ke depan, pertanyaannya apakah model Bolotana dapat diadopsi di tempat lain, ataukah longevity ekstrem hanya mungkin terjadi di kantong-kantong budaya dan geografis tertentu. Penelitian lanjutan diharapkan mengungkap mekanisme di balik fenomena ini, sekaligus menguji apakah intervensi sosial dan gaya hidup dapat memperpanjang usia harapan hidup secara signifikan.



