Nobel Kimia 2026 untuk Kagan dan Soai: Rahasia Molekul Cermin dan Masa Depan Obat
Baca dalam 60 detik
- Henri B Kagan dan Kensō Soai meraih Nobel Kimia 2026 atas temuan efek nonlinier dan autokatalisis dalam sintesis organik asimetris.
- Penemuan mereka menjelaskan bagaimana reaksi kimia dapat menghasilkan satu bentuk cermin molekul secara dominan, seperti yang terjadi pada molekul kehidupan.
- Terobosan ini membuka jalan bagi produksi obat yang lebih aman dan efektif, sekaligus menjawab teka-teki asal usul homokiralitas di alam.

Royal Swedish Academy of Sciences di Stockholm, Rabu (7/10/2026), menganugerahkan Nobel Kimia 2026 kepada Henri B Kagan dari Université Paris-Sud, Prancis, dan Kensō Soai dari Tokyo University of Science, Jepang. Keduanya diakui atas penemuan efek nonlinier dan autokatalisis dalam sintesis organik asimetris—fondasi yang menjelaskan bagaimana reaksi kimia bisa menghasilkan satu bentuk cermin molekul secara berlimpah, sebuah fenomena yang selama ini menjadi misteri dalam ilmu kehidupan.
Penghargaan senilai 12 juta krona Swedia (sekitar Rp18,6 miliar) akan dibagi rata kepada kedua ilmuwan. Bagi dunia farmasi, temuan ini bukan sekadar prestasi akademik. Molekul-molekul yang memiliki dua bentuk cermin—disebut kiral—memiliki perilaku biologis yang bisa berbeda jauh. Satu bentuk bisa menyembuhkan, sementara pasangannya justru menimbulkan efek samping berbahaya. Contoh klasiknya adalah thalidomide, obat mual ibu hamil pada awal 1960-an yang menyebabkan ribuan bayi lahir cacat karena perbedaan efek antara kedua bentuk cerminnya.
Kagan memulai terobosan pada 1986. Ia mengamati bahwa ketidakseimbangan kecil pada katalis dapat menghasilkan kelebihan salah satu bentuk cermin produk secara signifikan. Soai kemudian melangkah lebih jauh dengan mengembangkan reaksi di mana molekul yang dihasilkan bertindak sebagai katalis bagi pembentukan dirinya sendiri—proses yang disebut autokatalisis. Pada 2003, Soai mendemonstrasikan reaksi yang hampir secara eksklusif menghasilkan satu bentuk cermin, meniru homokiralitas yang menjadi ciri khas molekul kehidupan.
Prof Andre Cobb, kimiawan organik dari King's College London, menegaskan bahwa perbedaan bentuk cermin molekul sangat krusial dalam desain obat. "Banyak protein target obat bersifat kiral, sehingga versi 'kidal' dan 'kidal' dari obat dapat berinteraksi secara berbeda dengan tubuh," ujarnya. Sementara itu, Prof Peter Somfai dari Lund University, anggota komite Nobel, menyebut eksperimen Soai sebagai "eksperimen paling keren dalam kimia organik." Menurutnya, penemuan ini telah "membentuk ulang pemahaman kita tentang kiralitas molekuler, bagaimana ia diciptakan, diperkuat, dan ditransmisikan."
Soai, 76 tahun, mengaku sangat bangga karena eksperimennya menawarkan penjelasan potensial tentang asal usul homokiralitas kehidupan. Ia menggambarkan momen mendengar kabar penghargaan sebagai salah satu hari paling mendebarkan dalam hidupnya. Temuan ini kini menjadi alat penting dalam pengembangan katalis di berbagai industri, meski sulit melacak obat spesifik mana yang lahir darinya. "Semua obat yang ada saat ini menggunakan pemahaman ini," kata Somfai.
Bagi Indonesia, implikasi temuan ini menyentuh sektor farmasi dan riset kimia. Dengan industri obat dalam negeri yang terus tumbuh, penguasaan sintesis asimetris dapat mendorong produksi bahan baku obat yang lebih efisien dan aman, mengurangi ketergantungan impor. Pusat riset seperti BRIN dan universitas-universitas mitra berpeluang mengadopsi metode Kagan-Soai untuk mengembangkan katalis lokal, khususnya dalam produksi obat generik bermutu tinggi. Namun, tantangannya adalah investasi infrastruktur laboratorium dan sumber daya manusia yang mumpuni.
Ke depan, pertanyaan besarnya: mampukah dunia sains memanfaatkan sepenuhnya prinsip homokiralitas untuk menciptakan generasi obat baru yang lebih personal dan minim efek samping? Nobel Kimia 2026 menegaskan bahwa kendali atas molekul cermin bukan lagi utopia, melainkan kunci menuju terapi yang lebih presisi.



