Lula Kembali Berkuasa di Brasil, Flávio Bolsonaro Tolak Akui Kekalahan
Baca dalam 60 detik
- Luiz Inácio Lula da Silva memenangkan putaran kedua pemilihan presiden Brasil dengan 51,79% suara, mengalahkan Flávio Bolsonaro yang meraih 48,21%.
- Flávio Bolsonaro menolak menerima hasil dan meminta pembatalan, mempertanyakan keputusan hakim agung yang memperpanjang waktu pemungutan suara.
- Kemenangan Lula menjadi pukulan bagi Donald Trump yang mendukung kubu Bolsonaro, sementara para pemimpin dunia telah memberi selamat.

Luiz Inácio Lula da Silva resmi terpilih kembali sebagai Presiden Brasil setelah meraih 51,79% suara dalam putaran kedua pemilihan presiden, mengalahkan senator Flávio Bolsonaro yang memperoleh 48,21%. Kemenangan ini menandai comeback politik luar biasa bagi Lula, yang kini berusia 80 tahun, dan menjadikannya presiden pertama dalam sejarah Brasil yang berhasil menduduki kursi kepresidenan untuk keempat kalinya.
Menurut Pengadilan Pemilihan Tinggi Brasil, selisih suara mencapai sekitar 4,4 juta, memberikan mandat yang cukup kuat bagi Lula untuk melanjutkan agenda pengentasan kemiskinan dan pengurangan ketimpangan yang menjadi fokus kampanyenya. Namun, hasil ini tidak serta-merta diterima oleh kubu lawan. Flávio Bolsonaro, putra sulung mantan Presiden Jair Bolsonaro, menolak mengakui kekalahan dan menyerukan pembatalan hasil pemilu.
Flávio, yang berusia 45 tahun, mempertanyakan keputusan hakim agung yang ditunjuk Lula untuk memperpanjang waktu pemungutan suara selama dua jam pada hari Minggu malam, dengan alasan dugaan pelanggaran transportasi pemilih. Sikapnya ini mengingatkan pada reaksi ayahnya, Jair Bolsonaro, yang juga menolak kekalahan pada pemilu 2022 dan kemudian dijatuhi hukuman 27 tahun penjara karena merencanakan kudeta untuk tetap berkuasa.
Kemenangan Lula juga memiliki implikasi internasional yang signifikan. Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang sebelumnya berharap Flávio Bolsonaro dapat menjadi sekutu di Amerika Selatan, belum memberikan komentar hingga berita ini diturunkan. Sebaliknya, sejumlah pemimpin dunia telah menyampaikan ucapan selamat kepada Lula, mengakui pentingnya stabilitas demokrasi di Brasil.
"Kemenangan ini adalah bukti bahwa demokrasi Brasil tetap kokoh, meskipun menghadapi tantangan berat," ujar seorang pejabat tinggi Brasil yang tidak ingin disebutkan namanya.
Bagi Indonesia, hasil pemilu Brasil ini dapat menjadi cermin bagaimana dinamika politik di negara demokrasi besar berpengaruh terhadap kebijakan global, terutama dalam isu perubahan iklim dan kerja sama Selatan-Selatan. Brasil di bawah Lula diperkirakan akan kembali aktif mendorong agenda lingkungan hidup, yang sejalan dengan posisi Indonesia dalam forum internasional.
Dengan masa jabatan yang akan dimulai awal 2027, pertanyaan besar kini muncul: akankah Flávio Bolsonaro mengikuti jejak ayahnya yang berakhir di penjara, atau akankah ia memilih jalur konstitusional? Sementara itu, dunia menantikan apakah Lula mampu membawa Brasil keluar dari polarisasi politik yang mendalam dan memenuhi janji kesejahteraan bagi rakyatnya.



