Obat ADHD Diharapkan Atasi Kabut Otak Menopause, tapi Bukti Klinis Masih Terbatas
Baca dalam 60 detik
- Dua obat ADHD, lisdexamphetamine dan atomoxetine, menunjukkan perbaikan fungsi eksekutif pada perempuan usia 45–60 tahun yang mengalami kabut otak menjelang menopause.
- Namun, perbaikan hanya terlihat pada laporan subjektif pasien, sementara tes kognitif objektif tidak menunjukkan perubahan signifikan.
- Para ahli menyerukan uji klinis lebih besar dan beragam untuk memastikan efektivitas dan keamanan jangka panjang sebelum obat ini diresepkan secara luas.

Perempuan yang memasuki masa perimenopause kerap mengeluhkan kabut otak—kesulitan fokus, mudah lupa, dan menurunnya ketajaman berpikir. Sebuah tinjauan awal yang dipresentasikan dalam Pertemuan Tahunan The Menopause Society 2026 menawarkan harapan baru: dua obat yang biasa digunakan untuk gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (ADHD) berpotensi meredakan gejala tersebut. Namun, para peneliti dan dokter spesialis menegaskan bahwa bukti masih terlalu dini untuk menarik kesimpulan pasti.
Studi yang dipimpin Jennifer Tat, kandidat doktor di University of Tennessee Health Science Center, menganalisis data dari riset-riset sebelumnya tentang efek lisdexamphetamine (LDX) dan atomoxetine (ATX) pada kognisi dan keparahan gejala ADHD. Fokusnya adalah perempuan cisgender berusia 45–60 tahun yang siklus menstruasi terakhirnya kurang dari sepuluh tahun lalu. Kedua obat tersebut bekerja dengan meningkatkan kadar dopamin dan norepinefrin di korteks prefrontal, area otak yang berperan dalam memori kerja dan fleksibilitas berpikir.
Hasilnya, baik LDX (stimulan) maupun ATX (non-stimulan) dilaporkan meningkatkan fungsi eksekutif yang diukur melalui kuesioner mandiri. “Kabut otak adalah pengalaman sehari-hari perempuan: kehilangan alur pikiran, sulit tetap terorganisir, dan merasa kurang tajam di tempat kerja,” ujar Tat. Ia menambahkan bahwa perbaikan terutama terlihat pada memori kerja. Temuan ini mendukung hipotesis bahwa penurunan estrogen berkontribusi pada kabut otak dengan menekan sinyal neurotransmiter yang sama.
Meski demikian, ketika peneliti melihat hasil tes kognitif objektif—seperti uji memori kerja dan perhatian berkelanjutan—tidak ada perbedaan signifikan antara kelompok yang mendapat obat dan plasebo. “Kami belum bisa mengatakan obat ini secara terukur meningkatkan kognisi,” kata Tat. Ia menduga tes laboratorium standar mungkin tidak menangkap kesulitan dunia nyata yang dialami perempuan, sehingga skala laporan mandiri tetap penting meskipun hanya mengukur persepsi fungsi, bukan perubahan kognitif objektif.
Kanchi Chadha, dokter spesialis kebidanan dan ginekologi serta direktur Midlife Women’s Health and Longevity Center di Hackensack University Medical Center, New Jersey, menyambut baik arah penelitian ini. “Hampir 60% pasien perimenopause saya mengeluhkan perubahan kognitif yang mengganggu. Sangat melegakan melihat riset klinis yang secara langsung menyasar kabut otak, apalagi kita belum punya obat yang disetujui FDA untuk kondisi ini,” ujarnya. Ia menilai pendekatan yang menyamakan gejala kabut otak dengan ADHD cukup cerdas dan dapat menjadi jalan keluar bagi perempuan yang kesulitan menjalani aktivitas harian.
Chadha menjelaskan bahwa fluktuasi estrogen yang tajam selama transisi menopause mengganggu jalur katekolaminergik—khususnya dopamin dan norepinefrin—di korteks prefrontal. Obat ADHD seperti LDX dan ATX dirancang untuk memodulasi jalur yang sama. “Dengan meningkatkan neurotransmiter tersebut, obat-obatan ini mungkin membantu melawan perubahan neurobiologis akibat kehilangan estrogen, sehingga meringankan perasaan subjektif disfungsi eksekutif,” jelasnya. Namun, ia menekankan perlunya uji acak terkontrol multisenter yang lebih besar untuk menetapkan keamanan dan efektivitas jangka panjang pada perempuan paruh baya.
Meski kabut otak menopause biasanya bersifat sementara dan tidak mengarah pada demensia, Chadha mengingatkan bahwa gejalanya muncul tepat saat perempuan berada di puncak karier dan tanggung jawab pribadi. “Ini menyebabkan stres dan kecemasan luar biasa, serta dapat mengganggu penghidupan dan kepercayaan diri. Pilihan pengobatan saat ini sangat terbatas, dan menemukan terapi non-hormonal yang aman adalah kunci agar kita tidak hanya menyuruh perempuan untuk ‘bertahan’,” tegasnya.
Ke depan, Tat berencana mempublikasikan tinjauan ini agar klinisi dapat menyaring gejala ADHD pada perempuan paruh baya dan mempertimbangkan obat-obatan tersebut ketika terapi hormon bukan pilihan. Ia juga berharap penelitian ini memicu uji independen yang lebih besar, melibatkan perempuan dengan ADHD, menguji methylphenidate, dan membandingkan obat ADHD dengan terapi hormon. Pertanyaannya, apakah temuan awal ini akan berujung pada standar pengobatan baru, atau justru mengungkap bahwa kabut otak menopause memerlukan pendekatan yang sama sekali berbeda?


