Tri Tito Satukan Raker Dekranas, PKK, dan Posyandu: Efisiensi Anggaran atau Sekadar Simbol?
Baca dalam 60 detik
- Tri Tito Karnavian menggabungkan rapat kerja Dekranas, TP PKK, dan TP Posyandu dalam satu forum terpadu untuk pertama kalinya.
- Langkah ini diklaim menghemat anggaran dan memperkuat koordinasi antarlembaga yang selama ini berjalan terpisah.
- Keberhasilan integrasi akan diuji oleh kemampuan menghasilkan program yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat.

Ketua Harian Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) yang juga Ketua Umum Tim Penggerak PKK dan Tim Pembina Posyandu, Tri Tito Karnavian, mengambil langkah tak biasa dengan menyatukan rapat kerja tiga lembaga pemberdayaan masyarakat ke dalam satu forum. Inisiatif yang diklaim pertama kali terjadi ini digadang-gadang sebagai terobosan efisiensi anggaran, tetapi sekaligus memicu pertanyaan tentang seberapa besar penghematan yang benar-benar dihasilkan.
Dalam Rapat Penguatan Tata Kelola Lembaga Dekranas, TP PKK, dan TP Posyandu se-Indonesia Bagian Tengah di Bali Sunset Road Convention Center, Denpasar, Kamis (22/10), Tri menyatakan bahwa penggabungan forum merupakan upaya menyatukan tiga tanggung jawab kelembagaan yang diemban secara ex-officio oleh para pendamping kepala daerah, dari tingkat provinsi hingga kabupaten/kota. "Jadi ini baru kali pertama untuk tiga lembaga ini rapat kerjanya dijadikan satu, harapannya lebih efisien dan tentunya tidak mengurangi makna dari rapat kerjanya," ujarnya.
Efisiensi anggaran menjadi kata kunci yang diusung. Namun, pernyataan Tri belum disertai angka konkret mengenai besaran penghematan yang bisa diraih dari penggabungan rapat kerja tersebut. Publik pun menanti transparansi ihwal berapa biaya perjalanan dinas, akomodasi, dan konsumsi yang ditekan melalui forum terpadu ini. Tanpa data yang terukur, klaim efisiensi berisiko menjadi sekadar retorika politik anggaran.
Yang menarik, forum ini juga dihadiri Kementerian Dalam Negeri, Kementerian PPN/Bappenas, dan Badan Gizi Nasional. Kehadiran tiga institusi strategis itu menunjukkan bahwa integrasi rapat bukan sekadar penghematan di tingkat operasional, melainkan bagian dari upaya menyelaraskan kebijakan pusat-daerah. Dukungan regulasi dan penganggaran daerah menjadi krusial karena selama ini program PKK dan Posyandu kerap terhambat oleh keterbatasan fiskal di daerah.
Tri menegaskan bahwa penyatuan forum tidak berhenti pada konsolidasi organisasi. Ia berharap forum tersebut mampu melahirkan inovasi dan program yang relevan dengan kebutuhan dasar masyarakat. "Yang pasti nanti tetap akan menghasilkan ke depannya program-program yang pastinya harus memberikan manfaat untuk masyarakat," terangnya. Pernyataan ini seolah menjawab kekhawatiran bahwa efisiensi justru mengorbankan kualitas program.
Di sisi lain, pengamat kebijakan publik menilai langkah penggabungan rapat merupakan praktik lazim dalam reformasi birokrasi, tetapi efektivitasnya sangat bergantung pada desain kelembagaan. Menurut analis, tanpa mekanisme monitoring yang jelas, penggabungan forum bisa berujung pada hilangnya fokus masing-masing lembaga. Dekranas memiliki mandat pengembangan kerajinan, PKK bergerak di pemberdayaan keluarga, sementara Posyandu fokus pada kesehatan ibu dan anak. Ketiganya memiliki karakteristik program yang berbeda.
Apresiasi Tri terhadap para kader di daerah juga menjadi sorotan. Ia meyakini kolaborasi lintas lembaga menjadi modal penting untuk memajukan perajin, memperkuat ketahanan keluarga, dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Namun, di lapangan, para kader PKK dan Posyandu masih menghadapi tantangan klasik: minimnya insentif, beban administrasi, dan keterbatasan sarana. Efisiensi anggaran di tingkat pusat seharusnya tidak berujung pada pemangkasan sumber daya yang selama ini menopang kerja-kerja mereka.
Ke depan, ujian sesungguhnya bukan pada seberapa sering rapat digabung, melainkan seberapa nyata dampak program yang dihasilkan. Jika integrasi ini hanya memindahkan biaya dari satu pos ke pos lain tanpa perbaikan tata kelola, maka publik berhak mempertanyakan nilai tambahnya. Sebaliknya, bila forum terpadu mampu menghasilkan kebijakan yang lebih terkoordinasi dan tepat sasaran, langkah Tri Tito bisa menjadi model bagi kementerian dan lembaga lain. Pertanyaannya, akankah efisiensi ini berhenti di ruang rapat atau benar-benar menyentuh dapur rumah tangga dan meja posyandu di pelosok negeri?



